Trump Izinkan Sedotan Plastik Lagi, Tuai Pro dan Kontra

26 Maret 2025 11:47 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Seorang perajin menunjukkan sedotan minuman yang terbuat dari tanaman purun (tumbuhan rawa). Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
zoom-in-whitePerbesar
Seorang perajin menunjukkan sedotan minuman yang terbuat dari tanaman purun (tumbuhan rawa). Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
ADVERTISEMENT
Belakangan ini, semakin banyak orang yang beralih ke alat makan ramah lingkungan, termasuk sedotan. Sedotan plastik yang dulu jadi pilihan utama kini mulai ditinggalkan karena dianggap mencemari lingkungan. Sebagai gantinya, sedotan kertas pun mulai banyak digunakan.
ADVERTISEMENT
Di Amerika Serikat, saat masih menjabat sebagai presiden, Joe Biden berjanji untuk menghapus penggunaan plastik dalam layanan makanan pemerintahan federal. Ia menargetkan plastik benar-benar dihilangkan dari pengadaan pada 2027.
Untuk mendukung kebijakan ini, pemerintahannya mendorong penggunaan sedotan kertas sebagai pengganti plastik sekali pakai. "Produksi dan limbah plastik meningkat dua kali lipat dalam dua dekade terakhir, mencemari lautan, meracuni udara di sekitar fasilitas produksi, dan mengancam kesehatan masyarakat," ujar pemerintahan Biden kala itu, seperti dikutip dari The New York Post, Rabu (26/3).
Namun, di bawah kepemimpinan baru, kebijakan ini berubah. Pada Februari lalu, Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang membatalkan larangan sedotan plastik.
“Aku akan menandatangani Perintah Eksekutif minggu depan untuk mengakhiri dorongan konyol Biden dalam penggunaan sedotan kertas, yang sama sekali tidak berfungsi,” tulis Trump di Truth Social.
com-Ilustrasi sedotan plastik. Foto: Shutterstock
Tak berhenti di situ, Trump pun kembali mengkritik kebijakan Biden sehari setelahnya. "MANDAT Joe yang Curang, ‘TIDAK ADA SEDOTAN PLASTIK, HANYA KERTAS’, SUDAH MATI! Nikmati minumanmu tanpa sedotan yang menjijikkan karena larut di mulut!!!" tulisnya.
ADVERTISEMENT
Keputusan ini langsung menuai pro dan kontra. Para aktivis lingkungan kecewa mendengar keputusan Trump. Salah satunya Karrie Laughton, pemilik Roc Paper Straws.
Ia mengaku panik saat mendengar pernyataan Trump. "Aku tidak pernah menyangka harus berjuang sekeras ini hanya demi sedotan, tapi aku akan terus berjuang," katanya kepada Wall Street Journal.
Namun, dia bukan orang yang mudah menyerah. Setiap minggu, Laughton menghabiskan beberapa malam untuk membalas kritik di media sosial yang mendukung sedotan plastik, dengan menegaskan bahwa sedotan kertas yang rapuh itu kemungkinan besar dibuat di luar negeri. Sedangkan produknya diklaim bisa bertahan hingga 24 jam.
Meskipun plastik sering dianggap merusak lingkungan, sedotan kertas juga punya kelemahan. Banyak orang mengeluhkan sedotan kertas yang mudah hancur dalam minuman. Bahkan Jon Stewart, pembawa acara The Daily Show, setuju dengan Trump dan menyebut sedotan kertas sebagai "sampah".
ADVERTISEMENT
Namun, tidak semua orang sependapat. Charlie Greenman, seorang warga New York, justru menikmati sensasi minum dengan sedotan kertas. Menurutnya, sedotan ini memberikan tantangan tersendiri karena harus segera menghabiskan minuman sebelum sedotannya larut.
Ilustrasi sedotan plastik dan stainless Foto: dok.shutterstock
Gerakan anti-plastik sendiri mulai populer sejak video viral seekor penyu dengan sedotan plastik tersangkut di hidungnya muncul satu dekade lalu. Sejak saat itu, berbagai kota mulai membatasi penggunaan sedotan plastik dan menggantinya dengan alternatif ramah lingkungan.
Namun, apakah sedotan kertas benar-benar lebih baik? Menurut Michael Smith, warga North Carolina, sedotan kertas bukanlah solusi sempurna. "Mereka memang lebih sedikit merusak lingkungan, tapi lebih sedikit bukan berarti tidak ada," ujarnya.
Bahkan, sebuah studi pada 2023 menemukan bahwa sedotan kertas bisa mengandung bahan kimia beracun PFAs atau "forever chemicals".
ADVERTISEMENT
Jadi, apa solusi terbaik? Smith punya jawaban sederhana: "Tinggalkan saja sedotan. Aku berusaha sebaik mungkin untuk tidak menggunakannya kecuali benar-benar perlu."
Jadi, gimana menurut pendapatmu?