Teh Masih Menjadi Minuman Favorit Kedua Masyarakat Indonesia Setelah Air Putih
·waktu baca 3 menit

Memperingati Hari Teh Internasional setiap 21 Mei, rupanya minuman ini masih menjadi suguhan favorit masyarakat Indonesia dalam melepas dahaga. Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS 2023–2024, menunjukkan bahwa teh merupakan minuman kedua yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia setelah air putih.
Masuknya budaya minum teh tidak terlepas dari ketersediaan bahan yang melimpah di negeri ini. Tapi, kebiasaan teh menjadi minuman sehari-hari masyarakat Indonesia justru dibawa oleh Belanda ke tanah Jawa.
Menurut Dr. Ir. Murdijati-Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, mengisahkan kepada kumparanFOOD, minuman teh secara ekstensif dikenalkan melalui jalur Maluku saat Belanda hendak berdagang rempah-rempah.
Sehingga pada saat itu, tepatnya abad 17 atau sekitar tahun 1600-an, Belanda membawa tanaman teh ke Batavia (Jawa) melalui Pantai Sukabumi. Di sana, ditanamlah tanaman teh pertama yang kemudian menurut ajaran bangsa India, sangat cocok dikembangkan di Jawa Barat.
"Karena mereka mengembangkan teh secara ekstensif di Jawa Barat, maka sebetulnya yang lebih dulu secara ekstensif minum teh di Indonesia itu, ya orang Jawa Barat, yang akhirnya menyebar ke Sumatera, Jawa Tengah, dan Jawa Timur," terang Prof. Mur, panggilan akrabnya, saat kumparan hubungi melalui sambungan telepon, Rabu (20/1).
Teh hingga kini menjadi warisan minuman Tanah Air yang terbukti berdasarkan riset Roy Morgan (Single Source-Indonesia); mengungkapkan bahwa teh menjadi salah satu kebutuhan rutin rumah tangga Indonesia dan tersedia 95-97 persen di dapur keluarga.
Bukan Sekadar Dipetik, Butuh Ketelitian Dalam Menyajikan Teh
Tak sedikit orang mungkin beranggapan bahwa proses produksi teh berawal dari memetik pucuk daun, mengeringkan, dan menyeduhnya dengan air panas. Padahal, proses untuk memproduksi teh berkualitas dengan cita rasa maksimal butuh ketelitian dan kerumitan yang cukup panjang.
Mulai dari kondisi alam, kegiatan pemeliharaan tanaman, cara pemetikan, hingga penanganan setelah panen menjadi faktor penting yang menentukan karakter akhir teh yang dihasilkan.
Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), faktor seperti ketinggian lahan, suhu udara, curah hujan, dan kelembapan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman teh serta profil rasa yang dihasilkan.
“Dalam industri teh, pertumbuhan yang lebih lambat justru dianggap ideal karena memberi tanaman lebih banyak waktu untuk membentuk senyawa alami seperti polifenol, asam amino, dan minyak esensial. Senyawa inilah yang berperan dalam menciptakan aroma yang kaya, lapisan rasa yang lebih mendalam, serta karakter seduhan yang halus,” kata Devyana Tarigan, Head of Marketing Communications & Public Relations PT Sinar Sosro Gunung Slamat, seperti dikutip dari siaran resmi yang kumparan terima, Kamis (21/5).
Devyana menambahkan, “Menghasilkan teh dengan cita rasa yang konsisten juga membutuhkan ketelitian manusia dalam menentukan daun teh muda mana yang dipetik, kapan waktu terbaik untuk memetik, hingga bagaimana daun teh muda diperlakukan setelah dipetik sehingga memenuhi standar layak olah.”
Bak mutiara di hamparan lahan hijau, daun mudah tersebut menjadi bagian yang harus paling dijaga. Oleh karenanya, mereka minuman teh seperti Sosro masih mempertahankan teknik manual. Setelah dipetik juga baiknya daun teh tidak dibiarkan lama. Hal ini untuk menjaga kesegaran dan profil aroma.
Bagi produsen minuman teh seperti Sosro, setiap tetes teh yang dinikmati sebaiknya tidak dihasilkan dari proses yang terburu-buru. Hal ini yang kemudian membuat perusahaan yang sudah ada sejak puluhan tahun itu menjadikan teh sebagai "Indonesian heritage".
Prof. Murdijati pun mengatakan, keberagaman varian teh Indonesia yang jumlahnya hingga puluhan jenis tersebar di berbagai daerah, menjadi bukti betapa minuman ini masih menjadi minuman favorit yang tak akan tergerus zaman.
