Kumparan Logo

25 Menit Standing Ovation di Venice untuk NAZA, Film Dokumenter soal Gaza

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Yuval Abraham. Foto: Instagram @yuval_abraham
zoom-in-whitePerbesar
Yuval Abraham. Foto: Instagram @yuval_abraham

Film dokumenter NAZA diganjar standing ovation tanpa henti selama 25 menit saat pemutaran perdananya di Venice Film Festival 2026. Film dokumenter ini membongkar penggunaan AI oleh militer Israel untuk menargetkan warga Palestina di Gaza.

Karya dokumenter berdurasi 80 menit ini disutradarai oleh dua sineas asal Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor. Mereka pernah mencatat prestasi gemilang memenangkan penghargaan Oscar 2025 lewat film dokumenter berjudul No Other Land.

Prestasi tersebut mereka raih bersama sutradara asal Palestina, Basel Adra dan Hamdan Ballal, melalui karya yang memotret aksi kekerasan pemukim Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat. Kini, Abraham dan Szor kembali menghadirkan karya investigatif yang menyoroti konflik di Gaza.

Jurnalis dan pembuat film Israel Yuval Abraham (kanan) dan jurnalis dan pembuat film Palestina Basel Adra menerima penghargaan pada ajang Academy Awards Tahunan ke-97 di Dolby Theatre, Beverly Hills, California, AS, Minggu (2/3/2025). Foto: Patrick T. Fallon/AFP

NAZA buah dari penyelidikan selama hampir tiga tahun. Narasi film ini disusun berdasarkan pengakuan langsung dari sejumlah personel militer serta sumber intelijen Israel yang berbicara dengan identitas yang dirahasiakan.

Demi melindungi para narasumber, wajah dan suara mereka disamarkan secara digital. Seluruh proses wawancara eksklusif tersebut juga diambil pada malam hari di atap-atap gedung di kawasan Tel Aviv.

Kepada kantor berita AFP, sutradara Yuval Abraham memaparkan urgensi dalam penggarapan film tersebut.

"Kami membiarkan para prajurit dan perwira berbicara langsung mengenai apa yang telah mereka lakukan," ujar Abraham.

Abraham menegaskan komitmennya untuk mengungkap fakta operasional di lapangan.

"Tujuannya sangat sederhana: kami ingin mendengar, sedetail mungkin, bagaimana wujud sistem pembunuhan di Gaza dan bagaimana sistem tersebut dijalankan," lanjutnya.

video youtube embed

Judul film ini, NAZA, berakar dari istilah eufemisme intelijen dalam bahasa Ibrani yang digunakan untuk merujuk pada estimasi jumlah warga sipil yang diproyeksikan akan tewas dalam sebuah serangan udara tertentu.

Dalam film, para saksi mendeskripsikan sebuah sistem berbasis AI bernama "Lavender", yang memproses data jaringan telekomunikasi di Gaza. Mulai dari percakapan telepon, pelacakan rute, hingga interaksi warga, untuk menetapkan target serangan.

instagram embed

Di balik layarnya, proyek dokumenter ini diproduksi oleh Jim Wilson asal Inggris bersama The Guardian. Kursi produser eksekutif diisi oleh sutradara Jonathan Glazer, yang sebelumnya memimpin tim produksi film pemenang Best Featured Internasional Oscar 2024, The Zone of Interest.

NAZA menjadi satu-satunya film dokumenter yang masuk dalam daftar kompetisi utama pada festival film bergengsi di Venice tahun ini.

Sambutan hangat ini menyusul capaian film dokumenter The Voice of Hind Rajab tahun lalu, yang sempat meraih standing ovation selama 23 menit sebelum akhirnya membawa pulang penghargaan gelar Second Prize di Venice Film Festival.