Kumparan Logo

Berkarya Pakai Bahasa Arab, Sillas Dapat Dukungan Penuh dari Habib Ja'far

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

clock
more-vertical
Band indie pop asal Cirebon, Sillas, ditemui usai manggung di Soundrenaline M Bloc 2025, Minggu (21/12/2025). Foto: Vincentius Mario/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Band indie pop asal Cirebon, Sillas, ditemui usai manggung di Soundrenaline M Bloc 2025, Minggu (21/12/2025). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Langkah Sillas, band indie pop asal Cirebon, menggunakan bahasa Arab dalam karya mereka ternyata menarik perhatian banyak pihak. Salah satunya termasuk tokoh agama Habib Ja'far.

Dukungan ini jadi angin segar bagi Sillas yang khawatir karyanya disalahartikan karena menggunakan bahasa Arab di luar konteks religi.

Obeth, gitaris Sillas, menceritakan pengalaman mereka saat diundang ke podcast milik Habib Ja'far. Menurutnya, sang Habib memberikan respons yang sangat positif.

Band indie pop asal Cirebon, Sillas, ditemui usai manggung di Soundrenaline M Bloc 2025, Minggu (21/12/2025). Foto: Vincentius Mario/kumparan

"Iya, Habib Ja'far ya. Kemarin kami sudah sempat diundang di podcast beliau. Lalu Habib Ja'far merespons dengan...mungkin aneh untuk cara genre indie pop menggunakan bahasa Arab gitu, beliau baru dengar gitu. Jadi overall suka ya, Habib Ja'far suka, support full ya," ungkap Obeth.

Dukungan ini sangat berarti bagi Sillas, mengingat mereka pernah melakukan tur unik ke berbagai tempat peribadatan. Mereka pernah tampil di Vihara, Gereja, hingga Masjid untuk menyebarkan pesan perdamaian dan toleransi melalui musik.

"Justru mereka senang ya kayak karena Sillas tidak memiliki tendensi yang lebih untuk tanda kutip pelecehan soal bahasa Arab lalu kita main di gereja, melainkan kami membawa kampanye tadi bahwa kami ingin bisa bertoleransi," jelas Obeth.

Habib Jafar menjawab pertanyaan wartawan saat menghadiri kedatangan Paus Fransiskus di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (5/9/2024). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Bahasa Arab Jadi Medium Seni Band Sillas

Bagi Sillas, bahasa Arab adalah medium seni yang bersifat universal. Mereka tidak merasa khawatir adanya bumerang atau risiko dari masyarakat luas. Mereka menganggap bahasa sebagai produk budaya yang bisa dinikmati siapa saja.

"Sebetulnya bahasa Arab bukan memiliki agama tertentu ya. Bahasa Arab sebetulnya produk budaya gitu. Jadi bagaimana cara sudut pandang mereka saja sih menganggap bahwa bahasa Arab bukan milik agama tertentu melainkan budaya," tegas Obeth lagi.

Tantangan Para Vokalis

Tantangan nyata justru dirasakan oleh para vokalis, Delvi dan Rully. Menghafal lirik bahasa Arab menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia.

"Kalau aku pribadi ya, apalagi aku sehari-hari bahasa Indonesia ya enggak pernah bahasa Arab, itu jadi tantangan banget belajar dan lain-lain. Tapi akhirnya jadi tahu dan paham untuk berbahasa Arab," ungkap Delvi.

Senada dengan Delvi, Rully juga merasa khawatir. Namun, ia menemukan keunikan tersendiri dari bahasa Arab.

"Awal-awal sih worry ya, karena ini bisa dihafal dengan mudah enggak gitu Ternyata uniknya bahasa Arab tuh ternyata mudah diingat gitu, enggak tahu kenapa. Dari beberapa lagu justru lagu bahasa Arab yang paling diingat," tutur Rully.

Menurut Sillas, dukungan para penggemar dan penutur Bahasa Arab seperti Habib Jafar memperkuat posisi mereka sebagai band yang membawa nilai filosofis dan toleransi yang mendalam.