kumparan
Entertainment8 November 2019 18:04

Jejak Karier Slipknot, Band Metal Bertopeng yang Akan Entak Jakarta

Konten Redaksi kumparan
POTRAIT, Slipknot
Slipknot. Foto: AFP/SEBASTIEN BOZON
Tak ada pencinta metal yang tak mengenal Slipknot. Topeng mengerikan, kostum jumpsuit seragam, dan aksi panggung yang liar selalu menjadi daya tarik tersendiri dari band tersebut.
ADVERTISEMENT
Tapi, seberapa kenal kalian, para headbangers, dengan band yang berdiri sejak 1996 itu? Tahukah kalian kalau masih ada satu personel yang belum diketahui identitasnya? Yuk, simak jejak karier Slipknot sejak dulu hingga kini.
Throwback Slipknot
Throwback Slipknot Foto: Sabryna Putri Muviola
  1. Visi sang badut
Slipknot di tahun 2016
Slipknot di tahun 2016 Foto: Facebook @slipknot
Di era '90-an, Des Moines di Iowa, AS, lebih terkenal sebagai kota agrikultur dan kurang familiar dengan industri kreatif seperti seni pertunjukan. Namun, skena musik heavy metal di kota tersebut sudah sangat hidup berkat band Atomic Opera yang dimotori oleh Jim Root dan Modifidious bentukan Joey Jordison.
Ada pula dua band unik yang sedang tumbuh di bar-bar kecil, yakni Heads on the Wall bentukan Shawn Crahan, dan Vexx, band death metal yang diperkuat oleh Anders Colsefni pada drum dan Paul Gray pada bas gitar. Empat band tersebut amat populer di Des Moines hingga akhirnya pada 1995, Crahan dan Gray membentuk band baru bernama Pale Ones bersama Colsefni pada vokal dan gitaris Donnie Steele.
ADVERTISEMENT
Pale Ones adalah cikal bakal dari Slipknot yang merupakan perwujudan dari visi Crahan membentuk band metal dengan banyak unsur perkusi. Karena itu, Crahan menggaet Jordison sebagai drummer dan ia pun beralih menjadi pemain perkusi. Jordison pulalah yang mengusulkan nama baru bagi Pale Ones, yakni Slipknot.
Pada 1996, Steele mengundurkan diri dan posisi gitar diambil alih oleh Mick Thompson. Sedangkan Jones yang pernah memperkuat Vexx bersama Gray bertugas sebagai sampler. Dari sini, lahirlah formasi pertama Slipknot, yakni Anders Colsefni (vokal), Paul Gray (bas gitar), Mick Thompson (gitar), Joey Jordison (drum), dan Shawn Crahan (perkusi), dan Craig Jones (sampler) yang menelurkan album 'Mate. Feed. Kill. Repeat' (1996).
Agar terlihat beda dari banyak band metal lain di Des Moines, Crahan mengajak para personel Slipknot untuk mengenakan topeng. Crahan mulai dikenal sebagai The Clown berkat topeng badut yang dikenakan. Thompson menggunakan topeng hockey, Gray menggunakan topeng babi, Jordison meminjam topeng putih plastik milik seorang kerabat, Jones mengenakan helm yang telah ditusuk-tusuk dengan paku berkarat, sedangkan Colsefni memplester tubuh dan wajahnya dengan perekat hitam.
ADVERTISEMENT
  1. Ozzfest 1999
Nyatanya, album 'Mate. Feed. Kill. Repeat' kurang laku di pasaran. Visi sang badut, Shawn Crahan, belum berhasil menemukan titik terang. Ia pun kembali merombak formasi dan mulai mengajak serta Corey Taylor dari band Stone Sour sebagai vokalis. Corey disebut memiliki suara yang lebih merdu ketimbang Colsefni.
Pada 1998, Crahan menggaet pemain perkusi tambahan, Chris Fehn, dan seorang bocah remaja yang mahir memainkan turntable, DJ Sid Wilson. Formasi ini membuat musik Slipknot terdengar unik dan beragam.
Hal itu membuat sebuah perusahaan rekaman kecil, Roadrunner Records, tertarik untuk meminang Slipknot. Mereka pun langsung tancap gas membuat album self-titled Slipknot bersama satu personel tambahan, Jim Root eks Atomic Opera pada gitar.
ADVERTISEMENT
Album tersebut rampung pada 1999 dan Slipknot pun berkesempatan untuk menjadi opening act di Ozzfest. Di festival besar inilah, Slipknot unjuk gigi. Meski tampil di siang hari yang amat terik, semua personel Slipknot tetap menggunakan jumpsuit dan topeng.
Hasilnya? Semua orang tersentak dengan penampilan nyentrik Slipknot. Mereka pun mulai kebanjiran fans seiring dengan sertifikasi platinum album self-titled 'Slipknot' pada 2000.
  1. 'Vol. 3 (The Subliminal Verses)' dan Grammy pertama
Album ketiga Slipknot yang bertajuk 'Iowa' rilis pada 2001. Album tersebut menjadi populer berkat single 'Left Behind' dan 'My Plague' yang menjadi soundtrack film 'Resident Evil'.
Sebenarnya, popularitas Slipknot di masa ini belum menurun. Namun, semua personel sepertinya jenuh dan mulai jarang bertemu untuk latihan atau sekadar berbincang. Corey Taylor dan Jim Root melangsungkan tur bersama Stone Sour, Crahan membentuk To My Surprise, Jordinson mendirikan Murderdolls, sementara Sid Wilson aktif di berbagai kelab malam sebagai DJ Starscream.
ADVERTISEMENT
Tidak mau Slipknot bubar, Paul Gray mulai coba menghubungi dan menyambangi kediaman para personel. Perlu dua tahun hingga akhirnya semua berkumpul dan menggarap album 'Vol. 3: (The Subliminal Verses)' yang rilis pada 2004. Secara mengejutkan, album tersebut bertengger di posisi dua tangga lagu Billboard AS.
Slipknot pun berhasil memenangkan kategori 'Best Metal Performance' di Grammy Awards 2005. Mereka pun menjadi band pertama dari Des Moines yang berhasil mendobrak industri dan memenangkan sebuah penghargaan bergengsi.
  1. Kematian Paul Gray
Setelah 'Iowa', album 'All Hope is Gone' rampung dan rilis pada 2008. Album ini tergolong sukses dan mendapat popularitas yang luar biasa di berbagai negara selain Amerika Serikat. Semua berkat lagu-lagu seperti 'All Hope Is Gone, 'Psychosocial, 'Dead Memories', 'Sulfur', dan 'Snuff'. Slipknot terus melakukan tur hingga 2009 dan kembali vakum menelurkan karya setelah itu.
ADVERTISEMENT
Di masa ini, para personel kembali menjalankan band side project masing-masing, termasuk Paul Gray yang menjadi pemain bas dari band Hail!. Beberapa saat jelang tur bersama Hail!, Gray ditemukan tewas karena overdosis narkoba.
Kematian Gray menyiksa para personel, khususnya Crahan dan Jordison yang membentuk Pale Ones hingga akhirnya besar menjadi Slipknot. Kala mengumumkan kematian Gray, para personel Slipknot untuk pertama kalinya menggelar konferensi pers tanpa menggunakan topeng.
Slipknot hampir bubar karena kehilangan arah tanpa kehadiran Gray. Hingga akhirnya, pada 2011, Crahan merasa Slipknot harus terus berjalan guna meneruskan perjuangan Gray.
Slipknot pun sempat tampil di beberapa festival besar sambil terus membawa jumpsuit dan topeng Gray ke atas panggung. Eks-gitaris, Donnie Steele, bermain bas gitar selama Slipknot manggung, namun memang ia tidak muncul di atas panggung.
ADVERTISEMENT
Pada 2011, Corey Taylor menyatakan bahwa Slipknot siap untuk membuat album baru. Namun, sebelum album tersebut dirilis, Slipknot terlebih dahulu menggelar Knotfest bersama banyak band besar, seperti Deftones, Lamb of God, dan Serj Tankian.
  1. Pemecatan Joey Jordison
Ketika album baru mulai digarap, justru muncul kabar lain yang menyedihkan hati para Maggots, sebutan untuk fans Slipknot. Beberapa saat setelah Knotfest pertama rampung, Joey Jordison dipecat secara sepihak oleh Slipknot.
Kala itu, banyak fans yang kesal pada Shawn Crahan, sang motor penggerak Slipknot. Namun, pada 2016, diketahui bahwa Jordison memang mengidap penyakit syaraf Transverse Myelitis yang membuatnya tidak bisa lagi memainkan musik-musik ekstrem dari Slipknot.
Pada 2014, single baru bertajuk 'The Negative One' dan 'The Devil In I' dirilis sebagai awalan dari album '5: The Gray Chapter'. Di album ini pula, Slipknot memperkenalkan dua tour member baru yang kala itu masih dirahasiakan identitasnya.
ADVERTISEMENT
  1. Kehadiran V-Man dan Jay Weinberg
Melihat ada dua member baru, para Maggots terus berupaya untuk menguak identitas mereka. Melalui tato di lengan, Maggots pun mengetahui bahwa pemain bas yang menggantikan Paul Gray adalah V-Man, gitaris band Krokodil dan teknisi gitar band Mastodon.
Setelah sekian lama menebak-nebak, Maggots akhirnya mengetahui bahwa Jay Weinberg adalah drummer baru yang menggantikan Joey Jordison. Weinberg sebelumnya adalah drummer yang pernah memperkuat raksasa hardcore Amerika Serikat, Madball, dan band punk rock eksentrik, Against Me!.
Tanpa Gray dan Jordison, Slipknot tetap menjadi nominasi di Grammy Award 2015. Hal ini membuktikan bahwa V-Man dan Weinberg mampu melakukan tugasnya dengan baik.
Meski begitu, mereka tetap tidak mendapat topeng resmi sampai album 'We Are Not You Kind' rilis tahun ini. Selama mempromosikan album '5: The Gray Chapter', nama mereka bahkan sama sekali tidak pernah disebut dan hanya mengenakan topeng serupa karung goni.
ADVERTISEMENT
  1. Chris Fehn dipecat, TortillaMan bawa misteri baru
Akhir 2018, Slipknot merilis single 'All Out Life'. Uniknya, tidak ada personel Slipknot yang muncul di video klip single tersebut. Padahal, video klip biasanya menjadi ajang bagi Slipknot untuk memamerkan topeng baru untuk album yang baru.
Lagi-lagi, seorang personel hengkang dari band pada Maret 2019, jelang perilisan album baru. Ia adalah Chris Fehn, sang pemain perkusi yang terkenal dengan topeng hidung panjangnya. Pada Mei 2019, Fehn benar-benar sudah tidak menjadi anggota Slipknot dan digantikan oleh member baru yang mengenakan topeng aneh serupa tortila.
Kabarnya, Fehn cabut dari band karena gajinya ditahan oleh Corey Taylor dan Shawn Crahan.
Album 'We Are Not Your Kind' pada akhirnya rilis beberapa saat setelah single 'Unsainted' yang memperlihatkan seperti apa topeng tiga member terbaru, yakni V-Man, Weinberg, dan pemain perkusi baru yang biasa dipanggil Tortilla-Man.
ADVERTISEMENT
Tahun depan, tepatnya Maret 2020, Slipknot akan datang ke Indonesia untuk pertama kalinya di festival musik metal terbesar di Asia, Pasifik Hammersonic.
Jadi, siapkan diri kalian untuk menonton band paling fenomenal dan unik dari Des Moines, Iowa. Jangan lupa untuk mencari tahu siapa sebenarnya Tortilla-Man!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan