Tim Peneliti Amerika Ciptakan Aplikasi yang Deteksi Bakteri di Makanan

Ukurannya yang terlalu kecil menyebabkan bakteri mikroba tak bisa dilihat dengan kasat mata. Karena butuh alat bantu seperti mikroskop untuk melihat mikroba secara jelas.
Atas alasan ini juga, mikroba yang menempel pada makanan sulit diketahui, sehingga menyebabkan mikroba ikut masuk ke dalam tubuh. Jika sudah begini, maka kejadian keracunan makanan pun tak bisa terhindari akibat adanya kontaminasi silang antar makanan dengan mikroba.
Ya, mikroba memang menjadi penyebab utama keracunan makanan. Tak hanya rentan terjadi di negara berkembang, namun kasus ini juga kerap terjadi di negara maju seperti Amerika.
Oleh karenanya, demi mencegah terjadinya keracunan makanan, sebuah tim periset dari University of Massachusetts Amherst berhasil membuat sebuah perangkat smartphone yang dilengkapi dengan chip berukuran kecil. Perangkat ini bisa mendeteksi adanya bakteri yang menempel pada permukaan makanan.
Seperti dilansir The Daily Meal, perangkat ini berukuran cukup kecil, sehingga muat untuk disimpan di saku baju atau celana. Dirancang dengan teknologi mutakhir, alat ini dapat mendeteksi bakteri dalam jumlah yang sangat kecil sekalipun dengan menggunakan biosensor inovatif.

Meski berukuran kecil, namun chip tersebut dapat menangkap partikel nano dengan menampilkan titik yang terlihat pada layar smartphone. Semakin banyak bakteri yang tertangkap, maka semakin banyak titik yang akan muncul.
Tak hanya makanan, chip juga bisa mendeteksi bakteri pada jus, air minum atau cairan lainnya. Dibanderol dengan harga yang terjangkau, yaitu USD 30 atau setara Rp 350 ribu, alat ini bisa menyelamatkan kamu dari kontaminasi makanan.
Menurut Lili He, salah satu peneliti mengatakan bahwa kasus keracunan makanan sudah sejak lama disoroti oleh para ahli keamanan pangan di Amerika. "Kebanyakan orang di seluruh dunia memasak sayuran mereka sebelum dimakan, tapi di Amerika, lebih banyak orang yang mengkonsumsinya secara mentah," ujar Lili.
"Oleh sebab itu, masalah keracunan makanan menjadi perhatian nomor satu untuk keamanan pangan di Amerika," tambahnya.
Lili dan timnya berharap jika penemuannya ini bisa diterapkan di negara berkembang yang masih banyak ditemukan kasus keracunan makanan.
