Kumparan Logo

Minuman Energi Bisa Jadi Ancaman Bagi Jantung, Begini Penjelasan Ahli

kumparanFOODverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu menyusui minum minuman berenergi. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu menyusui minum minuman berenergi. Foto: Shutter Stock

Minuman berenergi kerap dipilih banyak orang karena rasanya yang manis, segar, dan sering hadir dengan berbagai rasa buah-buahan. Namun, di balik sensasi nikmatnya, ada bahaya serius yang perlu diwaspadai.

Menurut Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Christy Efiyanti, SpPD, FINASIM, konsumsi minuman energi secara berlebihan bisa menjadi “bom waktu” bagi kesehatan jantung, terutama pada anak muda. Hal ini disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Jantung Sedunia yang jatuh setiap 29 September.

dr Christy menjelaskan bahwa kasus gagal jantung akibat minuman energi bukanlah hal baru. Fenomena ini telah dilaporkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Banyak anak muda yang mengonsumsinya untuk menambah stamina saat bekerja atau beraktivitas.

"Salah satu kasus, pasien berusia 21 tahun mengalami gagal jantung setelah rutin mengonsumsi empat kaleng minuman energi setiap hari. Kandungan kafein dalam jumlah besar dapat memicu gangguan irama jantung yang berujung pada gagal jantung jika tidak segera ditangani,” katanya dikutip dari laman IPB University, Rabu (10/9).

Bahaya minuman energi juga dibuktikan lewat penelitian internasional. Studi yang dipublikasikan di Heart Rhythm pada Juni 2024 menemukan bahwa konsumsi minuman energi dapat memicu aritmia jantung pada pasien dengan penyakit jantung genetik.

Dilansir dari Mayoclinic, berdasarkan penelitian terhadap lebih dari 5.000 pasien di Mayo Clinic Windland Smith Rice Genetic Heart Rhythm Clinic, ditemukan tujuh pasien yang mengalami henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest/SCA) setelah mengonsumsi minuman energi. Beberapa di antaranya memiliki sindrom QT panjang, gangguan irama jantung langka, hingga fibrilasi ventrikel.

Ilustrasi minuman energi dalam kemasan kaleng Foto: dok. Irish Examiner

"Jantung bereaksi terhadap kadar kafein tinggi dan bahan kimia lainnya. Besarnya kadar dan kombinasi bahan kimia dalam minuman energi dapat mengejutkan jantung yang rentan dan memicu irama jantung yang berpotensi mematikan, berujung pada henti jantung mendadak maupun kematian mendadak," ujar peneliti utama, Michael J. Ackerman, ahli genetika kardiologi di Mayo Clinic, Rochester, Minnesota, sekaligus direktur Mayo Clinic Windland Smith Rice Genetic Heart Rhythm Clinic.

Ackerman menambahkan, risiko ini lebih besar daripada yang diperkirakan. Karena itu, kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan agar konsumsi minuman energi tidak melewati batas aman.

Selain kafein yang bisa mencapai 80-300 mg per sajian (bandingkan dengan secangkir kopi seduh 8 ons yang mengandung sekitar 100 mg), sebagian besar minuman energi juga ditambah bahan perangsang lain seperti guarana dan taurina yang tidak diawasi oleh Food and Drug Administration (FDA).

Banyak produk bahkan menargetkan remaja, padahal mereka termasuk kelompok yang rentan. Kurangnya informasi dosis pada label bisa membuat konsumen tidak sadar mengalami overdosis kafein, meskipun kasus ini jarang.

Ilustrasi minuman berenergi atau energy drink. Foto: Shutterstock

Ackerman menegaskan bahwa minuman energi sama sekali tidak memiliki manfaat kesehatan. "Risiko absolutnya memang sangat rendah. Namun risiko relatif pada jantung yang rapuh lebih tinggi. Jadi, bagi pasien dengan sindrom QT panjang atau penyakit jantung genetik lain yang berkaitan dengan kematian jantung mendadak, dosis yang tepat dari minuman energi berkafein tinggi adalah 0. Tidak ada alasan untuk mengambil risiko ketika tidak ada manfaat yang bisa diperoleh."

Hingga kini, diperkirakan 1 dari 200 orang memiliki penyakit jantung genetik tanpa menyadarinya. Itu sebabnya edukasi menjadi sangat penting. "Kita perlu menanyakan kepada pasien mengenai penggunaan suplemen dan konsumsi minuman energi. Selama ini hal itu jarang diperhitungkan, padahal masuk akal untuk ditanyakan,” ujar Ackerman.

Kebiasaan Anak Muda Perparah Risiko

dr Christy mengingatkan, bahaya minuman energi akan semakin parah bila dikombinasikan dengan gaya hidup tidak sehat yang banyak dijalani anak muda, seperti bergadang, konsumsi makanan cepat saji, merokok atau vape, serta jarang berolahraga semakin meningkatkan risiko gangguan jantung.

"Olahraga rutin adalah kunci yang sering dianggap klise, padahal justru itulah penyelamat hidup. Dengan berolahraga, kita bisa menjaga fungsi jantung sekaligus mencegah sarkopenia dan osteoporosis di usia tua,” kata dia.

Menurutnya, menjaga kualitas hidup harus dimulai dari hal-hal sederhana namun konsisten: pola makan sehat, olahraga rutin, cukup minum air putih, menghindari gaya hidup sedentari, menjauhi obesitas, serta tidak merokok.

“Tidak ada tawar-menawar untuk hidup sehat. Itu investasi seumur hidup agar jantung tetap prima, hati tetap sehat, dan tubuh terbebas dari risiko penyakit kronis," jelasnya.