Kumparan Logo

Suasana Restoran, Kafe, dan Supermarket di Bali Imbas Merebaknya Virus Corona

kumparanFOODverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Salah satu kafe di Petitenget, Bali Foto: Azalia Amadea/Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu kafe di Petitenget, Bali Foto: Azalia Amadea/Kumparan

Sejak berita terkait virus corona merebak di Indonesia, tampaknya sejumlah aspek, termasuk pariwisata khususnya, merasakan dampak yang cukup hebat. Tak terkecuali restoran dan tempat makan di sejumlah daerah wisata dinilai ikut sepi.

Menurut pantauan kumparan selama berada di Bali sekitar enam hari, kami mengunjungi beberapa restoran, tempat makan, bahkan supermarket. Atmosfer sepi imbas dari merebaknya virus corona awalnya tak terlalu terasa. Beberapa kafe yang kami kunjungi tampak ramai-ramai saja.

Okamura Bali misalnya, diungkapkan Tsutomu Obe perwakilan management Okamura Indonesia mengatakan, restorannya tak mengalami dampak yang signifikan akibat merebaknya pemberitaan virus tersebut.

"Oh, kami enggak terlalu merasakan dampak dari coronavirus itu sendiri. Soalnya, restoran kami pengunjungnya kebanyakan warga sekitar dan bule lokal yang memang sudah tinggal di sini," ungkapnya saat berbincang dengan kami, Rabu (4/3).

Okamura Bali Foto: Azalia Amadea/Kumparan

Hal yang sama juga dirasakan oleh Jamie Najmi (43) dan Nieta Pricillia (41) pemilik usaha Mazaraat Cheese, keju lokal asal Yogyakarta yang kerap menerima pesanan dari hotel-hotel di Bali.

"Corona enggak ngaruh karena kami ini industri kecil, rumahan. Kami enggak terpengaruh oleh perubahan-perubahan makro seperti itu," ungkap Jamie.

Nieta Pricillia, pemilik Mazaraat Cheese Foto: Azalia Amadea/Kumparan

Mereka yang terkena imbas virus corona

Meskipun ada yang mengaku tak terpengaruh oleh isu virus corona ini, di sisi lain ada saja dari mereka mengatakan kalau restorannya sepi hingga penjualannya menurun.

Imbas besar corona paling dirasakan Wijaya (50) pemilik rumah makan Warung Wijaya Soto dan Bakso Sapi yang berlokasi di Jalan Raya Kuta. Tamunya berkurang hingga 100 orangan per hari.

Warung Wijaya Soto dan Bakso Sapi, Bali Foto: Azalia Amadea/Kumparan

"Biasanya sebelum virus corona itu heboh tamu yang datang berkisar 500 orang per hari. Semenjak itu sekarang, ya rata-rata per hari cuma 400 tamu yang makan. Itu yang makan di tempat dan bungkus, ya," tegasnya.

Buka cuma tempat makan tradisional seperti milik Wijaya, Rev Bistro yang merupakan restoran khas Prancis juga menyatakan cukup terkena imbasnya. Dikatakan salah satu pelayannya --yang tak mau disebutkan namanya itu-- restoran ini sempat sepi sampai sekitar dua mingguan.

Meskipun begitu, saat kami sambangi Rev Bistro kini sudah mulai ramai kembali. Bahkan restorannya penuh pengunjung asal wisatawan asing. Terdengar mereka berasal dari Jepang, Italia, sampai Prancis, termasuk masih diminati oleh warga lokal.

Rev Bistro, Bali Foto: Azalia Amadea/Kumparan

Penurunan penjualan juga diduga dirasakan oleh Ayu Linggih, pendiri Rosalie Cheese Bali. Ayu mengungkapkan kalau saat ini dirinya belum bisa menggambarkan pasti apakah isu virus corona ini berpengaruh besar terhadap penjualan kejunya.

"Untuk sales pengaruhnya di bali itu baru akan berasa akhir Maret, ya mungkin ada penurunan, tapi saya belum bisa memastikan lebih lanjut," ucapnya.

Event Time & Terroir di Bali Foto: Azalia Amadea/Kumparan

Meskipun agak dibuat ketar-ketir oleh merebaknya virus corona di Indonesia, Ayu mengaku sejauh ini memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan bonding dengan karyawannya. Ia juga berencana menggunakan waktu ini untuk berbenah pabrik, dan melakukan sejumlah kegiatan internal lainnya.

Selain memantau restoran, tempat makan, kafe, dan menanyakan kepada para pengusaha FnB, kami juga memperhatikan salah satu supermarket favorit wisatawan asing di Bali. Frestive namanya.

Frestive Supermarket Kerobokan, Bali Foto: Azalia Amadea/Kumparan

Supermarket yang berada di Jalan Raya Kerobokan ini tampak ramai saja. Segerombolan anak muda hingga orang dewasa juga sibuk berbelanja. Mereka tampak santai di tengah merebaknya pemberitaan corona yang kian luas.

Dari pengakuan beberapa pengusaha kuliner di Bali tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa virus corona memang cukup membawa dampak bagi usaha mereka. Namun di sisi lain, masih ada orang yang bisa melewatkan hari-hari mereka dengan tenang tanpa perlu dipusingkan oleh isu penyakit Covid-19 tersebut.

embed from external kumparan