Kumparan Logo

Film NAZA tentang Gaza Diputar di Sala de Arte, Ketuk Empati Penonton

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konferensi pers Malang World Cinema di Kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (8/10/2026).
 Foto: Aprilandika Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi pers Malang World Cinema di Kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (8/10/2026). Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Program Sala de Arte resmi menghadirkan film dokumenter NAZA yang menceritakan tentang Gaza dalam pemutaran perdananya. Film tersebut dipilih untuk menyuarakan pesan kemanusiaan sekaligus mengajak penonton membangun empati terhadap Palestina.

Naza sendiri adalah film dokumenter investigasi yang mengupas pembunuhan sistematis dan jatuhnya korban sipil di Jalur Gaza oleh militer Israel. Film tersebut Disutradarai dan ditulis oleh Yuval Abraham dan Rachel Szor.

Film tersebut tayang perdana di Festival Film Venesia pada 10 September 2026 dan Memenangkan Special Jury Prize di festival itu.

Sala de Arte merupakan program kolaborasi bioskop Cinépolis dan platform KlikFilm. Film-film yang dihadirkan dalam program tersebut tidak hanya dikurasi berdasarkan nilai sinematik, tetapi juga karena memiliki cerita dan pesan yang relevan dengan situasi kemanusiaan saat ini.

Direktur KlikFilm, Frederica, mengatakan pihaknya sengaja menghadirkan NAZA karena film tersebut dinilai mampu menyentuh sisi emosional penonton.

“Ini adalah film yang bisa menyentuh hati kita. Seperti film NAZA, di mana kita bisa memberikan empati kita untuk Palestina,” ujar Frederica dalam konferensi pers di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.

Frederica mengungkapkan, pihaknya bahkan berupaya mendapatkan lisensi penayangan NAZA dari pasar film internasional agar film tersebut bisa disaksikan masyarakat Indonesia di layar lebar.

“Sampai kemarin ini saya sampai kejar-kejar, harus beli NAZA untuk Indonesia. Jadi benar-benar sesuatu yang pengin kita suguhi, film yang bagus bisa kita tonton,” ucapnya.

Menurut Frederica, film-film seperti NAZA memberikan pengalaman berbeda bagi penonton. Sebab, pengalaman menonton tidak hanya berhenti pada hiburan, tetapi juga dapat menyentuh emosi.

Konferensi pers Malang World Cinema di Kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (8/10/2026). Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

“Kadang-kadang kita bukan cuma mau nonton sekadar hiburan, tapi sesuatu yang bisa mengisi emosi kita sampai semua badan kita berbicara dan mengeluarkan emosi,” tutur Frederica.

Penayangan NAZA juga mendapat perhatian dari sutradara dan penulis skenario Gina S. Noer. Ia bahkan sengaja mengajak anaknya yang masih duduk di bangku SMA untuk menyaksikan film dokumenter tersebut.

“Buatku ini adalah kesempatan biar dia melihat bahwa ada yang lebih dalam dari sekadar cerita, ada pemaknaan yang lebih dalam,” ungkap Gina.

Sala de Arte nantinya akan tayang secara reguler setiap hari di enam lokasi bioskop Cinépolis. Selain Sala de Arte, kerja sama Cinépolis dan KlikFilm juga akan memperluas akses terhadap film-film festival dunia melalui Malang World Cinema 2026.

Perhelatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 14 hingga 21 November 2026 di Cinépolis Malang Town Square.