kumparan
25 Jun 2018 11:57 WIB

Dinda Kirana Gemar Menyantap Makanan Ekstrem

Dinda Kirana (Foto: Munady Widjaja/kumparan)
Salah satu selebriti Tanah Air yang suka melakukan traveling adalah aktris muda Dinda Kirana. Namun, kegiatan yang dilakukannya saat sedang traveling bisa dibilang tidak biasa. Sebab, dia bertualang untuk menyantap kuliner ekstrem.
ADVERTISEMENT
Saat berkunjung ke Negeri Ginseng, perempuan berumur 23 tahun ini menceritakan pengalamannya ketika mencoba makan makanan ekstrem yang ada di sana.
So far, aku traveling itu di Korea nyobain live octopus (gurita hidup), tapi itu yang di-chop, sih. Soalnya aku takut (guritanya) stuck di leher,” ujar Dinda saat ditemui di kawasan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
“Ada (orang) yang mati juga karena guritanya stuck di leher. Terus, (makan) larva atau kupa yang Korea. Sebenarnya itu agak kurang enak, sih, cuma ya sudah, aku tahu (rasanya),” sambungnya.
Dinda Kirana (Foto: Munady Widjaja/kumparan)
Ketika akan memakan gurita yang masih hidup itu, pelantun ‘Hari yang Cerah’ ini sudah memastikan terlebih dulu bahwa makanan tersebut aman untuk dikonsumsi.
ADVERTISEMENT
“Walaupun yang aneh-aneh, aku make sure si gurita itu aku chop, supaya enggak stuck (di leher). Cuma pas dimakan, si tentakelnya itu kayak masih ngisep gigi sama lidah. Seru saja,” beber Dinda.
Selain itu, perempuan kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, ini juga menceritakan pengalamannya saat menyantap makanan ekstrem ketika dirinya berkunjung ke beberapa negara yang berada di kawasan Asia.
“Di Thailand (makan) scorpion (kalajengking), menurut aku itu bumbunya enak, gurih. Cuma, susah dikunyah karena keras. Terus, di Taipei aku nyobain chou tofu. Itu tahu bau, katanya sih baunya kayak rajanya sampah gitu. Cuma, pas dimakan enak,” ucap Dinda.
Meski makanan tersebut memiliki bau yang tidak sedap, pemeran sinetron ‘Kepompong’ ini sampai mencoba dua jenis chou tofu. Menurutnya, rasa makanan itu sama dengan salah satu hidangan yang ada di Indonesia.
ADVERTISEMENT
“Aku nyobain (chou tofu) yang digoreng sama yang di-steam. Sebenarnya, kalau yang digoreng tuh rasanya kayak tahu gejrot. Kalau tahu gejrot, habis makan kurang sedap wanginya karena bawang. Kalau ini, karena tahunya diolesin bumbu yang fermented,” katanya.
Menurutnya, mencoba makanan ekstrem itu bisa memberikan cerita dan pengalaman baru. Setelah beberapa kali melahap makanan tersebut, perempuan kelahiran 30 April 1995 ini tidak mengalami gangguan terhadap pencernaannya.
“Aman-aman saja sih, perut aku. Kenapa (makanan) itu dibuat, pasti bisa dimakan sama orang dong. Selama aku makannya enggak over, itu okelah. Soalnya, enggak semua orang berani makan makanan ekstrem, kan,” tandasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan