Kumparan Logo

Riset: Warga Amerika Konsumsi Makanan Cepat Saji buat Atasi Stres Selama Pandemi

kumparanFOODverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi burger Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi burger Foto: Shutter Stock

Makanan cepat saji sudah sejak lama menjadi ikon kuliner Amerika. Hal ini juga yang membentuk kebiasaan pola makan buruk bagi warga di Negara Paman Sam itu. Amerika cenderung memiliki banyak persentase atas obesitas hingga penyakit kronis lainnya. Terlebih, sejak pandemi banyak warganya yang mengonsumsi makanan cepat saji bukan karena lapar, melainkan guna menghilangkan stres.

Mengutip WXYZ Detroit, sebuah studi dalam MDPI menunjukkan 52 persen orang Amerika telah mengonsumsi lebih banyak makanan ringan dan makanan penutup yang tidak sehat sejak awal pandemi, sehingga menjadi perhatian utama bagi para ahli kesehatan.

Seperti salah satu warga Michigan, Phillip Bauman yang merupakan laki-laki berusia 32 tahun ini mulai rutin mengonsumsi makanan cepat saji. Awalnya, ia memiliki pola makan yang sehat, namun setelah pandemi muncul ia mulai beralih ke makanan cepat saji.

“Menurut saya adalah depresi sesaat, mungkin ketika kamu di rumah, kamu bosan, jadi apa lagi yang bisa dilakukan.” Begitulah rata-rata jawaban warga yang seringkali mengonsumsi makanan cepat saji saat ini.

Ilustrasi makanan cepat saji Foto: dok.shutterstock

Ahli gizi Dr. Mark Mincolla mengatakan bahwa tingkat stres yang muncul selama dua tahun terakhir menjurus kepada orang yang lebih banyak mengemas kalori tidak sehat.

“Mereka mencari komponen adiktif, makanan adiktif, gula, junk food, pati, dan menjadi kecanduan kepuasan instan yang cepat,” ujar Mincolla.

Sementara ahli gizi (weight-loss dietitian) lain asal Michigan Kristy Stevenson juga mengatakan, bahwa makanan cepat saji adalah sesuatu yang bisa dimakan namun tidak bernutrisi sama sekali.

“Dalam makanan cepat saji telah mengandung gula, lemak, natrium. Yang kemudian meningkatkan kondisi komorbid, tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung," ungkap Kristy.

Mincolla menambahkan tingkat obesitas naik 20 persen dari populasi saat ini. Dalam 10 tahun yang lalu obesitas memiliki nilai 6 persen dan seketika naik menjadi 20 persen; adalah hal yang luar biasa dan banyaknya asupan karbohidrat menjadi salah satu faktornya.

Ilustrasi junk food Foto: dok.Shutterstock

Namun, jika kamu memang merasa bosan selama pandemi, maka sebenarnya masih banyak hal yang bisa dilakukan daripada mengonsumsi makanan cepat saji yang kurang baik untuk kesehatan.

Mengutip Mayo Clinic, terdapat beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk mengalihkan pikiran kamu agar tidak bosan. Misalnya, mengumpulkan camilan sehat agar kamu tidak tergiur dengan makanan manis, asin, dan sebagainya.

Selain mengonsumsi camilan sehat, kamu juga perlu tidur yang cukup agar badan terasa segar di pagi hari saat bangun. Menjaga pola hidup sehat tidak sampai di situ saja, namun kamu perlu melakukan aktivitas olahraga untuk mengurangi stres, lho.

Melakukan olahraga ringan seperti meditasi sangat membantu misalnya, yoga. Kemudian, jika kamu suka hang out atau bersantai dengan teman-teman, usahakan jauhi rokok atau minuman alkohol juga. Lantaran hal itu bisa membuat kamu kecanduan dan lebih parahnya lagi terkena penyakit baru.

Penulis: Ade Naura Intania