Kumparan Logo

5 Berita Populer: Film Animasi Merah Putih Tuai Kritik; BPI Kecewa

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Poster film animasi Merah Putih. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Poster film animasi Merah Putih. Foto: Dok. Istimewa

Film animasi Merah Putih: One For All menuai kritik banyak orang menjadi salah satu berita populer pada Senin (11/8). Selain itu, BPI kecewa melihat kualitas film animasi Merah Putih juga menjadi sorotan.

Berikut ini, kumparan telah merangkum sederet berita yang menyita perhatian sepanjang hari kemarin.

  1. Film Animasi Merah Putih Tuai Kritik, Produser: Komentator Lebih Pandai

instagram embed

Film animasi Merah Putih One For All menuai polemik jelang penayangannya pada tanggal 14 Agustus 2025. Film garapan Perfiki Kreasindo ini menuai kritik tajam usai trailer dirilis menjelang perayaan HUT ke-80 RI.

Dengan anggaran produksi yang diklaim mencapai Rp 6,7 M, publik menilai kualitas visualnya dianggap kaku dan belum maksimal, bahkan dibanding-bandingkan dengan film animasi lokal sukses seperti JUMBO.

Di tengah kritik tajam tersebut, produser film Merah Putih One For All, Toto Soegriwo, buka suara. Ia tampak santai menanggapi semua kritik terkait film Merah Putih.

"Senyumin aja. Komentator lebih pandai dari pemain," tulis Toto.

  1. Paman Jonathan Frizzy Yakin Keponakannya Dijebak di Kasus Vape Berisi Obat Keras

Artis Jonathan Frizzy. Foto: instagram/ @ijonkfrizzy

Paman aktor Jonathan Frizzy, Benny Simanjuntak, buka suara terkait kasus yang menerpa keponakannya. Benny mengatakan bahwa pria yang akrab disapa Ijonk itu hanya menolong temannya untuk mengambil jastip (jasa titip).

Benny menilai Ijonk dijebak dalam kasus tersebut. Dia bahkan mengaku tahu siapa yang menjebak keponakannya.

"Kalau saya pribadi, ini memang dijebak. Saya saya pribadi mengatakan ini dijebak ya. Ini dijebak dan saya tahu siapa yang jebak. Ya, saya tahu siapa yang jebak," ujar Benny ditemui di PN Kota Tangerang, beberapa waktu lalu.

Kata Benny, dirinya sempat beberapa kali bertemu dengan orang yang diduga menjebak keponakannya. Namun, dia tak ingin melangkahi proses hukum yang tengah berjalan.

"Karena berapa kali juga saya ketemu itu orang, saya sudah tidak feeling sama dia. Cuma ya, saya tidak mau menyangka," ujar Benny.

"Ini kan sudah masuk ke ranah hukum. Biar aja hukum yang membuktikan. Biar aja profesional hukum nanti yang berbicara, gitu loh. Dari mana, kenapa, siapa, ada apa. Gitu, itu aja," tambahnya.

  1. Animasi Merah Putih Disebut Tak Didanai Pemerintah, Hanung: Kok Buru-buru Tayang

Sutradara Film Rahasia Rasa, Hanung Bramantyo saat ditemui di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (22/1/2025). Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Film animasi Merah Putih One For All masih terus menuai kritik tajam. Film yang dijadwalkan tayang pada 14 Agustus 2025 itu dinilai kurang layak dalam hal kualitas visualnya. Bahkan film ini juga dibanding-bandingkan dengan film animasi JUMBO yang meraih kesuksesan dan menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa.

Film yang diproduksi oleh Perfiki Kreasindo ini juga mengklaim menghabiskan dana Rp 6,7 M dan proses produksi dilakukan dalam kurun waktu 1 bulan.

Hal tersebut langsung menuai kritik tajam dari Hanung Bramantyo. Sutradara berusia 49 tahun itu menyoroti anggaran produksi film yang dinilainya terlampau kecil untuk menghasilkan karya animasi berkualitas.

"Budget 7M untuk Film Animasi, potong pajak 13% kisaran 6M, sekalipun tidak dikorupsi, hasilnya tetap JELEK!!! FYI, Budget pembuatan Film Animasi minimal di 30-40M diluar Promosi. Dan dikerjakan dalam jangka waktu 4-5 tahun," tulis Hanung dalam postingan Threads miliknya.

Di tengah polemik yang terjadi, produser Merah Putih All for One, Toto Soegriwo, sempat mengatakan bahwa pihaknya tidak mendapat kucuran dana dari Pemerintah sepeser pun.

Pernyataan ini semakin memicu kegeraman Hanung. Ia mempertanyakan mengapa film tersebut bisa mendapat slot tayang di bioskop di tengah banyaknya antrean film-film Indonesia lainnya.

"Kenapa harus buru-buru tayang? Ironisnya, kok bisa dapat tanggal tayang di tengah 200 judul film Indonesia yang antre tayang? Kopet," tulis Hanung di IG Story.

  1. Yovie Widianto dan Kerisauannya pada Royalti Musik

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto mengikuti pelantikan dirinya sebagai Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Kreatif di Istana Negara, Jakarta, Selasa (22/10/2024). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO

Di tengah polemik mengenai hak royalti di industri musik, musisi Yovie Widianto seolah membawa oase kesejukan. Komposer yang telah melahirkan ratusan hits ini memandang karyanya sebagai jembatan rezeki bagi banyak orang.

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Kreatif ini tidak memandang persoalan royalti dengan kacamata tuntutan semata, melainkan dengan rasa syukur yang mendalam.

"Saya, sebagai komposer, semakin lagu saya bermanfaat bagi orang banyak, semakin lagu saya dibawakan oleh para pianis dan penyanyi, ini pribadi saja, saya merasa ada berkah yang besar, bahwa saya bisa berbagi penghasilan dengan teman-teman di sana," ujar Yovie Widianto, dalam sebuah diskusi, belum lama ini.

Bagi musisi berusia 57 tahun ini, perjalanan empat dekade di musik Indonesia adalah sebuah anugerah yang tak terhingga. Yovie menyadari bahwa sebutan hitsmaker ulung yang disematkan kepadanya bukan semata karena kehebatannya.

"Bayangkan, saya 40 tahun berkarya, 10 tahun jadi hitsmaker aja, itu sudah rezeki besar sekali. Itu bukan masalah saya pintar, jago, atau maestro, enggak, itu karena saya pencipta lagu atas karya-karya saya," tuturnya.

Sosok di balik Kahitna dan Yovie & Nuno ini menyebut rentetan karyanya yang melegenda, dari era Glenn Fredly hingga generasi Lyodra dan Ziva Magnolya, tak lepas dari campur tangan Tuhan dan dukungan banyak orang.

"Saya enggak membayangkan jadi hits terus. Itu pasti dari kasih sayang dan doa banyak orang di sekitar saya," jelas Yovie.

  1. BPI Kecewa Kualitas Film Animasi Merah Putih, Khawatir Cemari Citra Industri

Ketua Badan Perfilman Indonesia, Gunawan Paggaru. Foto: Badan Perfilman Indonesia

Film animasi Merah Putih One For All menuai kritik tajam dari masyarakat jelang penayangannya di bioskop pada 14 Agustus mendatang. Sejumlah warganet dan pelaku industri menilai film ini tidak mencerminkan standar kualitas animasi Indonesia yang belakangan tengah berkembang.

Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI), Gunawan Pagaru, buka suara soal polemik film animasi ini. Ia mengaku Perfiki Kreasindo selaku filmmaker tak pernah berkonsultasi dengan pihaknya terkait penayangan film animasi Merah Putih.

"Enggak ada (konsultasi). Justru saya tahu minggu-minggu ini aja, setelah ramai," ucap Gunawan Pagaru ketika dihubungi kumparan pada Senin (11/8).

Gunawan juga menyayangkan karena film ini berhasil mendapatkan waktu tayang, berdekatan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, kualitas film berdasarkan trailer yang telah rilis, sudah menunjukkan banyak kelemahan.

"Trailer itu kan kita sudah bisa baca. Apalagi aslinya. Trailernya itu sudah tidak beres, logikanya enggak jalan, jadinya kayak apa. Kalau minta tanggapan saya, justru sangat disayangkan. Sangat disayangkan muncul film seperti ini," tegasnya.

Gunawan mengaku khawatir, kehadiran film ini justru mengaburkan capaian positif animasi Indonesia yang tengah mendapat sorotan, seperti JUMBO.

"Takutnya muncul spekulasi, di mana industri animasi kita lagi bagus-bagusnya, dengan adanya JUMBO. Kalau saya concern-nya ke situ. Saya khawatir. Apalagi sebentar lagi keluar Panji Tengkorak. Itu bagus," tuturnya.

"Sesuatu kalau dibuat secara serius, ya mendekati bagus sih, pasti," tandasnya.