Ibrahim Risyad Ungkap Tantangan Perankan Pengepul Tembakau di Film Riba
ยทwaktu baca 3 menit

Aktor Ibrahim Risyad bermain dalam film Riba. Sebelumnya film tersebut diumumkan dengan judul Getih Anak.
Dalam film arahan sutradara Adhe Dharmastriya itu, Ibrahim Risyad berperan sebagai seorang pengepul tembakau yang berjuang mencari kebahagiaan bagi keluarganya.
Ibrahim mengaku sempat melakukan observasi langsung ke pabrik tembakau di Klaten, Jawa Tengah, untuk mendalami karakternya. Pabrik tersebut juga menjadi lokasi syuting film Riba.
"Kebetulan saat syuting di Klaten, kami sempat ada satu hari workshop ke gudang tembakaunya. Itu pertama kali aku ke gudang tembakau, ternyata sangat berbau berbeda ya," kata Ibrahim ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, belum lama ini.
Pengalaman tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Ibrahim Risyad. Apalagi aroma tembakau tercium begitu kuat di area tersebut.
Selain itu, Ibrahim juga berkesempatan untuk belajar memahami proses pembuatan tembakau hingga menjadi produk siap edar.
"Menghirup tembakau di dalam situ aja sudah cukup berat. Kami juga belajar gimana caranya membuat tembakau jadi sebuah produk. Lumayan banyak sih workshop-nya waktu itu," tuturnya.
Walaupun tak secara langsung mempraktikkan peracikan tembakau di dalam film, Ibrahim mengaku tetap mempelajari pengetahuan tersebut agar bisa berinteraksi secara natural dengan para pengepul asli.
"Waktu itu memang hanya pengetahuan umum yang harus aku pelajari karena waktunya singkat. Jadi supaya saat bertemu pengepul tembakau asli, aku bisa memahami konteksnya," ucap Ibrahim.
Ibrahim Risyad soal Pendalaman Karakter di Film Riba
Ibrahim menjelaskan bahwa proses pendalaman karakter berlangsung sekitar dua minggu sebelum proses syuting dimulai. Hal tersebut terbilang cukup bagi Ibrahim untuk bisa mendalami karakternya.
"Waktu itu kita persiapan kurang lebih hampir dua minggu, workshop-nya juga cukup intens," tutur Ibrahim.
Produser Titin Suryani menjelaskan bahwa Riba tidak hanya sekadar mengandalkan teror makhluk gaib atau jump scare. Menurut Titin, Riba juga akan menghadirkan ketakutan psikologis yang bersumber dari rasa bersalah akibat pemilihan keputusan fatal.
"Kami ingin penonton film Indonesia merasakan horor yang tidak hanya datang dari sosok makhluk gaib, tetapi juga dari dosa dan karma yang tak terhindarkan," ungkap Titin.
Film Riba diadaptasi dari kisah nyata di media sosial X melalui thread berjudul Getih Anak di akun @mitologue. Thread tersebut dibaca lebih dari 3,9 juta kali dan memperoleh lebih dari 20 ribu likes.
Pergantian judul dari Getih Anak menjadi Riba sendiri dinilai sebagai langkah strategis dari pihak produksi. Judul Getih Anak dianggap terlalu menekankan unsur horor eksplisit.
Sementara Riba lebih merepresentasikan pesan moral dan isu sosial yang diangkat dalam cerita. Film Riba dijadwalkan tayang di bioskop pada 4 Desember mendatang.
