kumparan
15 Apr 2018 16:59 WIB

Andre Hehanusa Sebut Tren Musik Saat Ini Kembali ke Era 1980-an

Andre Hehanusa di Prambanan Jazz Festival 2017 (Foto: Munady Widjaja)
Perkembangan musik di era 1980 hingga 1990-an tampaknya begitu berkesan dan melekat di telinga para penikmatnya. Keunikan komposisi dan nuansa nostalgia yang ditinggalkan mampu membuat musik di era itu terasa begitu istimewa hingga sekarang.
ADVERTISEMENT
Sekiranya inilah yang ada di benak penyanyi senior, Andre Hehanusa, saat dirinya ditanya mengenai pergerakan musik saat ini. Menurut Andre, tren musik dunia saat ini sedang kembali ke era 1980 hingga 1990-an.
“Banyak artis yang melakukannya. Salah satunya adalah Bruno Mars,” kata Andre ketika ditemui di Kawasan Semanggi, Jakarta Selatan.
Andre Hehanusa di Prambanan Jazz Festival 2017 (Foto: Munady Widjaja)
Pergerakan musik ke era lampau itu disebut oleh Andre dapat diperhatikan lewat berbagai aspek yang terdapat di dalam musik itu sendiri. Mulai dari komposisi, notasi, lirik, dan masih banyak lagi. Menurutnya, musik tahun 1980 sampai 1990-an memiliki kekuatan yang membuat para penggemar di masa kini dapat kembali lagi ke masa itu.
“Untung saya punya (lagu) 'Kuta Bali’, ‘Bidadari’, ‘Karena Ku Tahu Engkau Begitu’ yang buat saya waktu itu punya kesan tersendiri,” ungkap Andre.
ADVERTISEMENT
Penyanyi berusia 53 tahun tersebut juga mengatakan bahwa selama beberapa tahun belakangan ini, mulai banyak pertunjukan musik yang mengangkat tema old school era 1980 hingga 1990-an. Tak hanya itu saja, sebagian besar cafe di Indonesia juga mulai kembali menggaungkan lagu-lagu di era tersebut.
Jumpa pers Rika Roeslan dan Andre Hehanusa. (Foto: Munady)
“Anak usia 17 sampai 22 tahun, sekarang lagi main tema 1980-an yang menurut saya itu sulit banget di zaman itu, dan mereka sekarang mainkan itu,” tutur Andre.
Lebih lanjut, pelantun lagu 'Untukmu' itu bercerita bahwa setiap generasi memiliki potensi untuk meninggalkan kesan tersendiri bagi para penikmat musik di era mereka masing-masing. Musik yang mampu menjadi hit sendiri, bagi Andre, disebabkan oleh mereka yang mendengarkan lagu-lagu itu.
“Jadi, kita bersyukur saja, semua menyukai lagu-lagu Uthe, Mus Mujiono, Dewi Yull dan semua punya kesan sendiri-sendiri,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Sony Tulung dan Nina Tamam (Foto: Giovanni/kumparan)
Di lokasi yang sama, Sony Tulung yang didapuk menjadi pembawa acara di konser tersebut mengatakan bahwa melakukan reuni dengan lagu-lagu era 1980 hingga 1990-an mampu meredam perpecahan yang beberapa lalu terjadi di kalangan masyarakat Indonesia, karena adanya perbedaan pandangan politik.
"Indonesia perlu lebih banyak lagi acara seperti ini, supaya kita enggak ribut, kita senang-senang. Gara-gara perbedaan politik... ayolah kita lebih fun, nyanyi, reuni, kita nih satu bangsa, jangan ribut, happy sama-sama," ungkapnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan