Hobi Baru Calvin Jeremy: Memotret dengan Kamera TLR

Selain tengah menggeluti hobi sekaligus passion-nya dalam bidang musik, Calvin Jeremy juga mulai mendalami fotografi. Penyanyi berusia 26 tahun ini memulai hobi fotografinya sejak tiga tahun yang lalu.
Ketertarikannya terhadap fotografi bermula ketika ia mendapati betapa indahnya foto-foto yang dibagikan orang di Instagram. Ia pun mencari tahu bagaimana cara menghasilkan foto yang bagus dan memutuskan membeli sebuah kamera digital.
Calvin kemudian menjajal lensa jadul (zaman dulu) untuk mengabadikan berbagai momen. Rupanya, ia menyukai hasil foto menggunakan legacy lens tahun 80-an yang dibelinya secara online tersebut.

"Pada saat coba mirrorless pakai lensa yang jadul, hasilnya tuh dia punya tone, karakter, terus filmnya beda. Wah, kalau pakai lensa jadul aja kayak gini, gimana pakai kamera jadul," ujar Calvin ketika bertandang ke kantor redaksi kumparan (kumparan.com) baru-baru ini.
Suatu ketika, Calvin ingat ia pernah menemukan kamera twin lens reflex (TLR) milik almarhum kakeknya. Setelah dibetulkan, kamera jadul yang telah berusia 50 tahun itu ternyata masih dapat digunakan.
"Ini kamera lama, Rolleiflex tahun 60-an. Tadinya kamera ini sudah jamuran, tapi ternyata masih bisa dibetulkan. Selain punya ikatan atau story, biasanya barang antik itu lebih tahan lama karena sifatnya mechanical," ungkap Calvin.

Bagi Calvin, kamera TLR tersebut bukan sekadar barang antik biasa. Ada sejarah yang melekat pada benda kepunyaan almarhum kakeknya itu.
"Aku enggak sempat ketemu Opung. That what makes this camera even more sentimental. Meski enggak pernah ketemu, at least dia meninggalkan sesuatu," aku pelantun lagu 'Nostalgia' tersebut.
"Bukan warisan atau apa, tapi kamera yang mungkin jadi favorit dia pas zaman mudanya. Zaman dulu, kalau orang enggak banyak duit, enggak bisa beli kamera ini. Pasti ini seberharga itu buat opung aku," sambungnya.
Calvin kemudian mempelajari sendiri cara menggunakan kamera TLR melalui berbagai video di YouTube. Sejak awal tahun ini, ia pun keranjingan mengasah kemampuannya dalam mengabadikan momen dengan kamera tersebut.
"Ini sudah rol ketiga. Rol pertama, dari 12 jadi satu foto. Rol kedua, karena terlalu excited, aku salah tarik. Jadi, dia ngembang. Kalau ngembang itu berarti dia kebakar, banyak cahaya masuk. Ini rol ketiga. Hopefully, dari rol ini jadi semua," tuturnya.
Menurut Calvin, kamera TLR yang bersifat medium format itu kerap disebut sebagai "kamera mahal". Sebab, setiap satu rolnya hanya memuat 12 film. Hanya saja, Calvin tak sependapat.
"Hobi ini masih terjangkau secara harga. Harga rol Rp 50--100 ribu, cuci Rp 70 ribu. Kayak kita makan sehari-hari aja, jajan," ucapnya.
Sejak mulai menggunakan kamera TLR tersebut, minat Calvin terhadap fotografi semakin bertambah. Ia gemar berburu foto di berbagai kesempatan.
Di samping itu, selain memuaskan hati lewat foto-foto yang dihasilkan, hobi ini juga membuat Calvin belajar untuk menghargai proses.
"Kalau misal kamera digital kan kita jepret, edit-edit di handphone, jadi. Kalau ini tuh kita butuh hitung cahayanya, shutter speed-nya berapa, f-nya berapa, pakai film ASA-nya berapa," ujar Calvin.
"Terus, aku jadi belajar sabar banget pakai ini. Enggak semua momen difoto di-post, tapi lebih menghargai proses. Jadi, instead of nikmatin hasil, aku menghargai proses. Gimana kita harus pergi untuk beli film, cuci filmnya, dan lain-lain," tandasnya.
