kumparan
3 November 2019 16:52

Tumbuk Ageng: Peringatan 80 Tahun Pakar Kuliner Murdijati Gardjito

Tumbuk Ageng , Prof Dr Ir Murdijati Gardjito dia adalah Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Ir Murdijati Gardjito. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Suasana akrab terpancar di taman sebuah restoran Erista Garden, Jalan Kaliurang KM 17,5 Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Minggu (3/11).
ADVERTISEMENT
Mendung yang menggelayuti lereng Gunung Merapi, tak menyurutkan kehangatan dalam Tumbuk Ageng peringatan usia 80 tahun Murdijati Gardjito dalam penghitungan kalender Jawa.
“80 tahun, 10 windu. Mengapa saya memperingati hari ini karena pada hari ini, hari yang pasarannya tepat kelahiran saya, tanggal dan bulannya sama, nama tahunnya (5 Maulud, Tahun Wawu) juga sama dengan tahun kelahiran saya,” ujar Murdijati.
Nama lengkapnya Prof Dr. Ir Murdijati Gardjito, dia adalah Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM). Sejak 2003 Murdijati telah meneliti makanan di Indonesia. Terutama makanan tradisional yang selalu menarik perhatiannya.
Tumbuk Ageng , Prof Dr Ir Murdijati Gardjito dia adalah Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Suasana Tumbuk Ageng peringatan usia 80 tahun Mudijati Gardjito. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Lanjutnya, makanan mempunyai peranan penting dalam hidup manusia. Tidak hanya sekadar memberi rasa puas, makanan juga memberikan kenikmatan lain. Makanan menjadi sarana komunikasi, ekspresi perasaan, dan keinginan serta harapan.
ADVERTISEMENT
“Saya sebagai bagian masyarakat Indonesia dapat melestarikan kuliner ini. Karena kuliner itu di samping memberi kenikmatan dan kepuasaan dia juga memberikan misi dapat dipakai untuk berkomunikasi apakah horizontal, apakah vertikal. Jadi, semacam ini makanan bisa untuk atraksi tapi bisa juga untuk suguhan,” katanya.
Perempuan kelahiran 21 Maret 1942 ini mengatakan, makanan merupakan simbol dan lambang dari bermacam peristiwa. Tak dapat dipungkiri makanan memiliki makna penting dalam kehidupan manusia, sejahtera lahir dan batin.
Tumbuk Ageng , Prof Dr Ir Murdijati Gardjito dia adalah Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Suasana Tumbuk Ageng peringatan usia 80 tahun Mudijati Gardjito. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Seperti saat ulang tahunnya ini, ia juga menyuguhkan keluarga dan kerabatnya makanan tradisional; seperti empat jenis tumpeng yang syarat akan makna. Pun makanan rumahan seperti enting-enting gepeng, kembang gula jahe, lanting, enting-enting bulat, kue satu kacang hijau, koyah asem, keciput, emping kagung, serta angleng dihidangkan bersama minuman ekstrak bunga telang dan teh wangi.
ADVERTISEMENT
Tak ketinggalan pula disajikan makanan kegemaran raja-raja Keraton Ngayogyakarta; seperti brongkos ayam yang jadi kegemaran Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dan bethak ayam yang merupakan makanan favorit Sultan Hamengku Buwono VII dan IX.
Di usianya yang sudah sepuh, Murdijati juga tak henti berkarya. Didampingi 20 asistennya, Murdijati terus memberi edukasi soal makanan khas Indonesia; salah satunya dengan buku Pusaka Cita Rasa Indonesia. Ia pun yakin makanan khas Indonesia merupakan warisan dunia yang sarat akan makna.
Tumbuk Ageng , Prof Dr Ir Murdijati Gardjito dia adalah Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Ir Murdijati Gardjito (tengah). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

“Saya optimis bahwa kuliner Indonesia merupakan bagian penting dari gastronomi dunia. Jadi, kita semua harus bangga mempersembahkan ke kancah dunia karena yang lain enggak punya seperti ini, sehingga kita kaya sekali sebagai bangsa,” ujar dia.

ADVERTISEMENT
Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Eni Harmayani yang hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa, Murdijati merupakan aset Indonesia. Di tengah keterbatasan menurunnya pengelihatan, Murdijati tidak pernah menyerah berkarya dan membagi ilmu kulinernya.
“Jadi beliau adalah lulusan pertama Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Jadi beliau ini adalah sesepuh kami. Nah, dalam kaitannya dengan Tumbuk Ageng ini saya kira beliau ini sangat memperhatikan bagaimana warisan budaya tradisi yang baik dari budaya Jawa ini bisa dilestarikan. Beliau sangat konsen sekali dengan filosofi dari tradisi Jawa yang sayang kalau tidak disampaikan ke generasi berikutnya,” kata Maya.
Maya mengatakan, Murdijati merupakan tipe guru yang mau berlari dengan muridnya. Hal ini menjadi pelecut motivasi bagi murid-muridnya. Mereka akan malu, jika tidak mampu mengikuti ide-ide Murdijati yang futuristik.
Prof. Dr. Ir. Murdijati-Gardjito
Prof. Dr. Ir. Murdijati-Gardjito, penerima Lifetime Achievement Award Ubud Food Festival 2019 Presented by ABC. Foto: Dok. Ubud Food Fest/Vifickbolang
“Beliau adalah aset bagi bangsa Indonesia untuk menggali, dan melestarikan, serta mengembangkan makanan tradisional ini. Sebagai istilahnya, mutiara bagi bangsa kita yang kita sendiri juga harus bisa mengembangkan,” kata dia.
ADVERTISEMENT
Bukan tanpa alasan, Maya meminta generasi muda untuk belajar makanan tradisional. Ada berbagai manfaat yang diambil selain pangan sendiri, ada juga manfaat kesehatan, budaya, pendidikan, sampai ekonomi.
“Jadi dimensinya adalah sangat luar biasa itu yang beliau mulai sebagai Kepala Pusat Kajian Makanan Tradisional di UGM selain sebagai dosen di Fakultas Teknologi Pertanian. Beliau juga menulis dan mendokumentasikan, dan menyosialisasikan dengan berbagai komunitas dan generasi. Peneliti senior, kami sangat membutuhkan beliau,” pungkas Maya.
Sementara itu, putra ketiga Murdijati, Aditya Purawardana menjelaskan ketertarikan ibundanya akan kuliner memang terlihat sejak dahulu. Dia juga salut dengan semangat sang ibu di tengah keterbatasan fisik.
“Buat saya yang masih bisa ngelihat saja tidak bisa nulis buku. Ibu itu nulis buku kaya bikin kue tiga bulan keluar satu, tiga bulan lagi keluar satu. Itu sesuatu yang istimewa."
ADVERTISEMENT
“Kalau nulisnya senang dari dulu. Dulu bangun pagi ibu di meja makan sudah nulis. Enggak pernah pakai salah, ngalir saja sudah berapa halaman. Ada apa ide, itu langsung ambil kertas nulis. Nulis di HVS gitu saja, dahulu kan tidak ada komputer,” ungkapnya.
Aditya berharap, di usia ke 77 atau 80 berdasarkan kalender Jawa, sang ibu senantiasa diberi kesehatan. Sebagai anak, Aditya mengaku akan mendukung ibundanya untuk terus menelurkan karya terutama di bidang kuliner.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan