Sabatini's: Menyantap Makanan Italia Kontemporer di Atas Kapal Pesiar

Ingatan saya seketika langsung memainkan adegan makan malam mewah Jack dan Rose di film Titanic, ketika memasuki Sabatini's, salah satu restoran andalan Sapphire Princess Cruise. Nuansa kental ala Italia kuno --dengan pilar-pilar tinggi, lukisan penuh seni, dan lampu kuning berpendar-- membuat suasana makan malam jadi terasa makin elegan.
Apalagi, atmosfer restoran malam itu tampak lengang, hanya terdengar sayup-sayup alunan musik klasik yang jadi latar suara obrolan saya dan rekan jurnalis lainnya.
"Mau pesan apa? Kami punya berbagai hidangan pasta yang jadi menu ikonik. Ada juga berbagai hidangan laut segar," ungkap sang pramusaji sambil menyodorkan menu ke saya.
Menyajikan berbagai hidangan yang terinspirasi dari seni kuliner Tuscany, Italia, Sabatini's menjadi salah satu restoran andalan atau specialty dining yang dimiliki oleh kapal pesiar Princess Cruise.
Executive chef-nya didatangkan langsung dari Italia. Tak hanya menghadirkan sepiring hidangan dengan teknik masak mumpuni, ia juga membawa resep keluarga yang diwariskan turun temurun. Tak heran, kalau Sabatini's berulang kali dinobatkan sebagai restoran di kapal pesiar terbaik, seperti "Best Cruise Ship Specialty Restaurants" dari USA Today.
Untuk bersantap di Sabatini's, penumpang kapal harus merogoh kocek tambahan sebesar USD 29, atau setara dengan Rp 395 ribu per orang. Ada tiga jenis menu yang bisa dipilih; appetizer, pasta, dan main course. Tersedia pula berbagai jenis wine yang bisa dipesan, dengan tambahan biaya.
Santap malam saya dibuka dengan burrata alla panna con carpaccio di pomodori. Hidangan ini merupakan keju dari susu sapi dengan isian saus creamy yang lumer, disajikan di atas potongan tomat dan siraman dressing balsamic.
Gigitan pertama membuat saya spontan bergumam "Wah, kacau sih, ini kacau!"
Teksturnya amat lembut, mulur saat ditarik. Rasa kejunya begitu kuat dengan cecapan nan creamy. Sementara itu, dressing balsamic dan taburan merica membuatnya terasa agak asam menyegarkan. Semua rasa menyatu dengan seimbang. Baru hidangan pembuka, saya sudah dibuat terkesima.
Menu calamari fritter, alias cumi goreng tepung, menjadi hidangan pembuka kedua yang saya cicipi bersama rekan makan malam lainnya. Kali ini, saya tak bisa berkata-kata, cuma bisa mengambil sepotong demi sepotong tanpa henti.
Ini adalah cumi dengan tekstur paling empuk yang pernah saya cicipi. Tak ada sensasi kenyalnya sama sekali, begitu digigit langsung meleleh di mulut.
Balutan tepungnya yang tipis membuat tingkat kerenyahannya pas, garing, tapi enggak bikin eneg. Rasa gurih yang tipis membayangi tiap cecapannya.
Saya kembali bertemu dengan kesegaran hidangan laut dalam hidangan insalata di gamberi, finocchi e cannellini --itu nama makanannya. Hidangan ini merupakan udang yang dimarinasi dengan bumbu spesial, fennel parut, white beans, dan siraman white truffle oil.
Saat digigit, udangnya terasa empuk, juicy, dan sangat segar. Tak ada rasa dan aroma amisnya sama sekali. Tekstur kacang polongnya empuk, melengkapi tiap suapan dari udang. Siraman saus white truffle oil memberikan sensasi gurih yang menggelitik, tanpa merusak rasa asli dari udang.
Setelah dimanjakan dengan tiga hidangan appetizer sekaligus, tiba saatnya saya mencicipi hidangan utama. Karena sedang berada di atas laut, yang pertama kali terlintas dalam pikiran adalah seafood.
Langsung saja, saya memesan menu tris d'aragosta; sajian lobster dalam tiga variasi; ekor lobster, lobster orzotto (semacam risotto yang terbuat dari gandum barley), dan lobster bisque (saus creamy yang terbuat dari rebusan lobster).
Lobster orzotto memiliki tekstur yang lembek dan agak bergerindil karena adanya campuran cacahan lobster. Rasanya hampir mirip keju; creamy, agak gurih, tapi juga ada sedikit rasa pahit dari lobster.
Dagingnya berukuran besar dan tebal, dan sesuai dugaan, teksturnya empuk dan legit! Ada cecapan manis yang tersisip dalam tiap gigitannya.
Selain lobster, ada juga bistecca toscana. Satu porsi steak ini disajikan dalam porsi besar, 283 gram! Daging striploin Australian beef ini dibalut dengan rempah rosemary, bawang putih, dan minyak zaitun ekstra virgin.
Irisan steaknya minim lemak, dengan tingkat kematangan medium rare. Bagian dalamnya masih terlihat segar dan juicy.
Selayaknya ciri khas masakan Italia yang bumbunya tak begitu kuat, sensasi gurih dari steak ini cukup ringan dan tak mendominasi.
Jamuan makan malam terasa makin istimewa dengan berbagai hidangan penutup lezat, seperti tiramisu al cioccolato; tiramisu berbalut cokelat dengan tampilan nan cantik.
Atau, kalau kurang suka dengan cokelat, ada menu torta profumata ai imoni di sorrento; cake rasa lemon dengan esens balsamic, bercita rasa manis asam menyegarkan.
Semua hidangan sudah tandas, namun obrolan saya dan rekan media lainnya masih terus berlanjut. Ditemani segelas wine pilihan, menikmati malam yang masih panjang, di atas kapal yang tengah membawa kami dari Singapura menuju Selat Malaka.
Sabatini's berhasil menciptakan sensasi bersantap di atas kapal pesiar yang berkesan. Sungguh sebuah pengalaman yang menyenangkan!
