Kumparan Logo

Beda Sinetron Dulu dan Sekarang Menurut Ari Wibowo

kumparanHITSverified-green

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Ari Wibowo  (Foto: DN Mustika Sari/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ari Wibowo (Foto: DN Mustika Sari/kumparan)

Sinetron Indonesia memiliki banyak perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan yang paling jelas terlihat adalah jadwal tayang yang biasanya seminggu sekali, kini tayang secara stripping atau setiap hari.

Ari Wibowo, sebagai salah satu aktor senior di Indonesia, tentunya merasakan banyak perubahan yang terjadi dari masa ke masa.

Bagaimana tanggapannya soal sinetron Indonesia saat ini, ya?

"Sinetron sekarang itu terlalu industri ya, karena sekarang semua (sinetron) itu stripping, kalau nanya artis yang lebih muda, mungkin enggak akan paham. Karena saya udah pernah ngejalanin yang namanya syuting mingguan," ungkap pria berusia 46 tahun tersebut saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Menurutnya, sinetron Indonesia zaman dahulu lebih bisa dijaga kualitasnya, baik dalam segi cerita, maupun pengambilan gambar.

"(Sinetron dulu) Story bisa dijaga, pengambilan gambar juga bisa dijaga. Kalau sekarang, jadi ada penurunan," ucap aktor yang dulu terkenal membintangi sinetron 'Deru Debu' pada tahun 1994.

embed from external kumparan

Kendati demikian, pemain film 'This is Cinta' ini menyadari jika dalam produksi sinetron sekarang yang serba cepat, akhirnya membentuk sebuah dedikasi tinggi dari pemain maupun kru filmnya.

"Tapi memang, sekarang ini dedikasi pemainnya jadi luar biasa tinggi. Di sisi lain kita juga harus melihat, mentalitas penonton yang saat ini maunya serba instan. Enggak mau menunggu lagi," jelas Ari.

Baca Juga:

Cerita Sebelum dan Sesudah Nikah: Tarra Budiman-Gya, Karina Salim-Aldy

Atalarik Syach dan Tsania Marwa Tak Hadiri Sidang Pembacaan Gugatan

Godaan-godaan yang Datang saat Shireen Sungkar Mulai Berhijab

instagram embed

Lalu, apa yang dijadikan patokan Ari dalam memilih tawaran sebuah film atau sinetron?

"Nomor satu, aku lihat sutradaranya. Karena jujur, satu film tanpa pemain yang punya 'nama' bisa ngetop kalau sutradaranya bagus."

"Contohnya dulu, film AADC. Dulu kan, Dian Sastro belum punya nama, tapi bisa ngetop karena ceritanya, karena sutradaranya. Dan sebaliknya, perform mereka luar biasa, hingga hasilnya jadi luar biasa juga. Jadi semua emang butuh teamwork," tandasnya.

Namun Ari tidak mau memberikan perbandingan secara kongkrit dengan menyebut judul-judul sinetron zaman dulu, dan sinetron sekarang yang dia kritik.