kumparan
search-gray
Entertainment14 Juni 2020 16:51

Dimas Jayasrana: Drive-in Cinema Sulit Menggantikan Bioskop

Konten Redaksi kumparan
Dimas Jayasrana: Drive-in Cinema Sulit Menggantikan Bioskop (64796)
Pengunjung menonton film di parkiran pusat perbelanjaan daerah Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (3/6). Foto: Fakhri Hermansyah/Antara Foto
Sudah tiga bulan bioskop tutup. Oke, masih ada Netflix, masih ada DVD, masih ada VCD, televisi, bahkan situs-situs ilegal mudah saja diakses jika anda memang pengin nonton film. Lagipula, menurut data Wacana Sinema: Menonton Penonton (2019), 65 persen orang cuma menonton di bioskop 1 sampai 2 kali per bulannya.
Namun, tetap saja, menonton film di bioskop bukan cuma soal siapa tokoh yang mati, siapa mengkhianati siapa, sampai apa plot twist yang film tawarkan. Menonton film di bioskop berarti membeli sebuah produk pengalaman.
Dan bioskop, seperti Dimas Jayasrana bilang, memang “...didesain sebagai ruang gelap untuk menonton, untuk kita mengalami pengalaman paling maksimal akan sinema,” katanya kepada kumparan, Sabtu (13/6). “Itu mengapa dibilangnya bioskop sebagai sebuah temple, kuil.”
Dari kekosongan itu, kemudian muncul alternatif yang sebenarnya tak baru-baru amat berwujud drive-in cinema. Yang pertama adalah Meikarta, yang menggelar drive through dine in bonus nonton film selama bulan Juni. Yang kedua adalah Ergo and Co., yang berencana membikin drive-in cinema selama empat hari di pekan kedua Juli nanti.
Pertanyaannya: dengan pandemi yang tak tahu kapan selesainya, apakah drive-in cinema tersebut mungkin menggantikan posisi bioskop konvensional yang selama ini kita tahu?
kumparan berbincang dengan Dimas Jayasrana, seniman visual sekaligus founder spektakel.id soal kemungkinan drive-in cinema memikat pasar penikmat film Indonesia. Tak hanya itu, ia juga menjelaskan apa saja tantangan yang dihadapi, kekosongan pada UU Perfilman menghadapi drive-in cinema, sampai kultur menonton masyarakat Indonesia yang masih berantakan.
Dimas Jayasrana: Drive-in Cinema Sulit Menggantikan Bioskop (64797)
Dimas Jayasrana. Foto: Facebook/Dimas Jayasrana
Bisakah drive-in cinema menggantikan bioskop konvensional?
Kalau masalah mungkin atau tidak, semua mungkin saja ya. Namanya transisi media itu akan selalu terjadi. Maksudnya gini, dulu enggak ada yang nyangka kemudian behaviour nonton bisa pindah dari TV ke bioskop kemudian ke handphone, layar kecil.
Orang orang generasiku dan di atasku itu mungkin nonton di HP itu challenge-nya gede banget. Sedangkan untuk anakku, nonton di layar kecil itu adalah common sense. Jadi shifting paradigm dalam menonton itu sangat mungkin terjadi.
Meskipun dalam kasus beralih ke drive-in cinema, dia akan berkebalikan dengan tren yang terjadi?
Dia akan butuh waktu. Enggak mungkin terjadi dia bisa menyaksikan dalam waktu singkat misalnya. Dia akan membutuhkan determinasi waktu dulu nih. Ada faktor-faktor yang harus dijawab.
Misalnya begini, kita balik ke HP. Kenapa dulu tidak terbayang? Karena teknologi di HP juga masih konvensional atau sederhana. Sekarang layar HP bisa Amoled. Kemudian audionya sekarang lebih baik. Ada prasyarat teknologi yang bisa dijawab nih sama gadgetnya. Itu yang kemudian menjadi faktor penentu. Artinya, itu juga faktor yang mempengaruhi sebenarnya mempengaruhi keputusan orang untuk menonton di gadget.
Satu hal yang harus kita pahami di sini adalah penonton itu tidak lahir dari batu. Penonton itu dibentuk. Yang membentuk inilah yang kemudian harus bekerja untuk membuat shifting paradigm-nya. Analogi yang sama kita masukin ke drive-in. Mungkin dia tidak akan sepenuhnya bisa menggantikan. Atau kalau pertanyaannya adalah perbandingan apple to apple, tentu saja drive-in tidak akan bisa menggantikan experiencenya bioskop.
Atau kemudian jangan-jangan kita sedang berbicara membandingkan apel dengan jeruk misalnya. Memang different animal aja. Menurutku itu yang akan terjadi. Bahwa ini bukan masalah menggantikan atau enggak sebetulnya. Ini apakah drive in ini bisa menjadi normal baru dalam menonton? Itu pertanyaannya.
Jadi alternatif?
Bukan alternatif juga sebenarnya. Sebuah pilihan kan belum tentu alternatif. Pilihan aja. Kalau alternatif ada kesan kalau dia di bawahnya. It's just different animal.
Dimas Jayasrana: Drive-in Cinema Sulit Menggantikan Bioskop (64798)
Ilustrasi layar tancap. Foto: GEORGES GOBET / AFP
Apa yang ditawarkan bioskop dan yang tidak dimiliki drive-in cinema dan sebaliknya?
Kalau kita kemudian masuk ke wilayah cinema dan segala macem, bioskop itu sejak awal didesain sebagai ruang gelap untuk menonton, didesain untuk kita mengalami pengalaman maksimal akan cinema.
Visualnya, tata suaranya, dan meminimalisir distraksi. Kemudian itu mengapa dibilangnya bioskop sebuah temple, kuil. Kalau drive-in itu kemudian distraksi di sekelilingnya banyak. Lampu jalanan mungkin. Kita harus merujuk pada yang sedang kita bicarakan nantinya. Jadi kemudian bahwa drive-in cinema itu harus punya effort yang besar sekali itu harus dilakukan menurut saya.
Drive-in itu beda tapi sama, sama tapi beda dengan layar tancap ya. Drive-in kan konsepnya kita datang dari mobil. Lalu kita nonton dari mobilnya. Enggak keluar dari mobil. Tapi kalau orang bikin drive-in cinema kemudian orang parkir 50 meter dari layar penonton itu bukan drive-in, itu layar tancap. Itu menurutku definisi harus dipertegas.
Drive-in kita masuk mobil kita, kita lalu menonton, ya ada distraksi. Ada distraksi tempat duduk, kaca mobil, kalau tidak bersih gimana nontonnya. Itu gampang diimajinasikan. Kedua, di Amerika ada drive-in yang kemudian parkir mobilnya sudah didesain, kapasitas 50 mobil. Di tiap titiknya itu ada loudspeaker. Jadi suara pasti nyampai ke kita. Ada juga drive in di Amerika kalau tidak salah dia malah sound-nya bisa Bluetooth dari dalam mobil. Itu otomatis memberikan pengalaman berbeda. Kalau sound jelek enggak akan dapat pengalaman yang maksimal.
Aku nggak bilang kelemahan ya. Ini challenge. Karena dia different animal, maka dia punya different behaviour. Challenge-nya adalah challenge technical. Kalau di AS, Eropa, dia di sebuah situs yang kemudian menyempil ya istilahnya. Dia memang didesain jauh dari lampu jalan. Aku nggak tahu drive-in di sini mempertimbangkan hal tersebut atau tidak.
Dulu kita punya drive-in di Ancol. Aku nggak boleh ke sana karena dipakai buat mobil goyang. Drive-in di manapun. Nah, kita hidup di negara moralis. Kebayang kalau 1-2 kasus ketahuan, bisa ditutup semua drive in. Ada risiko itu. Pemantauannya seperti apa? Di bioskop yang sudah ada sinar infrarednya masih aja ada yang grepe-grepe.
Think the social effect of it, itu challenge. Nggak tau nanti pengelolanya ke sana preventifnya. Dalam konteks bisnis ini mengandung risiko. Bayangin drive-in lo diserang sama FPI atau Satpol PP atas kasus tersebut. Dan kita sering megeneralisasi. Dan itu challenge yang menurutku udah di depan mata.
Kalau kita masukin logic-nya drive-in, pakai mobil, kita tahu yang ditargetin ini kelas menengah atas tepatnya. Sedangkan jelas-jelas bioskop sekarang itu kelas menengah. Kelas menengah ke bawah itu tidak mengakses bioskop atau tidak bisa karena mahal. Tidak hanya tiket, tapi parkir, makan, ada risetnya dulu. Kalau tiket Rp 50 ribu, minum 25, parkir 15, udah 90, udah Rp 100 ribu per orang. It's not cheap entertainment sebenarnya. Untuk bioskop konvensional.
So I don’t know how drive-in can work on the business. Masalah pricing dan segala macam. But obviously menurutku kemudian dia baru bisa memenuhi kelas menengah atas. Ke bawah itu belum dapat karena kemudian mayoritas kelas bawah tidak bisa mengakses bioskop.
Dari dua yang ada, tujuannya adalah karena ini pandemi dan social distancing, maka ada kesempatan buat drive-in menjawab permasalahan itu. Bisakah ini bertahan setelah pandemi selesai?
Kalau hitungan di atas kertas itu tidak. Bisa jadi salah dengan realita lapangan. Aku enggak percaya kalau bisnis seserius itu, membuka bioskop drive-in, dilakukan dengan perspektif mengisi kekosongan, masa pandemi mengambil kesempatan.
Karena itu mengabaikan sekali faktor dinamika perkembangan masyarakat sebagai konsumen. Seperti yang aku bilang, penonton tidak lahir dari batu. Dia dibentuk. Kalau kemudian masyarakat oleh banyak sebab memiliki resistensinya sendiri, kita mau ngomong apa? Artinya, memang sudah menjadi tugas inklusif dari pebisnisnya untuk membuat analisa itu kan: what makes people want to come totmy place?
Misalnya ketika mereka datang lalu mereka merasa tidak terpuaskan dari pengalamannya by any meaning lalu nggak datang lagi. Faktornya banyak banget.
Aku nggak mau jadi sinis atau skeptis ya, everything is possible, ada bisnis besar karena nggak sengaja ya ada, tapi itu anomali. Kita common sense aja. Itu baru satu hal, konsumen. Teknologinya? Aku beneran harus nyobain dulu, mereka pakai proyektor berapa K, 2K? 4K? Sound system-nya gimana? Karena kalau udah drive-in, Dolby 7.1 itu mungkin nggak berguna, ini open space, misalnya. Dan seterusnya, ada faktor teknis yang perlu aku ketahui untuk jadi evaluasi.
Dimas Jayasrana: Drive-in Cinema Sulit Menggantikan Bioskop (64799)
Pengunjung menonton film di parkiran pusat perbelanjaan daerah Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (3/6). Foto: Fakhri Hermansyah/Antara Foto
Jadi lebih ke faktor kepuasan pengunjungnya, ya?
The thing is, dari itu semua yang perlu kita bicarakan adalah kalau kita mau buka usaha seperti ini, lu juga ngomongin AMDAL, lu juga akan ngomongin Perda. Itu yang menurutku orang belum pikirin. Nggak gampang loh, otonomi daerah juga kan. Ya kenapa juga bioskop susah untuk dibangun terus, ya karena persoalan-persoalan itu.
Bisnis layar tancap dulu bekerja karena ada peraturannya. Misalnya, di film layar tancap itu tidak boleh memutar film yang sedang diputar di bioskop. Dia tuh boleh sebulan setelah turun dari bioskop. Lalu titik layar tancapnya itu radiusnya 5 km kalau nggak salah dari bioskop terdekat. Ada peraturan-peraturannya.
Nah, aku nggak tahu apakah drive in ini kemudian masuk ke kerangka UU Perfilman kita misalnya. Karena tidak ada definisinya. Apakah drive-in bioskop, apakah dia layar tancap?
Kalau layar tancap ada di UU?
Ada, pemutaran publik. Baik berbayar maupun tidak. Mungkin drive in bisa pakai itu.
Belum lagi bilang sensor. Karena sensor film bioskop dan non-bioskop jadi berbeda--maksudnya film yang diputar di bioskop dan yang di non-bioskop berbeda.
Let me give you a true example. Kita puter film yang rate nya 18+, katakanlah Deadpool di bioskop. Screening yang nonton kan bisa dilakukan dari penjual tiket, penjaga tiket, 'Eh lo bawa anak kecil loh!' Ya walaupun kemudian penonton kan biasanya pinter sendiri tuh, 'ya kan ini anak gue,' gitu kan haha.
But anyway, ketika lu puter di layar tancap aja, itu open space, siapapun bisa lewat situ, lu nggak bisa jadinya. Jadi film yang bisa diputar di layar tancap itu harus dalam kategori semua umur. Itu peraturan. Nah, bagaimana dengan drive-in? Tergantung sites-nya.
Kalau sites-nya misalnya dia di satu area dengan mal, dan misalnya dia bisa terdengar suaranya ke tamannya di mal, bisa kelihatan dari jauh, itu kan berarti bisa ditonton sama anak-anak. Hayo? Nggak boleh sebenarnya. Kalau sampai itu dibiarkan, itu yang bersalah ya KPI-lah, Lembaga Sensor-lah, Komisi Perlindungan Anak-lah. Itu jadi salah, morally speaking salah, by law salah.
Meski, itu bukan cuma tugasnya yang mau membuat drive-in saja. Dia tugasnya kementerian juga.
Jadi, kemungkinan sulit ya untuk drive-in cinema bisa survive?
Kalau menurutku sih ya, masyarakat kita, apalagi kelas menengah, itu kan jago beromantisme. Karena wacana drive-in itu udah seliwar-sliwer dari awal pandemi. Yang kemudian buat aku ya sebagai ide gapapa, tapi ada aspek yang tidak dibicarakan secara matang soal itu. Misalnya, kultur menonton kita kan masih berantakan.
Dimas Jayasrana: Drive-in Cinema Sulit Menggantikan Bioskop (64800)
Poster film jaman dulu di Jakarta. Foto: ADEK BERRY / AFP
Berantakan seperti apa?
Gini, kita tuh baik pemerintah atau swasta, itu nggak punya program untuk melakukan edukasi ke penonton loh. Apa sih artinya 18+? Apa sih artinya parental guide? Nggak ada. Nah, hal kayak gitu kan yang membentuk kultur, membentuk kesadaran. Bahwa misalnya lu punya anak, lu kan juga harus memilih film yang baik buat anak lu dong.
How do you do that kalau lu nggak punya literasinya? Itu misalnya. Di Inggris itu ada website yang menyediakan informasi tiap film yang diputar di bioskop dan petunjuk untuk orang tua. Orang tua tetap akan memutuskan gue bawa anak gue atau enggak.
Petunjuk itu tidak akan bilang, 'Lu jangan bawa anak lu.' Tapi, ‘Film ini banyak adegan romansanya, gini-gini, masih aman, gini-gini,’ kata reviewer-nya yang ditugaskan untuk itu. Tapi orang tuanya merasa, 'Ah, anak gue jangan ampe nonton kayak gini,' yaudah, terserah lu. Itu public service ya, dibiayain oleh negara dan industri, melalui pajak.
Penonton kita dibiarin, terserah lu mau nonton apa. Tapi kalau nanti jadinya ter-brainwashed, bad behaviour kalau nonton, itu tetap salah lu, bukan salah gue.
Jadi melemparkan tanggung jawab tanpa bikin rambu-rambu?
Ya, kan itu definisi Indonesia, melemparkan masalah ke masyarakat.
Bukan hal baru, ya.
Jangan terkejut.
***
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.
Yuk, bantu donasi untuk mengatasi dampak wabah corona.