Alasan Claresta Taufan Didapuk Jadi Rafah di Film Ratu Malaka
·waktu baca 2 menit

Artis Claresta Taufan didapuk berperan sebagai Rafah dalam film Ratu Malaka. Film ini diproduksi Visinema dan digarap oleh sutradara Angga Dwimas Sasongko.
Sejak draft awal Ratu Malaka, Angga merasa karakter Rafah butuh seorang pemain yang punya dua hal sekaligus, yakni kerapuhan yang jujur dan kekuatan yang tidak dibuat-buat.
"Dalam proses riset dan reading, Claresta adalah nama yang terus muncul karena dia punya kepekaan emosional yang sangat kuat," kata Angga kepada kumparan, Kamis (4/12).
Proses Pemilihan Claresta Taufan untuk Film Ratu Malaka
Sebelum memilih Claresta Taufan, pihak film Ratu Malaka melakukan screen test ke beberapa pemain. Namun, sejak pertemuan pertama, energi dan kedalaman Claresta sudah terasa selaras dengan perjalanan Rafah.
"Jadi bukan semata diplot sejak awal, tetapi lebih tepatnya karakter Rafah menemukan pemerannya," tutur Angga.
Rafah digambarkan sebagai sosok yang melalui trauma, transformasi, dan akhirnya mengalami kelahiran kembali. Untuk memerankan karakter itu, seorang aktor tidak cukup hanya kuat secara fisik, tetapi harus berani membuka sisi terdalam dirinya.
"Claresta melakukan itu tanpa ragu. Claresta wajah yang fresh tapi punya insting yang matang, kejujuran batin, dan komitmen luar biasa untuk mendalami psikologi Rafah," ucap Angga.
Pihak film Ratu Malaka melihat spark itu di diri Claresta sejak reading pertama. Claresta diyakini bisa membuat penonton percaya bahwa Rafah bukan sekadar karakter.
"Dia bisa membuat penonton percaya bahwa Rafah bukan hanya karakter, tapi jiwa yang sedang ditempa," ungkap Angga.
Selain Claresta, film Ratu Malaka juga dibintangi oleh Marcella Zalianty, Dion Wiyoko, Lutesha, Ganindra Bimo, Faris Fadjar, Wulan Guritno, dan Jihane Almira.
Proses syuting Ratu Malaka sedang berlangsung. Syuting berjalan lebih dari 50 hari karena banyak sekuens aksi dan set yang kompleks.
"Untuk rilis, kami menargetkan tayang di bioskop pada 2027 agar proses pascaproduksi--terutama koreografi aksi, sound design, dan world-building--bisa benar-benar maksimal," kata Angga.
