Joko Anwar Tanggapi Kontroversi Film Horor Indonesia Dinilai Eksploitasi Agama

30 Maret 2024 14:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Joko Anwar saat ditemui di kantor Come And See Pictures di Kemang, Jakarta Selatan, Senin (4/3/2024). Foto: Vincentius Mario/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Joko Anwar saat ditemui di kantor Come And See Pictures di Kemang, Jakarta Selatan, Senin (4/3/2024). Foto: Vincentius Mario/kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Sutradara film horor, Joko Anwar, ikut buka suara terkait badai protes penonton Indonesia mengenai film horor. Salah satunya, masyarakat menilai film horor kini memanfaatkan agama Islam dan perangkat sucinya demi kepentingan komersil.
ADVERTISEMENT
Menurut Jokan, sapaan akrabnya, film Indonesia rasa-rasanya sulit apabila tidak mengikutsertakan unsur agama.
"Karena agama adalah sesuatu yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Kalau dihilangkan sama sekali, ya enggak realistis. Seolah enggak ada agama di kehidupan sehari-hari kita," kata Joko Anwar dihubungi kumparan, Selasa (26/3).
Konferensi pers official poster film Siksa Kubur di Epicentrum, Jakarta, Rabu, (28/2/2024). Foto: Agus Apriyanto
Meski begitu, Joko Anwar berpendapat bahwa menggunakan agama sebagai bahan eksploitasi adalah hal yang tidak benar.
"Ya, tidak baik tentunya menggunakan unsur agama sebagai bahan eksploitasi, sekadar dimanfaatkan untuk menciptakan adegan ngeri, misalnya dalam film horor, atau adegan lain di genre lain. Kalau yang ingin dikatakan dalam film horor yang mengandung unsur agama baik, ya ini kan juga bisa jadi syiar," jelasnya.

Kritik Terhadap Filmmaker

Menurut Jokan, filmmaker seharusnya bisa lebih sadar dan lebih memperdalam riset saat menyajikan unsur agama ke dalam film.
ADVERTISEMENT
"Jika ada film yang memasukkan unsur agama, harus diperlakukan dengan hormat. Apalagi agama adalah sesuatu yang dijunjung tinggi masyarakat kita. Harus selalu ditimbang apakah menyinggung masyarakat atau tidak. Harus benar yang coba dikatakan lewat tiap adegan," ucap Jokan.
Joko Anwar Foto: Munady/kumparan
Joko Anwar mengangkat salah satu contoh filmnya, Pengabdi Setan.
"Misalnya, dalam film saya Pengabdi Setan juga ada adegan salat yang diganggu makhluk astral. Tapi jelas pesannya: dia diganggu karena tujuan dia salat karena takut setan, bukan untuk berserah diri kepada Allah," tutur Jokan.
"Pesannya: Salatlah karena niat tulus kepada Allah. Bukan karena takut setan," tutupnya.