Semangat Dua Chef Muda di Bali Padukan Bahan Bumi dan Tradisi Prancis
·waktu baca 3 menit

Semakin banyak restoran yang memadukan bahan hasil bumi Indonesia dengan tradisi memasak luar negeri. Salah satunya adalah restoran Lulu Bistrot di Canggu, Bali yang dipimpin oleh dua chef muda Indonesia, Austin Milana dan Airin Eddy.
Restoran ini menggambarkan gabungan dari warisan, passion, dan kreativitas dari kolaborasi sang kepala koki dan sous chef. Mereka mencoba membentuk kembali wajah kuliner Nusantara dengan gaya Prancis.
Austin memulai perjalanan kulinernya di Surabaya sebelum mengasah keterampilan di Skool Kitchen dan Bartolo, restoran saudara Lulu. Kecintaannya pada dining yang kasual —di mana hubungan dengan tamu terasa lebih dekat— berakar dari keluarganya.
“Dengan ayah asal Filipina dan ibu asal Indonesia, makanan selalu menjadi pusat kehidupan saya,” ujar Austin, seperti dikutip dari siaran resmi yang kumparanFOOD terima, Jumat (24/10). “Ayah saya memasak hidangan gurih dan asam, sementara masakan ibu penuh dengan rempah. Sejak kecil, itu sudah menjadi pelajaran untuk lidah saya.”
Sementara itu, sang sous chef, Airin, dibentuk oleh perpaduan antara warisan keluarga dan pendidikan profesional. Terinspirasi dari sang nenek, seorang pembuat kue yang mewariskan resep tradisional, ia kemudian mendalami seni kuliner dan berlatih di Dewakan, Malaysia.
“Di sana saya belajar bukan hanya teknik, tapi juga filosofi di balik makanan —mulai dari memilih bahan di pasar hingga mengubah sesuatu yang sederhana menjadi hidangan yang berkelas,” jelas Airin.
Keberagaman latar belakang dari keduanya kini tertuang dalam menu Lulu. Mereka menginterpretasikan kembali tradisi Prancis dengan sentuhan bahan lokal Indonesia. Seperti bourguignon dengan air kelapa, beurre blanc dengan kluwek, hingga sole meunière dengan ikan kerapu lokal adalah sebagian dari kreasi mereka.
“Kesegaran selalu jadi prioritas,” tegas Austin. “Terutama seafood, yang sangat bergantung pada hasil tangkapan hari itu.”
Bagi Airin, inspirasi juga datang dari bahan asli Indonesia seperti nangka, salah satu favoritnya. “Waktu pelatihan fine dining, saya pernah melihat nangka diolah menjadi teh dan itu sangat menginspirasi saya. Suatu hari, saya ingin mengeksplorasi nangka dalam kuliner Prancis untuk menunjukkan bagaimana sesuatu yang sederhana bisa jadi istimewa,” tuturnya.
Tahun ini kerja keras tim Lulu kembali mendapat pengakuan dengan masuknya Lulu dalam daftar Tatler 20 Best of Indonesia 2025, sebuah penghargaan tahunan baru yang merayakan restoran-restoran terbaik di Tanah Air.
Bagi kedua koki, penghargaan ini bukan hanya kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab yang besar. “Yang tersulit bukan hanya meraih kesuksesan, tapi juga mempertahankannya —menjaga konsistensi kualitas dan standar sambil tetap berkembang,” ujar Austin. Airin pun menambahkan, “Bagi saya, ini menjadi motivasi untuk terus belajar dan mencurahkan lebih banyak hati dalam setiap hidangan.”
Ke depan, Lulu Bistrot terus merayakan perpaduan antara warisan dan inovasi —menciptakan dialog yang terus berkembang antara tradisi Prancis, hasil bumi Indonesia, dan para chef yang menghidupkannya.
“Melihat Austin dan Airin memimpin dapur dengan penuh dedikasi sangat berarti. Penghargaan ini bukan hanya milik mereka, tapi juga cerminan dari apa yang kami bangun setiap hari di Lulu,” pungkas Rafael Nardo, Founder Lulu Bistrot.
Restoran ini sendiri biasa menyajikan masakan kepada pelanggan dari Senin sampai Jumat pukul 17.00 Wita hingga larut malam. Sementara pada akhir pekan, mereka mulai buka pada pukul 11.00 Wita untuk brunch hingga larut malam.
