Kumparan Logo

Dari Film, 'Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui' Dibuat Novel

kumparanHITSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peluncuran novel 'Silariang' (Foto: Prabarini Kartika/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Peluncuran novel 'Silariang' (Foto: Prabarini Kartika/kumparan)

Film 'Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui' mengangkat adat budaya suku Bugis Makassar sebagai plot besar untuk film tersebut. 'Silariang' berkisah tentang sepasang kekasih dari suku Bugis yang memilih untuk kawin lari, setelah tidak direstui oleh orangtua karena perbedaan kasta antara keduanya.

Bisma Karisma, salah satu mantan personel SM*SH, dipercaya menjadi pemeran utama film tersebut dan ditemani oleh Andania Suri.

Walaupun akan ditayangkan ke layar lebar akhir 2017, film 'Silariang' sudah dari awal untuk mengalihwahanakan film tersebut menjadi sebuah novel dengan judul yang sama.

Jumpa pers 'Silariang' (Foto: Prabarini Kartika/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jumpa pers 'Silariang' (Foto: Prabarini Kartika/kumparan)

Ichwan Persada selaku produser menjelaskan, salah satu alasan utamanya adalah untuk mendongkrak minat baca para remaja. Novel itu pun sudah resmi dirilis pada Selasa (17/10).

"Saya agak miris melihat anak-anak sekarang kok kurang baca. Dari awal target penonton, kita sudah spesifik banget, (yaitu) perempuan umur 15-25. Umur-umur di mana disinyalir banyak kurang membaca. Ketika film dialihwahanakan jadi novel, mungkin akan menarik minat baca anak-anak lebih dalam," jelasnya saat ditemui di Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, Selasa (17/10).

Dengan jumlah halaman yang kurang lebih hampir mencapai 200, remaja cenderung akan lebih cepat selesai membaca satu novel. "Ternyata suka dan dalam tiga jam selesai novelnya. Makanya kita take cuma 200-an halaman biar bacanya cepat," lanjut Ichwan.

Selain itu, film remaja saat ini memang cenderung ada tren untuk memindahkan medium film menjadi sebuah novel. Sebut saja seperti film 'Posesif' dan 'Dear Nathan'. Ichwan mengatakan, hal ini dilakukan agar napas dari film tersebut menjadi lebih panjang.

Film Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui (Foto: Youtube irhammer TV)
zoom-in-whitePerbesar
Film Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui (Foto: Youtube irhammer TV)

"Tujuan utamanya itu bagaimana kami ingin memperluas cakupan dari film sendiri. Buat kita pribadi, sebagai pembuat film atau creator, kita 'kan ingin membuat karya itu bisa ada terus," katanya.

Maka, Ichwan memilih penulis bernama Oka Aurora untuk memindahkan skenario film 'Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui' ke medium tulisan. Untuk informasi tambahan, Oka juga menulis novel 'Hijabers In Love' yang juga berasal dari skenario film.

Pemilihan Oka sendiri bukan tanpa alasan. Selain karena memiliki lingkaran pertemanan yang sama, Ichwan berkata bahwa Oka dapat melihat narasi film tersebut dari perspektif yang berbeda.

"Oka saya pilih karena dia perempuan dan perspektifnya akan lebih menarik kalau dia bukan orang Makassar. Kalau saya yang nulis (karena) orang Makassar, tidak akan sekaya itu karena saya akan merasa serba tahu, bias. Orang luar akan cari tahu lebih banyak dengan riset," ungkap Ichwan.

instagram embed

Saat kumparan bertanya kepada Oka, ia mengatakan memang banyak detail yang ia tambahkan di buku. Hal itu dilakukan untuk melengkapi cerita dan latar belakang tokoh yang tidak dimasukkan ke dalam film.

Sebagai penulis untuk novel 'Silariang', Oka berpesan agar bangsa Indonesia tidak menganggap enteng adat istiadat dan kemudian terkikis oleh waktu.

"Perlahan-lahan kita didesain sama sejarah untuk melupakan asal usul dan leluhur sehingga menganggap enteng adat," kata Oka di kesempatan yang sama.

"Saya ingin generasi muda, terutama millenial, (mengetahui) bahwa kita pernah besar karena kita sangat mengagungkan adat dan tradisi," sambungnya.