Kumparan Logo

Studi: Cara Menipu Otak agar Lebih Suka Sayuran

kumparanFOODverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi sayuran. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sayuran. Foto: Pixabay

Sayuran memang mengandung beragam nutrisi yang baik bagi tubuh, namun tak semua orang suka menyantapnya. Bagi beberapa orang, cita rasa dari sayuran dianggap kurang nikmat, membuat tak berselera.

Jumlah asupan sayuran harian yang direkomendasikan pun jadinya tak terpenuhi. Akibatnya, tubuh kekurangan nutrisi, dan tak bisa berfungsi dengan maksimal.

embed from external kumparan

Ternyata, ketidak sukaan terhadap sayuran juga bisa dipengaruhi oleh genetik, lho. Jill Patterson, ahli gizi dan nutrisionis tersertifikasi dari Connecticut menjelaskan, 25 persen dari populasi orang di dunia memiliki indera pengecap yang lebih tajam. Pemilik gen 'supertaster' ini akan mengalami sensasi rasa yang lebih kuat, terutama saat mencecap rasa pahit.

Imbasnya, mereka cenderung jadi pemilih dalam menyantap makanan, dan tidak suka banyak sayuran; seperti bayam, brokoli, serta kubis.

embed from external kumparan

Seperti dikutip dari Huffington Post, faktor psikologis juga ternyata bisa mempengaruhi ketidak sukaan kita pada sayuran.

Sebagai contoh, kalau seseorang dipaksa untuk makan brokoli saat masih anak-anak, mereka akan memandang brokoli sebagai sesuatu yang negatif, dan tak akan menyantapnya saat dewasa.

Otak kita bisa beradaptasi untuk makan lebih banyak sayuran

Kendati rasa tak suka tersebut telah melekat dalam pikiran kita, namun sejatinya kita bisa melatih diri sendiri untuk makan lebih banyak sayuran, lho. Berpikir positif mengenai sayuran akan 'menipu' otak supaya mau mengonsumsinya.

Misalnya, orang justru akan lebih tertarik menyantap sayuran ketika deskripsi rasa dan teksturnya lebih ditonjolkan. Alih-alih hanya menyebut kandungan nutrisinya, lebih baik bikin ngiler dengan mendeskripikan rasa dan teksturnya.

Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Internal Medicine pada tahun 2017, sebanyak 25 persen responden memilih untuk makan kacang hijau ketika sayuran ini dideskripsikan menjadi; 'kacang hijau yang manis dan legit'. Terdengar lebih menggugah, bukan?

Ilustrasi Sayuran Foto: Dok.Pixabay

Penelitian lain berjudul The convergence of psychology and neurobiology in flavor-nutrient learning pada tahun 2018 mengungkapkan, ketertarikan untuk menyantap sayuran akan meningkat saat kita melihat adanya peningkatan kesehatan usai memakannya. Konsep ini bisa membantu seseorang melihat sayuran dalam sudut pandang yang lebih positif.

Selain itu, Patterson menyarankan untuk mencoba bereksperimen dengan berbagai resep, rasa, dan cara mengolah sayuran.

"Mungkin kamu lebih suka sayuran yang dimasak, yang masih mentah, atau menggunakan resep tertentu. Temukan mana yang paling kamu suka, dan selalu sisipkan hidangan itu sebagai menu makanan harianmu," tandasnya.

embed from external kumparan