kumparan
13 April 2019 16:48

Anak Perempuan Mus Mulyadi Menyesal Tak Bisa Dampingi Sang Ayah

Suasana prosesi pemakaman penyanyi Mus Mulyadi. Foto: D.N Mustika Sari/kumparan
Setelah disemayamkan selama beberapa hari di Rumah Duka Dharmais, jenazah penyanyi Mus Mulyadi akhirnya dimakamkan di TPU Joglo, Jakarta Barat, Sabtu (13/4). Prosesi pemakaman diiringi dengan isak tangis dari istri dan anggota keluarga Mus Mulyadi yang lain.
ADVERTISEMENT
Ditemui usai prosesi pemakaman, anak perempuan Mus Mulyadi, Irene Patricia Melati, mengungkapkan duka yang ia rasakan atas kepergian sang ayah. Irene menyesal karena tak bisa mendampingi ayahnya di saat-saat terakhir.
"Pasti ada (menyesal). Saya kan di Australia. Jadi waktu papa sudah di CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) terus, saya sama adik video call. Dia bilang, 'Ren ngomong sama papah'," kata Irene seraya terisak ditemui usai pemakaman sang ayah.
Suasana prosesi pemakaman penyanyi Mus Mulyadi. Foto: D.N Mustika Sari/kumparan
Anak sulung Mus Mulyadi ini mengatakan, kala itu detak jantung sang ayah sempat kembali normal. Hanya saja, hal tersebut tidak bertahan lama.
"Aku bilang, 'Aku mau pulang pa, papa yang kuat. Aku mau pulang bawa anak-anak ke Indonesia. Terus detak jantungnya ada lagi," kenang Irene sambil terus menangis.
ADVERTISEMENT
"Terus saya enggak tahu gimana akhirnya ditelepon lagi habis itu ternyata sudah enggak ada," imbuhnya.
Walaupun menyesal, namun kenangan indah bersama sang ayah tak pernah bisa dilupakannya sampai kapanpun.
"Kenangan sama papa kalau ngajarin lagu keroncong, papa biarkan saya berkreasi cengkoknya tapi tetap diarahkan," kata Irene.
Suasana prosesi pemakaman penyanyi Mus Mulyadi. Foto: D.N Mustika Sari/kumparan
Di akhir perbincangan, Irene mengenang momen-momen kebersamaannya dengan sang ayah saat menyanyi di gereja. Menurut Irene, Mus Mulyadi adalah sosok ayah yang hebat.
"Terakhir waktu nyanyi bersama di gereja. Kita nyanyi berdua, nyanyi kesaksian. Saya di situ saya liat papa saya luar biasa walaupun buta tapi bisa men-cheer up orang-orang buat tertawa, suka cita, nangis suka cita," tutupnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan