Kumparan Logo

Dian Sastrowardoyo Ungkap Perbedaan Main Film Perjuangan dan Romance

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konferensi pers perilisan trailer dan poster Yang Datang dan Yang Pergi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.  Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi pers perilisan trailer dan poster Yang Datang dan Yang Pergi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Dian Sastrowardoyo kembali membintangi film bergenre romance lewat Yang Datang dan Yang Pergi. Dalam film garapan Nurman Hakim dan Nan Achnas tersebut, Dian memerankan Sinta, perempuan yang mewarisi sebuah guest house keluarga beserta berbagai cerita dan rahasia di dalamnya.

Dian Sastrowardoyo mengatakan, bermain dalam film romance memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan ketika dirinya membintangi film bertema perjuangan. Menurutnya, setiap genre memiliki tuntutan tersendiri dalam membangun karakter.

Ia mencontohkan pengalamannya saat mempromosikan film perjuangan sebelumnya. Kala itu, Dian harus menampilkan karakter yang realistis dan tidak terlalu memikirkan penampilan fisik.

“Kalau film romance, biasanya pendekatannya agak beda sih. Kayak kemarin kan aku lagi promo film perjuangan, jadi harus realistis. Enggak boleh cakep!” ujar Dian dalam konferensi pers perilisan trailer dan poster Yang Datang dan Yang Pergi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Konferensi pers perilisan trailer dan poster Yang Datang dan Yang Pergi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Berbeda dengan film perjuangan, Dian menilai film romance biasanya menghadirkan ekspektasi tentang keindahan dan kelembutan. Hal tersebut turut memengaruhi cara seorang aktor membawakan karakter, mulai dari penampilan hingga gerak-gerik.

“Kalau di film ini, film romance, biasanya tuh mereka akan punya ekspektasi akan keindahan, cinta, sesuatu yang lembut, sesuatu yang bagaimana orang biasanya mengimajinasikan objek-objek cinta mereka, sesuatu yang indah, sesuatu yang dirindukan. Nah, harus kita hayati keindahan itu,” tuturnya.

Dian juga menjelaskan bahwa pendekatan tersebut membuatnya perlu menyesuaikan penampilan dan gestur selama berakting. Ia menyebut karakter dalam film romance tidak bisa selalu dibawakan dengan gerakan yang spontan dan keras seperti saat memerankan aktivis.

“Gerak-geriknya juga enggak bisa langsung sendak-seruduk gitu kayak lagi jadi aktivis. Ini harus lembut, mungkin bicaranya juga suaranya dihayati dengan lebih lembut,” kata Dian.

Konferensi pers perilisan trailer dan poster Yang Datang dan Yang Pergi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Dalam Yang Datang dan Yang Pergi, Dian berperan sebagai Sinta, perempuan yang mendapat warisan sebuah guest house keluarga. Namun, warisan yang diterimanya tidak hanya berupa properti, melainkan juga sejarah, rahasia, dan ekspektasi yang melekat pada keluarganya.

Dian tertarik dengan perjalanan karakter Sinta yang berani mengambil alih narasi hidupnya sendiri. Menurutnya, Sinta tidak sekadar menerima jalan hidup yang telah ditentukan oleh generasi sebelumnya.

“Yang saya terinspirasi banget sama karakter Sinta ini adalah bagaimana dia bisa men-take over atau mengambil alih narasi tentang hidupnya,” ungkap Dian.

Ia menilai keberanian Sinta untuk menentukan masa depannya sendiri menjadi salah satu hal menarik dari karakter tersebut.

Film ini juga menjadi momen reuni Dian dengan sutradara Nan Achnas setelah berkolaborasi dalam Pasir Berbisik pada 2001. Dian turut kembali bekerja sama dengan Nurman Hakim setelah film 3 Doa 3 Cinta pada 2008.

Yang Datang dan Yang Pergi dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026.