Film ‘Street Punk! Banda Aceh’ hingga ‘Jihad Selfie’ Eksis di London

Gedung Bioskop Deptford Cinema di wilayah Tenggara London, 4 Maret lalu, dipenuhi penonton yang tampak begitu antusias menyaksikan pemutaran perdana film dokumenter 'Jihad Selfie'. Film ini menjadi pembuka dalam acara festival film Indonesia bertajuk ‘Films of the Archipelago’.
'Jihad Selfie' disutradarai oleh Noor Huda Ismail, pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian atau The Institute for International Peace Building. Noor juga pernah menerbitkan buku berjudul 'Temanku Seorang Teroris', tentang pengalamannya sekolah di sebuah pesantren di Jawa Tengah bersama dengan salah seorang pelaku bom bunuh diri di Bali.
'Jihad Selfie' yang pertama kali diputar di Jenewa, Swiss, pada pertengahan tahun lalu ini mengikuti kehidupan seorang remaja berumur 16 tahun asal Aceh, Teuku Akbar Maulana. Akbar mendapatkan beasiswa dari pemerintah Turki untuk belajar setingkat SMA di sekolah Imam Hatib, Kayseri.

Dua teman SMA-nya, yang juga warga negara Indonesia, telah bergabung bersama ISIS melalui sosial media.
Dalam film digambarkan betapa gencarnya kampanye media sosial ISIS dalam mempengaruhi remaja di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia untuk mendukung dan bergabung dalam organisasi tersebut.


Menurut keterangan Kedubes Indonesia di Inggris, seusai pemutaran film juga diselenggarakan diskusi bersama Anton Alifandi, Analis Politik dan Keamanan Asia Tenggara dari IHS Markit Country Risk dan Dr Michael Buehler, pakar mengenai Indonesia dan Islam dari SOAS University.
Kehadiran mereka untuk memperluas wawasan para penonton yang umumnya berasal dari Inggris, mengenai fenomena yang terjadi beberapa tahun terakhir ini.
Selain 'Jihad Selfie', film Indonesia lain yang tayang dalam festival tersebut antara lain 'Street Punk! Banda Aceh (6 Maret), Jalanan “Streetside” (7 Maret), 'Lovely Man' (16 Maret), 'Headshot' (25 Maret) dan 'Pintu Terlarang' atau “Forbidden Door” (26 Maret).
Film dokumenter "Street Punk! Banda Aceh" merupakan karya jurnalis Maria Bakkalapulo dan pasangan produsernya Niall Macaulay. Film ini berhasil mengundang rasa kagum penikmat film Indonesia di London, Inggris.
"Filmnya sangat menarik dan tidak dapat dibayangkan ada sekelompok anak remaja dengan gaya Barat di Aceh yang budaya sangat ketat," ujar Grabiella kepada Antara London usai menonton film 'Street Punk! Banda Aceh' baru-baru ini.
Film 'Street Punk! Banda Aceh' menceritakan kisah kehidupan anak remaja di Banda Aceh yang tergabung dalam komunitas punk yang sangat populer di negara Barat, tumbuh 11 tahun lalu, setelah terjadinya gempa bawah laut besar memicu tsunami di Samudera Hindia, yang menewaskan 167.000 orang di Aceh.
