Kumparan Logo

Joko Anwar dan Jabat Tangan Belasan Miliar Rupiah yang Ia Tolak

kumparanHITSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sutradara Joko Anwar (Foto: Adhie Ichsan)
zoom-in-whitePerbesar
Sutradara Joko Anwar (Foto: Adhie Ichsan)

“Banyak investor yang datang nawarin duit, terpaksa saya tolak,” kata Joko Anwar.

Hari-hari ketika Joko Anwar mencari investor untuk mendanai filmnya mungkin sudah berlalu. Sebagai salah satu sutradara paling bersinar saat ini, Joko semakin banyak diajak kerjasama untuk membuat film. Apalagi setelah membawa ‘Pengabdi Setan’ (2017) mendunia dan ditonton lebih dari 4,2 juta penonton di negara sendiri.

Prestasi ‘Pengabdi Setan’ yang diukir Joko bersama Rapi Film seolah mengukuhkan bahwa filmmaker kelahiran Medan itu tak hanya memiliki ide cerita dan gaya bertutur visual yang inovatif, tapi juga terbukti laku di pasaran, karena bagaimanapun, film adalah entitas bisnis.

Joko, yang dulunya bekerja sebagai wartawan, mendapat pengakuan kritikus dalam dan luar negeri film sejak belasan tahun lalu lewat ‘Kala’, ‘Janji Joni’, hingga ‘Pintu Terlarang’. Dia melangkah semakin lebih jauh dengan sejumlah proyek kolaborasi dengan pihak-pihak yang bisa membawa karyanya bertemu penonton lebih luas. Mulai dari HBO Asia ('Halfworlds', 'Folklore'), hingga dengan perusahaan hiburan asal Korea Selatan, CJ Entertainment.

instagram embed

Bagi Joko, memilih rekan bisnis seperti memilih pasangan hidup yang harus mempertimbangkan banyak variabel, tak sekadar memiliki kemapanan finansial. Sumber daya untuk penunjang bujet produksinya hanyalah faktor kesekian.

“Jadi pernah ada investor, besoknya dia harus pergi ke LA (Los Angeles). Sebelum itu dia ketemu saya, ‘Joko, salaman dulu sama saya’. Deal dulu…’ Saya enggak mau. Bahkan dia pun enggak baca skenario saya. Saya enggak mau kalau dia beli kucing dalam karung,” katanya kepada kumparan dan beberapa jurnalis lain yang diundang makan siang di sebuah restoran di kawasan SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa (18/9).

Saat ditanya nominal terbesar yang pernah ia tolak, Joko menjawab, “Standar produksi film di Indonesia sekitar Rp 3 miliar sampai Rp 5 miliar, dikali tiga aja,” katanya.

Adegan serial Folklore (Foto: HBO Asia)
zoom-in-whitePerbesar
Adegan serial Folklore (Foto: HBO Asia)

Joko memilih rekan bisnis yang memiliki kesamaan visi, pengalaman dan tahu betul bagaimana bisnis film berjalan. Baik dari segi tantangan produksi, promosi dan distribusi.

“Jadi bukan sekadar hitung-hitungan uang,” tambah Tia Hasibuan, Produser dari Logika Fantasi, rumah produksi yang juga didirikan Joko sejak 2011.

“Jadi terkadang malah kita wawancarai dulu investornya. ‘Apa alasan Anda mau bikin film?’” lanjut Joko yang saat ini sedang menggarap film superhero ‘Gundala’.

Setelah menyelesaikan film ‘Gundala’ tahun ini, Joko sudah ditunggu tiga proyek film dalam tiga tahun mendatang; ‘Impetigore’, ‘Ghost in the Cell’ dan ‘The Vow’.

Rangkaian tiga film (slate) itu akan dikerjakan Joko bersama Ivanhoe Pictures dari Los Angeles yang memproduksi ‘Crazy Rich Asians’, CJ Entertainment dari Korea Selatan, Rapi Films yang memproduksi ‘Pengabdi Setan’ dan BASE Entertainment, studio film baru yang merupakan gabungan dari tiga perusahaan film; Salto Films yang didirikan Shanty Harmayn (Produser 'Garuda Di Dadaku', 'Sang Penari'), Million Pictures yang memproduksi ‘Negeri 5 Menara’ dan Kawi Content yang berbasis di Singapura.

Joko Anwar bersama tim dari Base Entertainment dan Rapi Films (Foto: Adhie Ichsan)
zoom-in-whitePerbesar
Joko Anwar bersama tim dari Base Entertainment dan Rapi Films (Foto: Adhie Ichsan)

Joko masih belum mau bicara banyak soal detail produksi. Tetapi untuk proyek pertamanya, ‘Impetigore’, akan mulai pengambilan gambar Februari 2019 dan rilis di tahun yang sama. Film horor ini baru akan casting pemain di akhir tahun. Semua film akan ditulis skenarionya sendiri oleh Joko.

“Saya bertemu Joko dan bicara rencana produksi bersama ini sejak awal 2017, sebelum ‘Pengabdi Setan’ dirilis,” kata Shanty, yang beberapa tahun terakhir tinggal di Beijing, China.

Cerita yang dibuat Joko Anwar dirasa memiliki potensi dinikmati penonton global. “Joko adalah filmmaker yang berbakat dan berkualitas,” ujar Tanya Yuson, Partner and Chief of Creative Development Base Entertainmen. Tanya pernah bekerja di divisi pengembangan untuk studio film seperti New Line Cinema dan The Walt Disney Company di New York dan Los Angeles selama belasan tahun, sehingga dia memiliki standar cukup tinggi dalam menilai sebuah karya.

Selain kerasama tiga film dengan Joko Anwar, awal tahun ini BASE Entertainment juga telah berpartipisasi dalam pendanaan film anak-anak 'Kulari Ke Pantai' (2018) karya Mira Lesmana dan Riri Riza. BASE juga akan melakukan co-production dengan New Amsterdam Film Company dalam film war thriller berjudul ‘The East Indies’ karya sutradara Belanda, Jim Taihuttu (rilis 2020) dan sedang mengembangkan cerita adaptasi novel grafis terkenal di Filipina berjudul ‘Trese’ karya Budjette Tan dan Kajo Baldisimo.

Hingga 2020, BASE Entertainment berencana membuat 15 sampai 20 judul untuk layar lebar maupun serial.