kumparan
Entertainment4 Juni 2019 11:40

Deddy Mizwar: Lorong Waktu Berhenti karena Zidan Sudah Gede

Konten Redaksi kumparan
Deddy Mizwar
Deddy Mizwar. Foto: Helmi Afandi/kumparan
Deddy Mizwar banyak menggunakan imajinasinya saat membuat sinetron ‘Lorong Waktu’. Baginya, sinetron religi bisa langgeng apabila bisa menjadi tontonan yang menarik sekaligus menginspirasi.
ADVERTISEMENT
Lorong Waktu hadir di televisi mulai dari tahun 1999 sampai 2006. Sinetron yang selalu hadir di bulan Ramadhan itu diproduksi oleh PT Demi Gisela Citra Sinema dan disutradarai oleh Deddy dan ditulis skenarionya oleh Wahyu HS. Beberapa media menyebut, sinetron Lorong Waktu adalah sinetron religi terbaik sepanjang masa.
Kini, di tahun 2019 sinetron itu kembali hadir dalam versi kartun animasi. Namun kerinduan masyarakat terhadap lorong waktu versi era 90an tidak pernah surut. Deddy mengakui hal itu.
Deddy Mizwar merupakan tokoh kawakan di dunia jagat hiburan Tanah Air. Pria kelahiran Jakarta, 5 Maret 1955 ini telah memproduseri dan membintangi sejumlah sinetron dan film ternama.
Setelah ‘Lorong Waktu’, berturut-turut Deddy menciptakan sinetron religi lainnya. Sebut saja ‘Kiamat Sudah Dekat’, ‘Demi Massa’, hingga ‘Para Pencari Tuhan’.
Deddy Mizwar
Deddy Mizwar. Foto: Helmi Afandi/kumparan
Di dunia layar lebar, Deddy memulai kariernya dalam ‘Gaun Pengantin’ pada tahun 1974. Setelah itu beberapa film yang populer lainnya adalah ‘Kejarlah Daku Kau Kutangkap’, ‘Naga Bonar’, hingga ‘Naga Bonar Jadi 2’.
ADVERTISEMENT
Deddy juga sempat merasakan menjadi politikus ulung. Dia bahkan sempat menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat menemani Ahmad Heryawan pada 2013-2018.
Deddy Mizwar memiliki seorang istri bernama R. Giselawati Wiranegara. Ia menikah pada 13 Agustus 1986.
Dari hasil pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai seorang putri bernama Senandung Nacita dan seorang putra bernama Zulfikar Rakita Dewa. Keduanya telah membina rumah tangga.
Untuk mengenang sinetron ‘Lorong Waktu’. kumparan menyambangi Deddy Mizwar di kantornya di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Jumat (31/5). Dia bercerita banyak soal proses kreatif, hingga alasan utama berhentinya sinetron tersebut di tahun 2016.
Video
Sambil menunggu momen takbiran, yuk simak wawancara lengkap berikut!
Apa kabar Pak Haji?
Alhamdulillah baik, cuma agak pilek.
ADVERTISEMENT
Jadi gini Pak Haji, kita ingin bernostalgia. Pertama, Inspirasi dan ide sinetron Lorong Waktu datang dari mana Pak Haji?
KIta pengin bicara banyak hal, hal yang berisi dan mengandung nilai pelajaran. Terinspirasi dari Isra Mirajnya Nabi Muhammad. Banyak di antara sahabat beliau enggak percaya juga Nabi melakukan itu sampai Sidratul Muntaha. Banyak yang meragukan gimana caranya.
Sangat mungkin dengan fisik. Karena dulu enggak percaya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sehari semalam sampai. Sekarang? 5 menit bisa sampai. Enggak pakai bismillah lagi. Haha.
Orang orang Amerika dari Makkah ke Jeddah enggak pakai bismillah. Nabi lebih hebat dari itu enggak perlu diperdebatkan.
Jadi terinspirasi dari sana. Kita yakin juga banyak hal juga bisa dilakukan. Imajinasi. Makanya Zidan pernah ketemu Diponegoro, Zidan, Malin Kundang. Tapi kan yang terpenting adalah nilai dari pertemuan itu.
ADVERTISEMENT
Video
Misalnya Malin Kundang menyampaikan bahwa seorang ibu tidak boleh mudah menyumpah. Emang betul surga di bawah kaki ibu. Rida Allah rida orang tua. Tapi ibu yang arif tidak perlu juga mudah menyumpahi anaknya. Setiap kali ribut jangan sampai menyumpahi. Begitu pula anaknya, jangan sampai kurang ajar.
Pangeran Diponegoro juga bicara komitmen. Zidan diceritakan itu udah tahu dia mau ditangkap Belanda, tapi saya waktu itu tetap jalan karena itu soal komitmen. Jadi kita terinspirasi dari Isra Miraj tapi kita kan enggak bisa masuk alam Sidratul Muntaha hahaha.
Tapi kalau berbicara materi berubah jadi energi kemudian balik lagi ke materi itu bukan hal yang aneh. Dengan banyak medium tadi, kita banyak memberikan inspirasi dan pelajaran untuk pemirsa.
ADVERTISEMENT
Lorong Waktu bertahan lama sampai tahun 2006, apa resepnya?
Pertama ada keunikan. Ada teknologi sederhana. Kita bisa menjelajahi apa saja ketemu Superman juga bisa. Ada cerita Superman lagi jemur sayapnya, ramalan cuaca meleset terus. Nah ini sayap jadi basah. Jadi bicara kerusakan alam. Superman aja enggak bisa tahan dengan ozon yang bocor.
Tema tema imajinasi yang menginspirasi penonton. Tapi yang penting juga hiburan tontonan juga butuh entertain kan. Enggak cuma kajian.
Setnya menarik, bagus. Lorong Waktu kan bisa di mana aja termasuk alam jin dan alam kubur. Cuma Sidratul Muntaha aja kita enggak bisa. Haha.
Deddy Mizwar
Deddy Mizwar. Foto: Helmi Afandi/kumparan
Pemilihan artisnya gimana?
Casting, termasuk Zidan juga sama. Kita cari terus ketemu anak cerdas kayak Jourast Jordy. Waktu pertama ketemu belum bisa baca.
ADVERTISEMENT
Jadi dikasih tahu aja dia cepat hafal. Dia udah hafal satu kaset Zainuddin MZ. Jadi kita yakin dia bisa main film hanya dengan kasih tahu aja. Ketemunya di Abang None Jakarta, kita panggil.
Yang paling diingat saat proses syuting apa Pak Haji?
Yang serunya kan kita punya dua masjid satu di Bekasi, satu di Billy Moon. Waktu itu di Billy Moon belum selesai. Tapi karena Lorong Waktu banyak orang datang, dari Jawa, Kalimantan.
Padahal itu belum selesai. Dulu pas lihat masjidnya kaget, kok jelek. Kan belum selesai. Tapi sekarang udah bagus. Banyak yang ngira di masjid itu ada apa. Ada lab gimana. Haha. Bikin bikinan aja itu padahal. Artinya orang bisa akrab dengan masjid.
ADVERTISEMENT
Banyak yang terinspirasi lewat Lorong Waktu, gimana tanggapannya?
(Lorong Waktu) Bukan hanya membuat orang jadi mualaf. Tapi mengislamkan orang yang sudah Islam karena kan banyak orang yang tidak menunjukkan keislamannya.
Masjid Raya Baitussalam di Pondok Kelapa, syuting sinetron Lorong Waktu
Masjid Raya Baitussalam di Pondok Kelapa, tempat syuting sinetron Lorong Waktu. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Tantangan dan kendala selama proses syuting apa aja, Pak Haji?
Zidan dan Haji Husin sama pemainnya 6 season. Nah Ustaz Addin, ganti ganti. Tiga kali kalau enggak salah. Adjie Pangestu, Dicky Chandra, dan Hefri Olifian. Yang perempuan juga sama.
Tapi enggak terlalu masalah juga. Enggak ada yang beda, formatnya sama, kontennya beragam yang disajikan.
Apa arti Lorong Waktu buat seorang Deddy Mizwar?
Saya bisa mengungkapkan nilai nilai dengan berbagai cara, berbagai tokoh dengan cara apa aja. Ketemu Gadjah Mada, haha. Artinya mengenal diri sendiri. Berkarya kan harus punya nilai ibadah biar enggak sia-sia.
ADVERTISEMENT
Akhirnya berakhir kenapa?
Ada cerita lain, Kiamat Sudah Dekat, Demi Masa. Terus Zidannya kan makin gede, susah cari penggantinya. Kalau sekarang ada animasi. Di situ kan enggak gede gede. haha..
Kayak Kiamat Sudah Dekat ada tokoh Kipli dan Saprol kalau udah gede kan enggak mungkin syuting lagi. Kalau makin gede bisa jadi eneg, haha.
Jourast Jordy, pemeran Zidan, Masjid Raya Baitussalam, syuting sinetron Lorong Waktu
Jourast Jordy, pemeran Zidan dalam sinetron Lorong Waktu. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Ada yang minta ada lagi nggak Pak Haji?
Banyak yang minta. Tapi gimana ya, susah cari pengganti Zidan itu. Jourast Jordy itu langka. 5 Tahun waktu itu, pinter cepet hafal. Dibacain gitu aja hafal. Doyan ayam bener dia. Hahaha.
Lucunya kalau udah tidur enggak bisa diganggu. Dibangunin susah, gimana juga banguninnya, haha. Makanya dibatasin waktu jamnya. Pagi dia sekolah dulu, enggak pernah sampai malam. Jam 22.00 WIB paling lama udah teler. Jam 20.00 WIB sering udah tidur. Aktif juga kan dia anaknya tapi enggak rewel.
ADVERTISEMENT
Video
Bedanya Lorong Waktu sama sinetron religi sekarang apa Pak Haji?
Memang enggak mudah membuat cerita, tontonan yang memiliki nilai religius tapi juga menghibur. Kadang terjebak malah jadi ceramah, hilang nilai hiburannya.
Kadang hiburannya terlalu tinggi sehingga kehilangan konten agamanya. Artinya bagaimana secara proporsional dua duanya bisa berbarengan. Sekali lagi saya katakan itu tidak mudah.
Kadang orang cerita dandanannya ini religius, Tapi nilainya enggak ada. Makanya jarang sekali tontonan religius dan menghibur secara proporsional. Sehingga penonton bisa tercerahkan dengan cara yang menarik. Itulah kreativitas.
Publik enggak mau denger ceramah. Gimana unsur tontonan tadi punya nilai yang menginspirasi. Substansinya menyampaikan pesan baik. Tidak mudah dan tidak sulit sebenarnya. Kuncinya mau berpikir lebih keras.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan