Kumparan Logo

Jadi Pocong di Film Pendek "Holy Crowd", Prilly Latuconsina Sampai Migrain

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prilly Latuconsina saat di Konferensi Pers Next Step Studio di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Prilly Latuconsina saat di Konferensi Pers Next Step Studio di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Aktris Prilly Latuconsina berbagi pengalaman unik saat memerankan karakter pocong dalam film pendek Holy Crowd. Film tersebut merupakan bagian dari program Next Step Studio 2026 yang akan tayang di Critics’ Week Cannes 2026.

Dalam film garapan sutradara M. Reza Fahriyansyah dan Anath Subramaniam itu, Prilly memerankan karakter bernama Ratna, sosok pocong yang disebutnya bukan pocong biasa.

“Pas baca skenarionya ternyata ini bukan pocong biasa,” ujar Prilly Latuconsina saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan.

Meski terdengar menyeramkan, Prilly mengaku justru melihat sisi emosional dari karakter Ratna. Ia merasa kisah dalam film tersebut menggambarkan realita kehidupan sosial yang dekat dengan masyarakat.

“Karakter Ratna ini menggambarkan bahwa semua orang akan selalu mau mengambil sesuatu dari diri kita, tergantung kita bisa memberikan apa ke mereka,” kata Prilly.

Prilly Latuconsina (kedua kiri) saat di Konferensi Pers Next Step Studio di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Namun, di balik proses syutingnya, Prilly mengaku harus menghadapi tantangan tersendiri karena harus mengenakan kain kafan sepanjang pengambilan gambar.

“Setiap datang ke lokasi syuting dan harus pakai kain kafan itu berkesan banget,” ujarnya.

Ia bahkan mengaku sempat merinding dan overthinking selama memakai kostum tersebut.

“Setiap pakai kain kafan saya selalu bilang, ‘amit-amit jangan dulu ya Allah’. Terus suka mikir, kok tiba-tiba merinding ya,” lanjutnya sambil tertawa.

Prilly Latuconsina saat di Konferensi Pers Next Step Studio di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Tak hanya itu, keterbatasan gerak karena balutan kain kafan juga membuat proses akting menjadi lebih menantang. Prilly harus mendalami isi pikiran karakter Ratna lewat diskusi panjang bersama para sutradara.

“Lumayan susah karena harus pakai kain kafan terus. Jadi perlu diskusi panjang sebenarnya apa sih yang ada di pikiran Ratna ini,” terangnya.

Meski begitu, Prilly merasa pengalaman tersebut menjadi salah satu proses akting paling menarik yang pernah ia jalani.

Film pendek Holy Crowd akan segera tayang di Cannes Critics’ Week 2026. Terwujudnya panggung internasional tersebut juga merupakan bagian dari program inisiatif bernama Next Step Studio yang diharapkan dapat memberi panggung bagi para sineas muda Indonesia maupun Asia Tenggara agar karyanya semakin dikenal, bahkan hingga ke panggung luar negeri.

Keempat film pendek dari Next Step Studio yang akan tayang di Cannes meliputi Holy Crowd, Mothers Are Mothering karya Khozy Rizal (Indonesia) dan Lam Li Shuen (Singapura), Original Wound karya Shelby Kho (Indonesia) dan Sein Lyan Tun (Myanmar), serta Annisa karya Reza Rahadian (Indonesia) dan Sam Manacsa (Filipina).