Kumparan Logo

Hobi Evan Sanders Main Age of Wushu Dynasty: Gue Suka Jurus Pemabuk

kumparanHITSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Evan Sanders (Foto: Munady Widjaja)
zoom-in-whitePerbesar
Evan Sanders (Foto: Munady Widjaja)

Nama Evan Sanders melambung sejak memerankan tokoh Ibel dalam film 'Dealova' pada 2005 silam. Wajah Evan kemudian juga menghiasi sejumlah film layar lebar, seperti 'My Last Love', 'Sinaran', dan 'Ruqyah'. Ia membintangi pula beberapa sinetron serta FTV.

Siapa sangka, di balik sosok gagah dan karismatiknya, Evan merupakan seorang mobile gamer. Kegemarannya tersebut bermula sejak smartphone yang memuat berbagai aplikasi permainan mulai bermunculan.

"Gue bukan tipe gamer yang (memainkan game) play station atau PC, lebih kepada mobile game," ucap Evan dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu.

"Gue mulai suka game karena handphone aja. Handphone tuh praktis dibawa ke mana-mana, easy gaming. Awalnya nge-game pas iPhone 4 keluar. Makanya, sekarang gue cari handphone yang layarnya gede-gede," tambahnya dengan nada bersemangat.

Pemilik nama lengkap Stevanus Alexanders itu tak pernah melewatkan hari-harinya tanpa memainkan mobile games. Jeda dalam kegiatan syuting pun dimanfaatkannya untuk melakukan kegemarannya tersebut.

Menurut Evan, bermain mobile games merupakan cara terbaik untuk membunuh waktu. Memainkan mobile games dirasa jauh lebih baik olehnya daripada melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat.

"This is the best thing to kill time! Daripada kita bandel di luar? Ya, kan? Daripada party-party enggak jelas? Kalau memang enggak ada kerjaan, ya udah, main game aja," ujar laki-laki berusia 36 tahun itu.

Evan Sanders (Foto: Munady Widjaja)
zoom-in-whitePerbesar
Evan Sanders (Foto: Munady Widjaja)

Role-playing game (RPG) merupakan jenis permainan yang digemarinya. Saat diwawancara, Evan mengaku tengah menggandrungi Age of Wushu Dynasty. Setahun sudah ia rutin memainkan permainan MMORPG (massively multiplayer online role-playing game) dengan tema bela diri kungfu tersebut.

"Gue suka kungfu. Gue, tuh, dulu suka jurus pemabuk, itu ada di sini (Age of Wushu Dynasty). Tongkat pemukul anjing juga. Jadi, segala jenis kungfu. Weapon-nya juga beda-beda, dari tongkat, pedang, terus ada hidden weapon. Macam-macam," tuturnya dengan mata berbinar.

Sebagai mobile gamer, Evan memiliki dua ponsel. Satu untuk keperluan berkomunikasi, sementara satu ponsel lainnya khusus untuk mewadahi kegemarannya tersebut.

"Jadi, handphone ada dua. Yang satu buat kerjaan dan segala macam, yang ini khusus game. Ini 5.500 (kapasitas) baterainya, paling gede di antara semua handphone. Jadi, main game ini bisa seharian enggak habis-habis baterainya," ungkap Evan.

embed from external kumparan

Dalam smartphone dengan baterai berkapasitas besar miliknya itu, terdapat berbagai jenis mobile games lain. Selain Age of Wushu Dynasty, Evan juga senang main Candy Crush, Pokemon GO, Shadow of War, Legend of Nine Tails, Pet Monsters, Sammoners War, dan MARVEL Future Fight.

"Kalau seandainya enggak ada internet, enggak tahu mau ngapain, Candy Crush itu back up plan. Jadi, kalau internet mati atau lagi di hutan belantara, Candy Crush. Udah 400 levelnya," ujar Evan dengan nada riang.

"Pokemon Go, ada, udah kadang-kadang dimainin. Masih ada juga Sammoners War, itu sempat main full, intensif, selama satu tahun setengah, tapi sekarang udah jarang mainin," lanjutnya.

Selain untuk membunuh waktu di kala senggang, bermain mobile games juga membuahkan manfaat lain untuk Evan. Ia berhasil berkenalan dengan teman-teman baru dari kegemarannya tersebut.

"Kadang-kadang, kami tukaran Line, BBM, lalu bikin grup sendiri. Jadi, bertambah kan (teman)," ucapnya.

embed from external kumparan

Namun, Evan sendiri masih merasa malu untuk melakukan kopi darat dengan para mobile gamers yang berasal dari Indonesia. Namun, ia tak menutup kemungkinan untuk melakukan hal itu dengan para mobile gamers yang berasal dari luar negeri.

"Kopi darat, enggak. Takut gue. Sebenarnya ada keinginan. Kebetulan (mobile game) yang satu ini isinya (pemainnya) internasional, lebih ke South East Asia. Jadi, teman-teman yang ada di grup LINE ini cenderung dari Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia. Mungkin, ada kesempatan untuk ketemu," tutur Evan.

"Tapi, yang satunya lagi, (anggotanya) itu full Indonesian. Kalau mau ketemu, gue agak tengsin karena enggak ada yang tahu (identitas asli Evan). Ini gue pakai gambar karakter di foto WhatsApp atau di mana gitu. Jadi, enggak ada yang tahu itu gue," tandasnya diselingi tawa.