Kumparan Logo

Diminta Batalkan Konser di Israel, Lorde Masih Pikir-pikir

kumparanHITSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lorde (Foto: REUTERS)
zoom-in-whitePerbesar
Lorde (Foto: REUTERS)

Keputusan AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel tidak hanya berpengaruh pada memanasnya situasi politik global, tetapi juga berdampak pada penyanyi pop dunia, Lorde.

Lorde mulai mempertimbangkan untuk membatalkan konser yang rencananya akan digelar di Tel Aviv, Israel. Situasi ini tidak lepas dari banyaknya protes dari para penggemar terutama di negara asalnya, Selandia Baru terkait polemik Yerusalem.

Dilansir The Guardian, penyanyi berusia 21 tahun itu menerima berbagai protes melalui sejumlah pesan di media sosial. Mereka kebanyakan meminta dirinya untuk membatalkan konser di Tel Aviv sebagai bentuk protes pendudukan Israel atas Palestina.

Melalui akun Twitternya, pelantun hits 'Green Light' itu mengatakan bahwa dia menerima saran dan mempertimbangkan semua opsi terkait situasi politik saat ini.

"Noted! (Saya) Sudah banyak berbicara dengan banyak orang tentang hal ini dan akan mempertimbangkan semua opsi. Terima kasih telah mengajari saya dan saya akan terus mempelajarinya," kata Lorde seperti dikutip dari akun Twitternya.

X post embed

Pada Kamis (21/12), dua orang penggemar Lorde yang juga warga Selandia Baru menulis sebuah surat terbuka di sebuah portal lokal yang bertujuan untuk meminta sang idola membatalkan konsernya di Tel Aviv. Mereka masing-masing bernama Nadia Abu-Shanab dan Justine Sachs.

"Untuk Lorde... kami adalah dua gadis muda yang berasal dari Aotearoa (nama lain Selandia Baru), satu Yahudi dan lainnya adalah seorang Palestina. Hari ini, jutaan orang menentang kebijakan penindasan Pemerintah Israel, pembersihan etnis, pelanggaran hak asasi manusia, dan pendudukan," tulisnya.

"Sebagai bagian dari perjuangan ini, kami percaya bahwa boikot secara ekonomi, intelektual, dan seni adalah cara efektif untuk menentang kejahatan ini. Cara seperti ini bekerja dengan efektif sewaktu melawan aprtheid di Afrika Selatan, dan kami berharap ini bisa berjalan seperti itu. Kita bisa memainkan peran penting dalam menantang ketidakadilan saat ini. Kami mendesak Anda untuk bertindak sesuai semangat progresif orang-orang Selandia Baru," lanjutnya.

Penyanyi, Lorde. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Penyanyi, Lorde. (Foto: Wikimedia Commons)

Sejak mengumumkan tanggal dan tujuan tur pada 18 Desember, Lorde telah dikritik oleh para penggemar tentang keputusannya menggelar konser di Tel Aviv.

Walaupun tetap ada yang mendukungnya, dengan mengatakan bahwa politik seharusnya tidak menjadi penghalang bagi musik dan seni.

Kampanye boikot Israel dari segi ekonomi dan politik pertama kali digulirkan dalam bentuk sebuah gerakan yang dinamakan BDS (Boycott, Divestment, and Sanctions) pada tahun 2005.

Sejumlah tokoh seni ikut dalam mengkampanyekan gerakan ini seperti musisi Brian Eno, mantan vokalis Pink Floyd Roger Waters, penulis Arundhati Roy, dan Eduardo Galeano.

Kini, setelah Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Rabu (6/12), sedikitnya 100 pekerja seni termasuk aktris Tilda Swinton, Julie Christie, dan aktor Mark Ruffalo menandatangani surat terbuka di Guardian yang mengecam keputusan tersebut.