Warga Singapura Kini Punya Pilihan Makanan Baru: Ada Ulat hingga Jangkrik
·waktu baca 3 menit

Di Indonesia, kuliner ekstrem seperti serangga mungkin sudah biasa ditemukan di beberapa wilayah. Masyarakat Indonesia memiliki berbagai cara untuk mengolah serangga menjadi makanan yang lezat.
Dalam tradisi kuliner di Indonesia, serangga sering kali digoreng kering sebagai camilan yang gurih dan kaya protein, atau dijadikan bumbu untuk menyempurnakan cita rasa hidangan khas di setiap daerah.
Sama seperti di Indonesia, kini penggemar kuliner di Singapura juga mungkin akan mulai terbiasa menemukan makanan dari serangga di berbagai tempat. Baru-baru ini, Badan Pangan Singapura (SFA) mengumumkan bahwa 16 spesies serangga telah diizinkan untuk dikonsumsi di negara tersebut.
Menurut SFA, serangga dan produk serangga dapat digunakan untuk konsumsi manusia atau sebagai pakan hewan ternak.
"SFA akan mengizinkan impor serangga dan produk serangga yang termasuk dalam spesies yang telah dinilai rendah kekhawatiran regulasinya," kata SFA dalam sebuah surat edaran yang ditujukan kepada pedagang makanan olahan dan pakan hewan di Singapura seperti dikutip dari Channel News Asia, Selasa (16/7).
Selain serangga, kepompong dari ulat sutera juga akan diizinkan untuk dikonsumsi, karena kepompong ulat sutera dihasilkan dari benang sutra yang terdiri dari dua jenis protein utama, yaitu serisin dan fibroin. Kepompong ulat sutera telah lama menjadi bagian dari kuliner di beberapa negara seperti China dan Malaysia.
Langkah SFA untuk mengizinkan serangga sebagai bagian dari makanan yang sah merupakan hasil dari evaluasi yang cukup panjang. SFA pertama kali melakukan konsultasi publik mengenai regulasi serangga dan produk serangga pada akhir 2022.
Pada bulan April tahun lalu, badan SFA mengatakan bahwa 16 spesies serangga akan menerima lampu hijau untuk dikonsumsi pada paruh kedua tahun 2023, tetapi keputusan itu ditunda. Awal tahun ini, SFA, dalam balasan surat forum di The Straits Times, mengatakan pihaknya sedang menyelesaikan rincian implementasi dan bertujuan untuk memperkenalkan kerangka regulasi pada paruh pertama tahun ini.
SFA juga mencatat bahwa Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) telah mempromosikan pertanian serangga komersial untuk konsumsi manusia dan pakan ternak. FAO menyebutkan banyak manfaat dari memakan serangga, termasuk kandungan nutrisinya yang tinggi, kebutuhan pakan yang rendah, dan emisi gas rumah kaca yang lebih sedikit. Ini menjadi cara yang berkelanjutan untuk memberi makan penduduk dunia.
Restoran di Singapura Bersiap Sajikan Serangga
Restoran di Singapura juga sudah bersiap-siap untuk menyajikan hidangan baru dari serangga. CEO House of Seafood, Francis Ng, mengungkapkan bahwa restorannya sudah mempersiapkan protokol kebersihan yang ketat untuk memastikan serangga yang digunakan aman untuk dikonsumsi.
Pada bulan Juni, para juru masaknya mulai terbiasa bekerja dengan serangga sebagai bahan makanan dan memastikan bahan tersebut aman untuk dimakan melalui pembersihan menyeluruh.
“(Langkah pertama bagi para koki kami adalah) membersihkannya, setelah itu mereka akan memanggangnya di oven,” katanya.
Dalam sebuah unggahan di Facebook, House of Seafood mengonfirmasi bahwa mereka sedang mempersiapkan menu baru berbasis serangga. Mereka menawarkan hidangan serangga tanpa biaya tambahan.
"Tidak akan ada biaya tambahan bagi Anda ketika memesan dari menu serangga kami karena kami menanggung semua biaya tersebut untuk mendukung inisiatif pemerintah dalam mempromosikan serangga sebagai pengganti protein," tulis mereka.
Budidaya serangga untuk makanan manusia dan pakan ternak telah dipromosikan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena manfaatnya sebagai bentuk protein yang berkelanjutan.
Jangkrik, belalang, dan ulat, misalnya, kaya akan protein. Serangga ini juga mengandung banyak antioksidan dan mineral termasuk zat besi, seng, tembaga, dan magnesium.
Berikut daftar 16 serangga yang disetujui untuk dikonsumsi di Singapura:
1. House cricket
2. Banded cricket
3. Common cricket
4. Two-spotted cricket
5. African migratory locust
6. American desert locust
7. Grasshopper
8. Superworm
9. Mealworm
10. Lesser mealworm
11. Greater wax moth
12. Lesser wax moth
13. Silk moth/Silkworm
14. Whitegrub
15. Giant rhino beetle grub
16. Western honey bee
