Kumparan Logo

Anime "Tenmaku no Jaadugar" dan Para Perempuan Kekaisaran Mongol

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anime Tenmaku no Jaadugar Foto: TV Asahi Animations
zoom-in-whitePerbesar
Anime Tenmaku no Jaadugar Foto: TV Asahi Animations

Anime "Tenmaku no Jaadugar" hingga hari ini, Selasa (21/7) memang baru tayang empat dari 12 episode saja. Tapi, karya Tomato Soup ini sukses menarik perhatian, bahkan digadang-gadang jadi anime terbaik sepanjang musim panas 2026 ini.

Salah satu mengapa anime ini ramai dibicarakan adalah karena latar belakang yang diambil, yakni akhir era keemasan Islam di abad ke-13 dan invasi berdarah Kekaisaran Mongolia. Tokoh utamanya, Sitara, adalah seorang Muslim dari Kota Tus, Persia—sekarang bagian dari Iran.

Banyak yang mengaitkan cerita di anime ini dengan ajaran-ajaran Islam. Apalagi "Tenmaku no Jaadugar" diawali dengan suara azan yang direkam khusus, bukan menggunakan aset audio yang sudah ada.

Hal lain yang menarik adalah tokoh-tokoh perempuan di dunia nyata yang dijadikan inspirasi di anime ini. Para perempuan itu punya cerita menarik yang tak kalah seru, lho.

Fatima

Anime Tenmaku no Jaadugar Foto: TV Asahi Animations

Dalam anime "Tenmaku no Jaadugar" nama Fatima merujuk kepada dua orang: majikan Sitara dan Sitara sendiri. Fatima pertama adalah janda cendekiawan yang mengasuh dan menjadi majikan Sitara kecil. Fatima tewas saat invasi Kekaisaran Mongolia yang dipimpin Tolui menghancurkan Kota Tus.

Setelah Fatima tak ada, Sitara dan beberapa orang lainnya dibawa untuk dijadikan budak tawanan. Dengan bantuan Shira, penerjemah pribadi Tolui, Sitara mengubah namanya menjadi Fatima dan mengabdi ke Kekaisaran Mongol demi balas dendam. Ia lalu menjadi dekat dengan istri Tolui, Sorghaghtani, yang menyadari kecerdasannya pertama kali.

Di dunia nyata, tokoh Fatima sama-sama merupakan budak tawanan asal Kota Tus sekitar tahun 1220-1221 yang berhasil merangkak naik ke dalam Kekaisaran Mongol lewat kecerdasan dan pengetahuannya. Namun bedanya, Fatima di dunia nyata berada di kubu berbeda dengan Sorghaghtani.

Fatima justru lebih dekat dengan Töregene, menantu Genghis Khan dari putra ketiganya, Ögedei. Bersama Töregene, bertahun-tahun kemudian, kedua perempuan ini berkolaborasi menjalankan pemerintahan Kekaisaran Mongol.

Töregene Khatun

Toregene Khatun. Foto: German Vizulis/Shutterstock

Dalam anime "Tenmaku no Jaadugar" sosok Töregene baru diperkenalkan sebagai perempuan berpengaruh yang dingin, istri dari Ögedei. Ia kemudian menjadi permaisuri setelah Ögedei terpilih meneruskan posisi Great Khan kedua.

Ögedei memang bukan anak sulung, namun ia dipercaya menjadi pewaris takhta oleh Genghis Khan karena sifatnya yang hangat, pragmatis, dan pandai diplomasi, tak seperti ketiga saudaranya. Dan ketiga saudaranya menerima itu.

Di dunia nyata kisahnya tak jauh berbeda. Namun, di sini, Töregene bukanlah orang Mongol. Ia adalah perempuan dari suku Merkit—yang kini sebagian wilayahnya masuk Rusia—yang sudah menikah. Setelah wilayahnya ditaklukkan oleh Genghis Khan, Töregene diboyong sebagai tawanan perang.

Karena istri pertama Ögedei tak punya anak, Töregene dijadikan istri kedua. Dari pernikahan itu, mereka punya lima anak, termasuk Güyük Khan yang kelak menjadi Great Khan ketiga menggantikan ayahnya.

Di bawah kepemimpinan Ögedei, Kekaisaran Mongol tak cuma memperluas wilayah hingga Tiongkok utara dan Eropa Timur, tapi juga membangun peradaban administratif maju. Sebagai bangsa nomaden, mereka akhirnya punya ibu kota abadi Karakorum. Sistem komunikasi mereka pun jadi yang tercepat di zamannya yang menghubungkan dari Asia hingga Eropa.

Sayangnya, Ögedei meninggal mendadak pada 1241 akibat gagal fungsi organ. Karena belum ada pewaris pasti, sempat ada perdebatan soal siapa yang berhak memimpin Kekaisaran Mongol. Töregene kemudian menjadi ratu regent sambil terus melakukan lobi-lobi politik.

Ogedei Khan. Foto: German Vizulis/Shutterstock

Selama menjalankan pemerintahan, Töregene mempercayakan banyak hal kepada Fatima. Misalnya soal administrasi, perpajakan, hingga korespondensi kekaisaran. Kolaborasi dua perempuan ini terbukti efektif memimpin Kekaisaran Mongol.

Sayangnya, tentu saja, tak semua pihak suka. Bahkan putra Töregene, Güyük, membenci Fatima karena dianggap terlalu dipercaya oleh ibunya.

Lima tahun menjabat, Töregene akhirnya berhasil mendudukkan Güyük Khan sebagai Great Khan ketiga. Ia kemudian melepas jabatannya. Setelah Güyük naik jabatan, ia malah mengeksekusi Fatima karena tuduhan menggunakan sihir untuk menyakiti saudaranya, Koden.

Prosesnya cukup alot. Güyük bersikeras agar ibunya menyerahkan Fatima untuk dieksekusi, namun Töregene menolak dan mengancam akan bunuh diri jika itu terjadi.

Pada akhirnya, Fatima tetap ditangkap, disiksa, dan dieksekusi hingga mati sebelum dibuang ke air. Para pendukung Töregene lainnya juga disingkirkan dari istana. Beberapa bulan setelah kematian Fatima, Töregene juga wafat meninggalkan sejarah sebagai perempuan paling berkuasa yang pernah ada.

Sorghaghtani Foto: TV Asahi Animations

Sorghaghtani Beki yang muncul di awal anime punya hubungan erat dengan Fatimah. Ia adalah istri dari Tolui, anak bungsu Genghis Khan. Di anime, Sorghaghtani meminta suaminya untuk mengambil buku "Element" karya Euclid sebagai rampasan perang. Buku inilah yang jadi salah satu alasan Sitara berusaha mendekat.

Di dunia nyata, tak ada catatan tentang apakah Sitara alias Fatima adalah mata-mata kiriman Sorghaghtani. Yang jelas, Sorghaghtani berada di kubu berbeda dengan Fatima yang merupakan pendukung Töregene dari keluarga Ögedei.

Sorghaghtani dalam sejarah juga dikenal sebagai "Ibu Para Kaisar" karena keempat putranya menjadi penguasa besar. Möngke Khan, jadi kaisar keempat Mongol; Kublai Khan si kaisar kelima Mongol sekaligus pendiri Dinasti Yuan di China; Hulagu Khan, pendiri Ilkhanat di Persia; dan Ariq Böke penguasa Mongol sekaligus rival Kublai Khan dalam perebutan takhta.

Tolui Khan. Foto: German Vizulis/Shutterstock

Setelah suaminya tiada, Sorghaghtani memimpin klan Tolui. Sebenarnya ia juga bersaing soal siapa yang berhak memegang kendali atas Kekaisaran Mongol setelah Ögedei wafat. Namun, ia tahu duo Töregene-Fatima tak segan "bersih-bersih" saingan mereka, sehingga selama Töregene memimpin ia lebih memilih bersikap diplomatis.

Strategi Sorghaghtani tak salah. Setelah Fatima dieksekusi, Töregene dan Güyük Khan wafat, ia langsung meluncurkan manuver politik besar dengan menggandeng klan lain untuk mengamankan takhta bagi putranya, Möngke Khan.

Anime "Tenmaku no Jaadugar" tak cuma membuka wawasan tentang beberapa ajaran Islam lewat kehidupan Sitara alias Fatima, tapi juga mengapa pengetahuan itu penting, dan bagaimana sepak terjang pada perempuan hebat di balik suksesi tokoh-tokoh penguasa kekaisaran besar.