Kumparan Logo

GJLS Takut Hadapi Ular dan Buaya saat Workshop Film GJLS: Berapi-api

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konferensi pers dan screening film "GJLS Berapi-api" di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi pers dan screening film "GJLS Berapi-api" di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Para pemain film GJLS: Berapi-api menjalani sejumlah pelatihan sebelum memulai proses syuting. Salah satunya workshop bersama Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) untuk mempelajari teknik dasar pemadaman api hingga penyelamatan hewan.

Namun, bagi Ananta Rispo, menghadapi api bukan satu-satunya tantangan selama persiapan. Ia justru mengaku takut ketika harus berhadapan dengan ular dan buaya.

Rispo mengatakan seluruh pemain yang terlibat dalam film tersebut diwajibkan mengikuti pelatihan di tempat pendidikan petugas Damkar di Ciracas, Jakarta Timur. Pelatihan berlangsung selama tiga hari sebelum proses syuting dimulai.

“Semua pemain yang terlibat di film GJLS: Berapi-api diwajibkan ikut diklat sama dinas kebakaran karena ini film tentang Damkar. Jadi dipastikan minimal teknik dasar dan teori-teori dasar tentang pemadaman api ringan maupun besar kita semua tahu,” kata Rispo saat konferensi pers film GJLS: Berapi-api di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Konferensi pers dan screening film "GJLS Berapi-api" di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Rispo kemudian menceritakan pengalaman yang paling membuatnya khawatir selama workshop. Menurutnya, meskipun ada petugas Damkar yang mendampingi, ia tetap merasa takut ketika berhadapan langsung dengan hewan.

“Yang paling sulit ketika workshop adalah kalau api kita ada yang jagain. Ini saya kalau workshop berhadapan sama buaya, sama ular. Saya enggak percaya tuh dijagain itu, karena tetap ada naluri kehewanannya kan. Jadi saya tetap takut aja sama ular, buaya,” ujarnya.

Sementara itu, Rigen Rakelna menjelaskan bahwa para pemain juga mempelajari berbagai teknik pemadaman api. Mulai dari menggunakan handuk basah, alat pemadam api ringan (APAR), hingga mobil pemadam dengan tekanan air tinggi.

Menurut Rigen, pelatihan tersebut membuat para pemain lebih siap ketika harus menjalani adegan yang melibatkan api sungguhan selama syuting.

Sejumlah artis Rgen, RispoHifdzi Khoir, Carissa Perusset dan Ebel Cobra saat hadir di konferensi pers film GJLS Berapi api di Epicentrum, Jakarta, Kamis, (29/10/2026). Foto: Agus Apriyanto

Selain pengalaman workshop, proses syuting GJLS: Berapi-api juga menyimpan cerita tersendiri bagi Yono Bakrie. Ia mengaku harus menjalani fisioterapi setelah terlibat dalam adegan bersama trio GJLS.

Dalam salah satu adegan, Yono yang di filmnya diceritakan tengah tersangkut pagar harus berhadapan dengan Rigen, Rispo, dan Hifdzi Khoir yang berperan sebagai petugas Damkar dan berusaha menolong. Ia menyebut ketiganya melakukan adegan secara total hingga beberapa aksi fisik terasa benar-benar terjadi.

“Kalau ditanya bagaimana perasaannya syuting di GJLS: Berapi-api, saya jawab fisioterapi! Jujur saya pulang dari situ fisioterapi. Karena kalau syuting bareng aktor kondang bisa akting, enggak beneran nariknya. Nah, ini kan tiga orang, ditariknya tuh beneran!” ujar Yono sambil berkelakar.

“Susah sih enggak, cuma tinggal menerima apa aja nih yang datang dari tiga orang ini. Jadi sebetulnya tidak ada yang saya lakukan. Saya cuma pasrah seharian di situ konsepnya. Karena mereka juga aktingnya total, jadi saya harus ke fisioterapi,” tambahnya.

Rigen dan Rispo pun mengakui bahwa Yono menjalani adegan tersebut dengan totalitas. Bahkan, ekspresi kesakitan yang ditampilkan Yono disebut terlihat sangat nyata.

Konferensi pers dan screening film "GJLS Berapi-api" di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Dalam kesempatan yang sama, Ananta Rispo juga mengungkap nazarnya menjelang penayangan film GJLS: Berapi-api. Berbeda dari film sebelumnya, ia kali ini memilih memberikan sesuatu kepada penonton yang sudah membeli tiket.

Rispo mengaku sempat trauma membuat nazar setelah film pertama GJLS. Ia bahkan sempat mengeluarkan uang untuk membuat SIM, sementara hasil film tersebut belum balik modal.

Namun, untuk film terbarunya, Rispo berjanji akan membuat video ucapan sesuai permintaan penonton yang menyaksikan GJLS: Berapi-api.

“Mulai tanggal 5 saya akan ngucapin video apa pun yang orang minta kalau dia nonton film GJLS,” kata Rispo.

Rigen kemudian menjelaskan bahwa Rispo akan melayani maksimal 20 permintaan video setiap harinya. Penonton cukup mengirimkan foto tiket bioskop dan mengunggahnya dengan menandai akun GJLS: Berapi-api, GJLS Entertainment, serta Ananta Rispo.

“Kalau mau minta video ulang tahun, wisuda, nikah, atau UMKM dagangannya, mulai tanggal 5 sampai film selesai tayang, saya akan 20 orang per hari,” tutur Rispo.

Film GJLS: Berapi-api disutradarai oleh Monty Tiwa dan dibintangi Rigen Rakelna, Ananta Rispo, Hifdzi Khoir, serta sejumlah pemain lainnya. Film ini mengangkat profesi petugas pemadam kebakaran yang menurut produser Indra Yudhistira masih jarang mendapat sorotan, meskipun kerap hadir membantu masyarakat dalam situasi darurat.

Melalui film ini, tim produksi juga ingin memberikan apresiasi kepada para petugas Damkar yang menjalankan tugasnya di tengah berbagai situasi berbahaya. GJLS: Berapi-api dijadwalkan tayang di bioskop mulai 5 November 2026.