Kumparan Logo

Acha Septriasa Bintangi Air Mata Mualaf, Kisah Perempuan yang Berani Memilih

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Acha Septriasa hadir dalam jumpa pers Air Mata Mualaf di Senayan, Jakarta Pusat, Senin (27/10/2025). Foto: Vincentius Mario/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Acha Septriasa hadir dalam jumpa pers Air Mata Mualaf di Senayan, Jakarta Pusat, Senin (27/10/2025). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Tidak banyak film yang berani menampilkan perempuan bukan sebagai sosok yang mengikuti, tetapi sebagai sosok yang memilih. Film Air Mata Mualaf hadir membawa narasi berbeda: tentang perempuan yang berdiri di atas keyakinannya, meski keputusan itu berarti kehilangan kenyamanan dan menghadapi penolakan dari orang yang ia cintai.

Film drama religi ini mengangkat kisah Anggie (Acha Septriasa), seorang perempuan yang menghadapi titik terendah dalam hidup, bukan dengan menyerah, tetapi dengan bertanya pada dirinya sendiri: Siapa saya? Apa yang sebenarnya saya cari?

Film Air Mata Mualaf. Foto: Istimewa

Dari perjalanan batin itu, Anggie menemukan keyakinan baru yang membuatnya merasa utuh. Namun, pilihan tersebut justru menjadi ujian terbesar karena tak sejalan dengan harapan keluarganya.

Di film ini, konflik yang dihadirkan bukan tentang kebencian, tetapi cinta yang saling bertabrakan. Dewi Irawan yang berperan sebagai sosok ibunya Anggie tampak tidak siap dengan perubahan Anggie yang dianggap terlalu jauh dari nilai dan tradisi keluarga

Dari sini, Air Mata Mualaf menghadirkan potret intim bahwa cinta bisa hidup berdampingan dengan ketakutan, dan bahwa menghormati keluarga terkadang harus dimulai dengan menghormati diri sendiri.

Sudut Pandang Ibu: Bukan Menolak, Tapi Takut Kehilangan

Acha Septriasa mengakui karakter Anggie terasa personal baginya. Menurutnya, perempuan yang berbeda pilihan dari keluarga kerap dipandang sebagai pemberontak, padahal sering kali mereka adalah yang paling banyak merenung dan paling besar menyimpan cinta.

"Anggie tidak ingin melawan ibunya. Dia hanya ingin jujur pada hatinya. Dan menurut saya, itu salah satu bentuk keberanian perempuan yang paling kuat," kata Acha dalam keterangan resminya.

"Film ini untuk perempuan yang diam-diam sedang memperjuangkan sesuatu, entah keyakinan, prinsip, atau mimpi," imbuhnya.

Acha Septriasa di Film Air Mata Mualaf. Foto: Istimewa

Sementara itu, Dewi Irawan menyebut perannya sebagai salah satu karakter paling emosional dalam kariernya. Ia menggambarkan sang ibu bukan sebagai figur yang jahat, melainkan penuh kecemasan.

"Saya memerankan ibu yang takut. Takut anaknya berubah, takut ditinggalkan, takut gagal sebagai orang tua. Saya rasa banyak orang tua akan merasa relate," ujarnya.

Menurut Dewi, film Air Mata Mualaf mengajarkan bahwa cinta dan perbedaan bisa berjalan berdampingan kalau mau saling mendengar.

“Kadang kita menolak bukan karena benci, tapi karena panik," lanjut Dewi.

Acha Septriasa hadir dalam jumpa pers Air Mata Mualaf di Senayan, Jakarta Pusat, Senin (27/10/2025). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Air Mata Mualaf juga menempatkan konsep istikamah bukan semata sebagai istilah religius, tetapi sebagai kekuatan mental untuk bertahan di jalan yang diyakini.

Keteguhan di film ini bukan tentang bersikeras, melainkan tentang tetap lembut tanpa kehilangan pendirian, tetap mencintai tanpa kehilangan diri.

Disutradarai oleh Indra Gunawan, film ini dibintangi Acha Septriasa, Achmad Megantara, Dewi Irawan, Rizky Hanggono, serta aktor dari Indonesia, Malaysia, dan Australia.

Air Mata Mualaf akan tayang di bioskop Indonesia pada 27 November 2025 dan rilis di kawasan Asia Tenggara & Timur Tengah pada awal Desember 2025. Film ini juga akan tayang global di Netflix pada 2 April 2026.