kumparan
3 September 2019 16:15

Ambisi Todd Phillips dalam Membangkitkan Joker yang Baru

Film Joker
Film Joker. Foto: Dok. Imdb

“Aku kira hidupku adalah tragedi, tetapi sekarang aku menyadari bahwa itu lebih sebagai komedi,”

-Joker

ADVERTISEMENT
Joker adalah sebuah paradoks. Badut sinting itu merupakan psikopat yang langkah gilanya selalu dinanti. Ia memang dibenci dan dimusuhi, tetapi sekaligus dicintai penggemar setianya. Joker adalah semesta lain dari Gotham City, Batman, dan segala hal gelap DC Comics lainnya.
Semenjak diperkenalkan Bill Finger, Bob Kane, dan Jerry Robinson dalam komik Batman pada 25 April 1940, Joker tak pernah diniatkan untuk menjadi siapa-siapa. Ketiga komikus itu sepakat bahwa Joker harus mati di awal debutnya. Namun siapa sangka, Joker tetap dipertahankan. Dia memiliki penggemar, bahkan akan punya filmnya sendiri.
Pada 4 Oktober 2019 mendatang, film Joker untuk pertama kalinya akan dirilis. Film yang menelan anggaran USD 55 Juta itu disutradarai Todd Phillips, seorang sutradara kondang yang lama malang melintang di film komedi. Sutradara berusia 48 tahun itu bahkan menjadi salah satu nomine Piala Oscar 2007 selepas menyutradarai film 'Borat' (2006).
ADVERTISEMENT
Loading Instagram...
Menurut Phillips, film Joker yang dia buat akan berbeda dengan yang selama ini diceritakan di komik. Lain dari itu, Joker di film akan menitikberatkan pada Arthur Fleck, sosok pemuda yang gagal menjadi badut. Dia kemudian depresi dan berubah menjadi penjahat yang teramat berbahaya.
“Kami menulis sendiri bagaimana sosok karakter seperti Joker bisa muncul dan berasal,” kata Phillips seperti dilansir Empire.
Ringkasnya, Phillips menulis skenario tentang sosok Arthur Fleck yang bermimpi menjadi komedian andal. Namun, kenyataan berbicara sebaliknya. Fleck justru diolok-olok di siaran televisi nasional.
Tekanan menyiksa yang setiap hari dihadapi Fleck itu lantas membuatnya menjadi dalang kriminal. Ia tak lagi memiliki mimpi untuk membuat orang tertawa. Lain dari itu, yang tersisa adalah humor sadistik. Ia kehilangan kesadarannya dan menebarkan teror di Gotham City.
Todd Philips
Todd Philips. Foto: AFP
Untuk pertama kalinya, gagasan tentang film Joker itu muncul pada Agustus 2016. Kala itu, Phillips mengimajinasikan sosok Joker versinya sendiri saat menatap poster film Suicide Squad (2016). Di film itu, porsi penampilan Joker begitu sedikit.
ADVERTISEMENT
Di benak Phillips, Joker harus lebih banyak tampil. Baginya, Joker adalah sosok yang anarkis. Sejak itu pula ia tertarik untuk membangkitkan Joker yang lebih utuh ke dalam film layar.
Maka, tak mengherankan pula bila Phillip tak begitu banyak bermain dengan CGI (Computer Generated Image). Alih-alih menggunakan komputasi untuk menciptakan visual yang apik, ia justru sibuk pada karakter Joker itu sendiri. Ia bermain-main dengan dialog untuk menciptakan satu efek psikologis kepada para penonton.
“Itu (Joker) adalah satu skrip yang paling menyenangkan untuk ditulis lantaran melanggar aturan,” ujarnya dilansir LA Times, Rabu (28/8).
Poster film Joker
Poster film Joker. Foto: Dok. Imdb
Salah satu aturan umum yang ia langgar adalah asal mula penampilan Joker itu sendiri. Lazimnya, penggemar komik Batman yakin bahwa Joker pernah tercebur ke dalam tong asam.
ADVERTISEMENT
Peristiwa nahas itulah yang dipercaya menyebabkan Joker memiliki rambut hijau dan muka berwarna putih. Sebaliknya, di tangan Phillips, kepercayaan lama itu diruntuhkan.
“Kami ingin melihat segala sesuatunya melalui lensa yang nyata dan otentik,” ujar dia.
Bagi sebagian orang, memodifikasi jalannya cerita jelas berbahaya. Risiko dihujani kritik dari para penggemar setia berpotensi terjadi. Namun, Phillips tahu betul akan konsekuensi itu. Ia menyadari, sebuah film pada dasarnya adalah perkara sudut pandang. Dan baginya tak ada yang salah dengan hal tersebut.
Langkah kontroversialnya itu pun nyatanya diganjar sambutan meriah setelah tayang perdana di Festival Film Venice 2019 di Palazzo del Cinema, Lido, Italia, Sabtu (31/8). Film tersebut mendapat standing applause sekitar 8 menit dari para peserta yang hadir.
ADVERTISEMENT
Dilansir Variety, standing applause itu diperuntukan secara khusus untuk Phillips dan Joaquin Phoenix (aktor pemeran Joker). Sejumah media seperti LA Times, GameSpot, IGN, hingga The Guardian memuji film Joker sebagai film bagus yang berani dan penuh kebaruan.
Selain Joaquin Phoenix, Joker juga dibintangi oleh Zazie Beetz (Sophie Dumond), Robert De Niro (Murray Franklin), Brett Cullen (Thomas Wayne), dan sederet bintang lainnya.
Review film Joker pun mendapat ulasan positif di Rotten Tomatoes. Situs rating film tersebut mengganjar Joker dengan skor sebesar 88 persen. Angka itu lebih tinggi daripada film besutan Marvel yang berjudul ‘Avengers: Infinity War (2018) yang memperoleh skor 85 persen.
Video
Meski demikian, itu bukan berarti karya Phillips lepas dari kritik. The Times misalnya, menanggapinya sebagai film yang banyak kekurangan. Kritik itu ditulis oleh Stephanie Zacharek, jurnalis sekaligus kritikus film dari The Times, selepas menonton film Joker.
ADVERTISEMENT
Dalam elaborasinya, Zacharek menuding bahwa Phillips gagal menghadirkan sosok Joker kepada para penonton. Ia bahkan menyebut seluruh bangunan film tersebut ‘retak’ (crack), diisi dengan filosofi palsu. Bahkan, dia menyebut, banyak adegan yang dilakukan dan dipikirkan Arthur (Joker) tak punya makna.
“Joker - yang ditulis oleh Phillips dan Scott Silver - tidak memiliki plot; itu lebih seperti tatanan GIF yang dirangkai,” tulis Zacarek di The Times, Sabtu (31/8).
Adegan film 'Joker'
Adegan film 'Joker' Foto: YouTube.com/Warner Bros. Pictures
Terlepas dari kritik semacam itu, Joker merupakan proyek ambisius yang ditangani Phillips. Ia bahkan membutuhkan waktu satu tahun agar Warner Bross menyetujui idenya tentang Joker.
Ide 'gilanya' itu bahkan membuat film Joker terklasifikasi dengan rating R (Restricted). Artinya, hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berusia di atas 17 tahun. Itu karena, banyaknya adegan kekerasan dan pertumpahan darah.
KRISPI: Pemeran Joker dari Masa ke Masa
Pemeran Joker dari Masa ke Masa Foto: Indra Fauzi/kumparan
Berbeda dengan film-film DC lainnya. Film 'Batman: The Dark Knight' (2008) misalnya, terklasifikasi sebagai PG-13. Artinya, film itu lebih bisa dinikmati semua kalangan umur.
ADVERTISEMENT
"Itu (Joker) adalah proses selama setahun sejak kami menyelesaikan naskah hanya untuk membuat orang-orang baru bergabung dengan visi ini,” kata Phillips kepada LA Times.
Selama ini, kiprah Joker memang terbilang menarik. Ia bukanlah tipikal pejahat pada umumnya yang melakukan kejahatatan dengan motif harta ataupun tahta. Lain dari itu, Joker kerap mengatakan: "It's not about money. It's about sending a message".
Menurut Anda, apa yang paling mengerikan dari sosok Joker?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan