Kumparan Logo

UGM Resmi Dirikan Pusat Kajian Kuliner dan Gastronomi Indonesia

kumparanFOODverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kuliner khas Indonesia. Foto: Kemenparekraf
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kuliner khas Indonesia. Foto: Kemenparekraf

Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Selasa (30/03), telah meresmikan Pusat Kajian Kuliner dan Gastronomi di Fakultas Teknologi Pertanian. Peresmian dan peluncuran pusat pengembangan kuliner UGM diadakan secara virtual.

Dalam undangan tersebut turut hadir Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno. Menurut Sandi, inovasi pembukaan pusat gastronomi dan kajian kuliner adalah ide yang cemerlang. Apalagi di tengah pandemi, sterilisasi dan kebersihan tiap produk makanan serta minuman harus benar-benar terkualifikasi keamanannya.

"Sistem sertifikasi CHSE yaitu Cleanliness, Healthy, Safety, dan Environment Sustainability diterapkan dalam Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dengan adanya pusat kajian kuliner dan gastronomi, diharapkan bisa memenuhi standar CHSE ini, sehingga bisa mewujudkan rasa aman, nyaman, dan kepercayaan bagi pelanggan," papar Sandi dalam webinar Gastronomi Indonesia: Soft Power yang Powerful dalam Membangun Kesejahteraan Bangsa.

Sandiaga Uno dalam webinar Launching Pusat Kajian Kuliner dan Gastronomi di Fakultas Teknologi Pangan, UGM. Foto: Dok.UGM/Webinar YouTube

Tak lupa, ia menuturkan kalau langkah inovasi yang diusung oleh UGM, dapat memajukan pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia. Nantinya, diharapkan akan ada kolaborasi dari kedua pihak, guna mendorong kuliner Indonesia semakin dikenal oleh masyarakat global.

Era modern seperti saat ini, gastronomi tentu menjadi penting. Proses pemilihan sampai penyajian makanan dan minuman menjadi seni dalam dunia kuliner. Adapun hubungan yang kuat antara kuliner dan kebudayaan makan yang ada di Indonesia.

Hal ini semakin dipertegas oleh Dr. Ir. Supriyadi, M.Sc. Ketua PK2GI. Menurutnya, produk kuliner adalah hasil dan ciri khas dari setiap kebudayaan. Tentunya beragam kebudayaan yang ada di negeri ini, akan menciptakan nuansa dan budaya makan yang berbeda pula. Hal ini pula yang menjadi akar dari didirikannya Pusat Kajian Kuliner dan Gastronomi.

Gedung Pusat UGM. Foto: ugm.ac.id

"Melalui kuliner, akan menggambarkan karakter masyarakat Indonesia yang beragam. Misal, bagaimana orang-orang Jogja lebih menyukai makanan manis, sedangkan di Minangkabau, Sumatera Barat, cenderung lebih menyukai rasa makanan yang pedas," tuturnya.

Melihat Indonesia juga kaya akan ketersediaan rempah-rempah, pun dengan biodiversitasnya. Sangat disayangkan bila kekayaan alam itu tidak dikelola semaksimal mungkin. Adanya pusat gastronomi kuliner tanah air, diharapkan bisa menjadi wadah edukasi serta mewariskan gastronomi Nusantara pada dunia.

Prof Dr. Ir Murdijati-Gardjito dalam webinar Launching Pusat Kajian Kuliner dan Gastronomi di Fakultas Teknologi Pangan, UGM. Foto: Dok.UGM/Webinar YouTube

Tak lupa, Prof Dr. Ir Murdijati-Gardjito ikut menegaskan bahwa ia sangat bersyukur telah dibangun Pusat Kajian Kuliner dan Gastronomi di tanah air.

"Pariwisata di zamrud khatulistiwa adalah impian tiap orang. Kuat kaitannya dengan kuliner di Indonesia. Apalagi ketika dikemas menjadi sebuah bentuk gastronomi," tutup Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada itu.

Reporter: Balqis Tsabita Azkiya

kumparan post embed