JUMBO Sukses Besar, Jadi Tolok Ukur Baru Film Animasi Indonesia
·waktu baca 2 menit

Kesuksesan JUMBO akan berdampak untuk perkembangan film animasi di Indonesia. JUMBO telah memperoleh 9.777.989 penonton usai 49 hari tayang di bioskop.
Dosen Program Studi Film Universitas Bina Nusantara, Ekky Imanjaya mengatakan JUMBO bisa menjadi tolok ukur bagi filmmaker yang ingin menggarap film animasi. “JUMBO menjadi sebuah benchmarking,” kata Ekky kepada kumparan, belum lama ini.
Ekky menambahkan, kesuksesan film JUMBO juga berdampak pada investor. Mereka menjadi lebih berani untuk berinvestasi dalam sebuah project film animasi. “Filmmaker dan investor akan melihat, ‘Oh ternyata film animasi laku ya’,” tutur Ekky.
JUMBO Jadi Pendobrak Kemunculan Film Animasi Indonesia Lainnya
Sebelum JUMBO, sudah ada beberapa film animasi Indonesia yang dirilis. Misalnya saja Si Juki, Nussa, Battle of Surabaya, dan Riki Rhino.
Namun, menurut Ekky, film JUMBO bisa menjadi pendobrak untuk kemunculan film animasi Indonesia lainnya mengingat kesuksesannya meraup jutaan penonton.
“Kalau kata Efek Rumah Kaca: Pasar bisa diciptakan. Ketika JUMBO berhasil, laku dari segi komersial, maka (pembuat) film akan lihat, ‘Oh bagus’. Mereka akan berlomba-lomba (membuat film animasi),” ucap Ekky.
Meski begitu, menurut Ekky, para filmmaker tetap harus memperhatikan kualitas saat berencana untuk membuat film animasi. “Mereka harus lihat, JUMBO perjalanan 5 tahun, enggak instan,” ujarnya.
Film Animasi Indonesia Penuh Potensi
Sementara itu, Produser Eksekutif film JUMBO yang juga CEO Visinema Pictures, Angga Dwimas Sasongko, mengungkapkan bahwa film animasi Indonesia penuh potensi. Namun, masih perlu banyak kerja kolektif.
“Bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal ekosistem: Bagaimana talenta bisa berkembang, bagaimana cerita bisa dibangun dari budaya kita, dan bagaimana kolaborasi dengan brand, distribusi, sampai licensing bisa lebih terstruktur,” kata Angga saat dihubungi terpisah oleh kumparan.
Karena itu, Angga berharap kesuksesan film JUMBO bisa berdampak pada perkembangan film animasi Indonesia. Namun, bukan sebagai “standar yang membatasi”, melainkan menjadi pembuka jalan.
“JUMBO menunjukkan bahwa penonton siap, bahwa pasar ada. Sekarang tantangannya adalah bagaimana kita bisa memperbanyak variasi cerita, gaya visual, dan model produksi, tanpa kehilangan kualitas dan integritas narasi,” ucap Angga.
