kumparan

Hanung Bramantyo Wujudkan Mimpi Lewat Film ‘Bumi Manusia’

Hanung Bramantyo.
Hanung Bramantyo. (Foto: Munady)
Kebahagiaan dirasakan Hanung Bramantyo ketika didapuk menjadi sutradara dalam film ‘Bumi Manusia’, yang diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer. Bagi dia, menyutradarai film tersebut merupakan mimpi yang menjadi kenyataan.
ADVERTISEMENT
Sebab, Hanung sebelumnya sempat menawarkan diri secara langsung kepada pihak Pram untuk menggarap novel ‘Bumi Manusia’ menjadi film. Namun, saat itu, pihak Pram menolak.
Hingga akhirnya, Hanung mendapat tawaran dari pihak rumah produksi Falcon Pictures untuk menyutradarai film ‘Bumi Manusia’. Kesempatan itu tak ia sia-siakan.
“Akhirnya saat saya main ke Falcon, tiba-tiba ditawarin sama Pak Naveen, mau enggak (jadi sutradara) ’Bumi Manusia’? Ah, siapa sih yang enggak mau, buat saya itu mimpi jadi kenyataan,” katanya ketika ditemui di lokasi syuting ‘Bumi Manusia’, kawasan Gamplong, Yogyakarta, Kamis (24/5).
Selain mampu mewujudkan mimipinya untuk memvisualisasikan novel tersebut, Hanung juga mampu mewujudkan mimpinya untuk memiliki sebuah studio yang dapat digunakan untuk berbagai set.
ADVERTISEMENT
Dalam penggarapan film tersebut, Hanung mendapat kesempatan untuk membut sebuah set besar dalam studio, yang juga digunakan untuk penggarapan film ‘Sultan Agung’.
Tak tanggung-tanggung, lahan seluas 2,5 hektare disulapnya menjadi kota Surabaya yang merupakan setting dalam novel tersebut.
“Tempat ini akan diberikan, dihidupi, dan akan dikembangkan oleh produser-produser dari PH-PH,” katanya.
Hanung Bramantyo
Hanung Bramantyo. (Foto: Giovanni/kumparan)
Studio yang dihibahkan oleh Mooryati Soedibyo itu mempunyai potensi untuk digunakan hingga sepuluh hektare. Bekerja sama dengan pemerintahan sekitar, terwujudlah sebuah studio yang bisa digunakan untuk berbagai macam syuting itu.
“Film-film yang dibangun setnya di sini bisa mendapatkan box office karena itu satu-satunya cara tempat ini bisa berkembang,” ungkapnya.
Novel ‘Bumi Manusia’ menceritakan tentang kisah cinta antara Minke dan Annalies. Minke yang berdarah pribumi, harus mencintai Annalies yang memiliki darah Eropa. Padahal di novel tersebut, digambarkan jarak yang begitu jauh antara masyarakat pribumi dan Indo (keturunan).
ADVERTISEMENT
Selain itu, diceritakan pula sosok Nyai Ontosoroh ibu Annalies yang memiliki kepribadian yang cukup unik. Pribumi yang dinikahi secara tidak sah oleh Belanda ini, memiliki intelektualitas yang luar biasa meski dirinya tak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi.
Iqbaal terpilih untuk memerankan sosok Minke. Sementara sosok Annalies diperankan oleh Mawar De Jongh. Nyai Ontosoroh sendiri akan dimainkan oleh Sha Ine Febriyanti.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan