Kumparan Logo

Film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Tayang Perdana di Jakarta Film Week

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu tayang perdana di Jakarta Film Week. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu tayang perdana di Jakarta Film Week. Foto: Dok. Istimewa

Film terbaru Hanung Bramantyo, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, tayang perdana di Jakarta Film Week, Sabtu (26/10) lalu. Film ini dibintangi oleh Refal Hady, Rangga Natra, dan Carmela.

Para pemain merasa antusias karena film ini akhirnya tayang dan mereka mendapat masukan dari penonton.

Hanung selaku sutradara mengaku tak pernah meniatkan film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu rilis melalui penayangan khusus seperti itu. Ia menjadikan momen ini untuk melihat respons dari penonton terkait karya terbarunya.

"Saya gak pernah expect film ini bisa masuk festival. Tapi kemarin di-email katanya bisa main di JFW, senang banget," kata Hanung Bramantyo di CGV Grand Indonesia, Thamrin Jakarta Pusat.

Film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu tayang perdana di Jakarta Film Week. Foto: Dok. Istimewa

Sementara itu, Refal Hady yang memerankan karakter Daku mengaku senang melihat respons dari penonton yang turut terbawa suasana dari film terbarunya itu.

"Tadi reaksinya campur aduk sih ya, abis dikasih yang fun tiba-tiba banyak makna kayak gitu," tutur Refal.

Refal mengaku beberapa hal dari karakter Daku yang mirip dengan dirinya. Sehingga, ia tak kesulitan untuk mendalami peran tersebut.

"Tekanannya banyak gitu sama, ya. Cuma memang jalan hidupnya sedikit berbeda," katanya sembari tertawa.

Film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu tayang perdana di Jakarta Film Week. Foto: Dok. Istimewa

Film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu berkisah tentang petualangan seorang penulis muda berbakat bernama Daku Ramala (Refal Hady) yang tertuntut dua pertanyaan penting dalam hidupnya yang menyangkut soal waktu.

Pertama, kapan dia harus memulai menulis novel debutnya setelah sekian tahun terjebak dalam tulisan pesanan penerbit. Kedua, kapan dia harus menjalani cinta secara serius sebagaimana harapan ibunya.

Pertanyaan pertama sangat mudah bagi Daku untuk dijawab. Namun pertanyaan kedua, sangat menyulitkan dirinya sampai dia kesulitan memulai menulis karya debutnya.