Cholil Mahmud Ajak Musisi Suarakan Aspirasi Masyarakat: Tularkan Kepekaan
·waktu baca 2 menit

Vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, mengajak musisi bergerak secara kritis menyuarakan aspirasi masyarakat. Menurut Plt. Ketua Federasi Serikat Musisi Indonesia (FESMI) itu, banyak musisi atau seniman yang masih enggan bergerak.
Cholil Mahmud melihat kedekatan musik dengan industri jadi faktor yang mengurangi kritik saat ini.
"Kedekatan musik dan industri membuat hal-hal yang ada urusannya dengan membangkitkan kritisisme, itu dari dulu, sudah jarang jadi topik yang diangkat,” kata Cholil dalam acara Seni Lawan Tirani di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, belum lama ini.
Panggung terbuka seperti Seni Lawan Tirani, menurut Cholil, adalah contoh respons seni atas gejolak sosial-politik yang sepekan terakhir jadi sorotan nasional.
"Ini bisa jadi awalan untuk membuka mata kita semua, dalam kondisi politik enggak jelas, industri juga enggak jalan," tutut Cholil.
"Industri musik butuh kepekaan-kepekaan dari senimannya. Kalau seniman dianggap lebih peka dari masyarakat, ya tularkan kepekaan itu," tegas Cholil.
Menurut penyanyi 49 tahun itu, industri musik harus sadar bahwa mereka dapat mewujudkan slogan, "warga jaga warga", lewat karya seni.
“Jadi, ‘warga jaga warga’ dalam konteks seni itu dalam kekaryaannya ya bisa menumbuhkan rasa peka terhadap ketidakadilan dan penindasan, karena kegetiran-kegetiran itu nyata dan harus dipantulkan ke dalam karya-karya,” jelas Cholil.
Menurut Cholil, apabila ketidakadilan masih terus terjadi dan negara tidak baik-baik saja, industri musik juga tidak baik-baik saja. Oleh karenanya, musisi dituntut untuk meresponsnya, dan jangan diam saja.
"Situasi ini menuntut kepekaan untuk mengubah masyarakat, kalau ketidakadilan terjadi, industri (musik) enggak akan baik-baik aja juga," ungkap Cholil.
Efek Rumah Kaca Belum Berencana Buat Karya dari Gejolak Sosial Politik Saat ini
Cholil menyebut, ERK sendiri belum berencana membuat karya dari gejolak sosial politik saat ini. Mereka masih menabung fakta dan turun ke jalan bersuara bersama rakyat.
"Kalau mengubah jadi karya itu biasanya di momen yang lebih reflektif. Ini kita nabung dulu aja. Nabung topik dulu. Ini memang ganggu, ngeselin banget. Kita catat dulu," ujar Cholil.
"Sekarang yang utama, daripada kita ada di studio, mendingan kita ada di sini. Bareng-bareng kita mendengar orang lain, suarakan, kita menguatkan satu sama lain. Kehadiran di sini menguatkan antar seniman dan pendengar," tutup Cholil.
