Kumparan Logo

Aruma Tuangkan Perjalanan Mencari Diri di Mini Album "Dan Ternyata Aku Cukup"

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penyanyi Aruma. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Penyanyi Aruma. Foto: Istimewa

Aruma menuangkan perjalanan personalnya dalam mini album terbaru bertajuk Dan Ternyata Aku Cukup. Lima lagu di dalamnya menjadi ruang bagi Aruma untuk melihat kembali berbagai pengalaman dalam hubungan sekaligus memahami pola yang terus berulang dalam kehidupannya.

Perilisan mini album tersebut dirayakan Aruma bersama para penggemarnya, Arumanis, melalui intimate showcase di Melodia, pada 3 September 2026. Dalam kesempatan itu, Aruma membawakan langsung lagu-lagu dari mini album terbarunya.

Ia juga berkolaborasi dengan sejumlah musisi yang turut hadir dalam showcase. Raim Laode bergabung saat Aruma membawakan Ekspektasi, sementara Raissa Anggiani tampil bersama Aruma dalam Jalan Buntu.

Dan Ternyata Aku Cukup berisi lima lagu, yakni Pura-Pura Hidup Lagi, Senyum Pada Sepi, Jalan Buntu, Semoga Nanti, dan Bulan Separuh.

Kelima lagu tersebut tidak hanya bercerita tentang kesedihan yang kemudian berakhir dengan kebahagiaan. Bagi Aruma, mini album ini lebih merupakan perjalanan untuk memahami pola yang selalu muncul setiap kali ia menjalani hubungan.

“Pasti kalau orang dengar album ini, mungkin mikir ada fase penerimaan pada akhirnya, ada emosionalnya juga. Cuma sebenarnya cara melewati fase kesedihan. Ini lebih ke pola-pola yang selalu berulang setiap aku menjalani hubungan,” ujar Aruma.

Hampir tiga tahun menjalani kehidupan sendiri membuat Aruma memiliki lebih banyak waktu untuk melihat kembali dirinya. Ia menyadari selama ini terlalu sering mencari kekurangan dalam dirinya sendiri.

“Aku sudah sendiri hampir tiga tahun. Agak terlalu banyak cerita, tapi intinya begitu. Selama tiga tahun ini, aku selalu merasa mungkin karena aku terlalu sering mencari kekurangan-kekurangan di diriku sendiri,” tuturnya.

Dari sana, muncul pertanyaan yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan Aruma: siapa dirinya dan ke mana ia harus melangkah.

“Kalau dulu aku banyak bertanya, ‘Aku harus menjadi siapa?’ atau ‘Aku harus ke mana?’, sekarang aku mulai sampai di titik aku bisa bilang, ‘Mungkin aku tidak perlu menjadi siapa-siapa selain diriku sendiri.’”

Aruma juga mengungkap pernah berada di titik ketika ia merasa tidak cukup bagi orang-orang di sekitarnya. Perasaan itu kemudian membuatnya takut ditinggalkan dan merasa belum pernah mendapatkan cinta secara utuh.

“Aku selalu merasa tidak pernah cukup buat orang-orang di sekitarku. Makanya, aku sering merasa orang-orang selalu meninggalkan aku. Aku juga tidak pernah merasa benar-benar dicintai secara penuh,” kata Aruma.

Penyanyi Aruma. Foto: Istimewa

Perasaan tersebut akhirnya membentuk pola yang terus berulang. Setiap hubungan yang berakhir membuat Aruma kembali bertemu dengan orang baru, tetapi menghadapi persoalan yang serupa.

“Akhirnya, itu menjadi sebuah pola. Aku harus ketemu orang baru lagi, orang baru lagi, dan terus berulang. Setelah berkali-kali mengalami hal yang sama, itu melelahkan buat aku,” ujarnya.

Lewat mini album ini, Aruma mencoba membongkar pola tersebut. Ia tidak ingin hanya menceritakan perjalanan dari sedih menuju bahagia, tetapi juga mencari tahu alasan di balik berbagai pengalaman yang terus berulang.

“Jadi sebenarnya bukan seperti, ‘Oh, awalnya aku sedih, terus akhirnya aku bahagia.’ Lebih kepada aku mencari tahu pola yang terus berulang itu. Aku mencoba membongkar kenapa hal ini bisa terjadi," lanjutnya.

Penyanyi Aruma. Foto: Istimewa

Salah satu fase tersebut tergambar dalam lagu Semoga Nanti. Aruma menyebut lagu itu menjadi gambaran ketika dirinya mulai menyadari adanya persoalan keterikatan emosional dalam hubungan.

“Terus di lagu Semoga Nanti, itu adalah fase ketika aku mulai menyadari ada masalah keterikatan emosional dalam hubungan. Karena aku sudah sangat damai dengan diriku sendiri.”

Setelah hampir tiga tahun sendiri, Aruma justru mulai menikmati kehidupan yang dijalaninya. Ia merasa sudah cukup dengan dirinya sendiri dan tidak lagi bergantung pada orang lain untuk menemukan kebahagiaan.

Lewat Semoga Nanti, ia kemudian menuangkan kemungkinan untuk kembali membuka hati. Aruma membayangkan sosok yang tetap berusaha menemukannya ketika ia memilih bersembunyi.

Aruma mengakui dirinya kerap memilih mundur ketika hubungan mulai terasa sulit. Meski begitu, ia masih membuka kemungkinan untuk kembali percaya kepada cinta jika suatu saat bertemu seseorang yang benar-benar berusaha hadir dalam hidupnya.

“Tapi kalau suatu saat ada seseorang yang benar-benar mengetuk pintuku dengan keras, bahkan berusaha menemukan aku ketika aku bersembunyi, mungkin aku bisa percaya lagi kalau aku masih bisa menerima cinta.”

Sementara itu, Bulan Separuh ditempatkan sebagai lagu terakhir dalam mini album tersebut. Aruma sengaja menyusun urutan lagu agar pendengar bisa mengikuti perjalanan emosional yang ia lalui.

“Mungkin di EP ini Bulan Separuh diletakkan terakhir karena aku ingin orang-orang merasakan emosinya dulu. Mulai dari kehilangan, kemudian menyusuri banyak fase.”

Penyanyi Aruma di Melodia. Foto: Istimewa

Selain menjadi momen perayaan perilisan mini album bersama Arumanis, intimate showcase di Melodia juga menjadi ruang berkumpul bagi para musisi dan pegiat musik.

Co-Owner Melodia, June Winarto, turut menyampaikan apresiasinya kepada Aruma dan para penggemar yang hadir.

“Sebagai perwakilan Melodia, I'm really proud of you guys to come here, ke rumah kedua para musisi. Kami ingin teman musisi dan pegiat musik bisa beraktivitas dan berkomunitas dengan lebih baik lagi bersama Melodia. Semoga Melodia bisa terus menjadi tempat untuk berkumpul, berkarya, dan berkembang bagi para musisi. Thank you so much, terima kasih banyak," ungkap June.

Melalui Dan Ternyata Aku Cukup, Aruma tidak sekadar menceritakan pengalaman tentang hubungan dan kehilangan. Ia menggunakan lima lagu tersebut untuk melihat kembali dirinya, membongkar pola yang terus berulang, dan perlahan menerima bahwa kebahagiaan tidak selalu harus datang dari orang lain.