Film AI 'Gods Don't Give Gifts' Incar Nominasi Best Animated Feature Oscar

Film AI 'Gods Don't Give Gifts' karya YouTuber Gossip Goblin atau Zack London dan Studio AI Fable dijadwalkan tayang di bioskop Amerika Serikat pada Desember mendatang. Jelang penayangannya, para kreator dikabarkan berencana mengajukan karya tersebut sebagai nominasi Best Animated Feature Oscar.
Dilansir Variety, Fable memang sengaja menempatkan proyek ini lebih dekat dengan musim kampanye Oscar yang konvensional. Langkah ini sekaligus menjadi ujian untuk melihat bagaimana sikap Academy terhadap film yang secara terbuka menggunakan teknologi AI.
Tak hanya itu, para kreator juga ingin memastikan apakah proyek buatan AI mampu bersanding dengan film-film yang dianggap sebagai karya sinema terbaik tahun ini. CEO Fable, Edward Saatchi, mengatakan bahwa ini menjadi momen bersejarah dan penting dalam dunia animasi.
“Selama lima tahun, pertanyaannya adalah kapan film buatan AI akan memenangkan Oscar? 'Gods Don’t Give Gifts' adalah film pertama yang berpeluang meraih nominasi, dan setelah itu, segalanya mungkin terjadi,” ujar Saatchi dalam sebuah pernyataan.
'Gods Don't Give Gifts' disusun sebagai antologi dari empat cerita pendek yang dirangkai menjadi satu film. Ceritanya menyorot apa yang terjadi pada hasrat dan naluri manusia ketika batas-batas fisik mulai hilang: tubuh yang bisa di-upgrade, memori yang diperjualbelikan, hingga kesadaran yang bisa dipindahkan.
London menegaskan film ini bukan kisah kiamat yang klasik. Dunia di dalamnya tidak runtuh dalam semalam. Sistem, pasar, dan teknologi tetap berjalan sebagaimana mestinya, dan manusia tampak makmur. Yang perlahan memudar justru kemanusiaan seperti yang kita kenal.
London berharap penonton dapat menyikapi premisnya dengan serius, mengikuti dampak emosionalnya, dan membiarkan hasilnya menjadi sesuatu yang aneh, jenaka, sekaligus mengharukan.
“Saya membuat film-film ini menggunakan AI, hal yang menurut sebagian orang terasa ironis. Namun, menggunakan suatu medium untuk menguji medium itu sendiri adalah salah satu praktik seni yang paling klasik," kata London.
Dalam proses kreatif, lanjut London, AI memberikan kemampuan untuk menuangkan cerita ke layar. Menurut London, AI mampu mewujudkan apa yang ada dalam imajinasinya dengan tingkat akurasi yang luar biasa.
"Teknologi ini memungkinkan saya dan tim kecil yang berbakat untuk membayangkan dunia yang megah, hingga ke detail properti terkecil, dan mewujudkannya dengan tingkat akurasi luar biasa," ujar London.
"Mulai dari visual memukau yang menampilkan makhluk raksasa, pesawat luar angkasa, dan kera yang bisa berbicara, hingga detail sepatu kets usang yang dikenakan pemeran figuran di latar belakang," tambahnya.
Kehadiran film 'Gods Don’t Give Gifts' tentunya akan menjadi ujian terbesar bagi kesediaan Academy untuk menerima film yang sepenuhnya dibuat dengan AI. Menyusul larangan mereka pada bulan Mei lalu terhadap penggunaan aktor AI atau naskah yang disusun dengan bantuan AI.
Namun secara umum, berdasarkan aturan kelayakan yang telah dipublikasikan, penggunaan perangkat AI tidak menambah maupun mengurangi peluang untuk meraih nominasi dan divisi terkait di Academy akan menilai pencapaian tersebut dengan mempertimbangkan sejauh mana peran manusia sebagai inti dari penulisan kreatif saat menentukan film mana yang layak diberi penghargaan.
“Jika muncul pertanyaan terkait penggunaan 'Generative Artificial Intelligence' (Kecerdasan Buatan Generatif) tersebut, Academy berhak meminta informasi lebih lanjut mengenai sifat penggunaan dan peran kepenulisan manusia,” demikian bunyi aturan tersebut.
