Kumparan Logo

Cerita Tamara Geraldine soal Kegemarannya pada Cangkir Teh Antik

kumparanHITSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tamara Geraldine. (Foto: Munady Widjaja)
zoom-in-whitePerbesar
Tamara Geraldine. (Foto: Munady Widjaja)

Bagi sebagian orang cangkir teh (tea cup) mungkin hanyalah sekadar wadah untuk minum teh. Namun, bagi Tamara Geraldine, cangkir teh punya nilai lebih hingga dia memutuskan untuk mengoleksi. Salah satunya adalah motif dan corak.

Awal kegemaran wanita yang dikenal sebagai presenter dan penulis terhadap cangkir teh ini menurun dari Opungnya.

Tamara bercerita, di setiap sudut rumahnya dihiasi banyak cangkir. Dia juga seringkali melihat Opungnya menyuguhkan teh dengan cangkir yang berbeda untuk setiap tamu yang datang.

“Kalau bikin teh buat tamu suka beda-beda cangkirnya, dia bikin (sambil) liat tamunya, in my wildest imagination ya seolah dia mengenali karakter tamunya padahal sih pikun jadi dia ngambilnya beda beda,” kata Tamara dalam video yang diunggah di kanal SarahSechanNet.

embed from external kumparan

Setelah melihat kegemaran opungnya itu, Tamara mencoba untuk ikut mengumpulkan cangkir. Tak tanggung-tanggung koleksi cangkirnya ia dapatkan langsung dari London, Inggris.

“Kebeneran perusahaan aku mengharuskan setiap tahunnya berangkat ke headquarter di London, jadi terus akhirnya suka ke pasar loak disana terus ternyata gampang ya dapetinnya jadi mulai hobi lagi,” ucapnya.

Meski sudah seringkali berburu cangkir teh, namun Tamara rupanya tak pernah membeli cangkir dengan model yang sama. Kini berbagai cangkir dari bermacam-macam brand antik pun telah ia miliki.

“Enggak (sama) karena kan (Koleksi) ada tahapannya. Ada yang kalap asal beli, atau seperti sekarang fokus ke (koleksi) Royal Alberts atau Wileman atau mau Paragon. Ada pilihannya,” katanya.

Cangkir teh yang dimiliki Tamara memang terbilang antik. Setiap cangkir punya motif dan bentuk yang unik sesuai dengan tahun pembuatannya. Hal inilah yang kian menambah kecintaan Tamara atas hobinya itu.

“Favoritnya itu ada yang secara motif ada yang tua banget. Ada yang itu (buatan) agustus 1915. Jadi dulu orang kalau minum ada (pembatasnya) agar enggak kena kumis, orang dulu kan kumisnya tebel-tebel. Jadi cangkirnya unik bentuknya,” terang wanita yang kini juga terjun ke dunia politik.

embed from external kumparan

Bukan hanya sebagai pajangan, Tamara juga kerap menyuguhkan para tamunya dengan cangkir antik koleksinya. Bahkan sang anak juga ikut-ikutan kebiasaan opungnya dalam menentukan cangkir untuk para tamunya.

“Dia juga udah nentuin Opung pakai yang ini, yang permpuan pakai yang mana sesuai dengan umur cangkirnya,” pungkasnya.

Tamara juga mengatakan pernah mendapat inspirasi menulis dengan melihat deretan cangkir-cangkir yang dipajang Opung di rumahnya. Termasuk di dalam kamar mandi. Ya, Tamara mengatakan koleksi cangkir miliknya banyak disebar di setiap sudut ruangan.

embed from external kumparan

"Jadi waktu itu aku mau nulis buku tentang Yuni Shara, dia minta disimbolkan sebagai wanita yang jujur, tidak suka menyakiti hati orang dan gemar minum kopi. Waktu di kamar mandi aku lihat cangkir-cangkir itu. Dari situ, akhirnya aku menyimbolkannya dengan tea cup, bahwa sebuah cangkir tidak selalu memilih tatakan terbaiknya, tapi tatakan terbaik akan dikirimkan untuk setiap cangkir, ada pasangannya," kata Tamara.

Lalu, berapa banyak koleksi cangkir teh Tamara Geraldine? 100, 200, 300 atau bahkan sampai 500 tea cup?

"Aku lupa," jawab Tamara Geraldine seraya tersenyum dan enggan menyebut jumlah pastinya.