Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 ยฉ PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Yuba, Kulit Tahu yang Kaya Nutrisi dari Negeri Sakura
14 Desember 2018 9:33 WIB
Diperbarui 14 Maret 2019 21:04 WIB

ADVERTISEMENT
Tahu sudah lama dikenal sebagai makanan sehat yang kaya akan protein dan rendah kalori. Oleh karena itu, olahan kedelai ini kerap disajikan sebagai menu makanan sehari-hari, terutama bagi para vegetarian, atau orang-orang yang sedang menjalani program diet.
ADVERTISEMENT
Nah, bila kebanyakan orang mengkonsumsi bagian 'daging'-nya, ternyata tahu juga memiliki bagian kulit yang juga bisa disantap, lho! Bahkan, kulit tahu tersebut menjadi hidangan khas dari prefektur Kyoto, Jepang. Kulit tahu--atau nama Jepangnya, yuba--memiliki kandungan nutrisi yang tak kalah tinggi dibandingkan dengan tahu biasa. Lapisan tahu nan tipis ini tinggi akan protein, besi, serta rendah kolesterol.
Bukan hanya tampilannya yang cantik, proses pembuatannya pun tak kalah menarik. Susu kedelai dipanaskan hingga membentuk lapisan kulit di permukaannya (kita sering menyebutnya sebagai langit-langit), kemudian diambil menggunakan sumpit dengan hati-hati.
Dengan cita rasa yang cenderung hambar, yuba biasa dimasak menjadi berbagai macam menu, misalnya diberi topping jeli kaldu dan sedikit wasabi untuk hidangan appetizer, atau disajikan bersama jeli madu sebagai dessert.
ADVERTISEMENT
Dilansir Savvy Tokyo, terdapat tiga jenis yuba yang kerap disantap oleh orang Kyoto, yakni yuba segar, yuba kering, serta yuba beku.
Jenis yuba segar adalah lapisan permukaan susu kedelai yang baru saja diangkat, lalu langsung disantap. Karena cita rasanya yang hambar, biasanya ditambahkan berbagai bumbu mulai dari kecap asin, wasabi, hingga jahe. Teksturnya sangatlah halus dan sedikit kenyal, dengan sentuhan rasa manis dan kacang dari susu kedelai.
Sedangkan, yuba kering memiliki tekstur yang lebih renyah. Biasanya, olahan kulit tahu ini banyak dijual di berbagai supermarket dan disantap dengan cara mencampurnya bersama sajian sup atau rebusan.
Berbeda dengan kedua saudaranya, yuba beku punya tekstur yang lebih elastis. Namun, setelah dicairkan dan direbus, teksturnya akan melunak dan berubah mejadi lebih lembut, layaknya yuba segar.

Biasanya, dalam sekali pemanasan, susu kedelai dapat menghasilkan tujuh hingga delapan lapisan yuba. Dikutip dari NY Times, empat hingga lima lapisan pertama merupakan kulit dengan kualitas terbaik, sehingga lebih sering disantap langsung. Kemudian dua hingga tiga lapisan terakhir akan dikeringkan dan dikemas dalam plastik untuk dipasarkan.
ADVERTISEMENT
Proses pembuatannya yang alami membuat kulit tahu ini tidak tahan lama. Usai diangkat dari cairan susu kedelai, yuba sebaiknya segera disantap, atau untuk olahan kering dan beku hanya bisa bertahan selama lima hari.
Dengan kandungan nutrisinya yang tinggi dan baik bagi kesehatan, tak heran bila yuba menjadi makanan yang sering dikonsumsi oleh para biarawan yang memiliki pantangan menyantap daging hewan.