Kumparan Logo

Kamila Andini Satu-satunya Filmmaker Asia yang Raih Penghargaan Women In Cinema

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kamila Andini. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kamila Andini. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Sineas Indonesia Kamila Andini terpilih sebagai satu-satunya filmmaker Asia dalam program Women in Cinema Spotlight yang diselenggarakan oleh Red Sea Film Foundation di Festival Film Cannes 2026.

Program ini merupakan salah satu inisiatif paling bergengsi di dunia perfilman internasional, yang dirancang untuk memperkuat suara perempuan pembuat film dari kawasan Arab, Afrika, dan Asia di panggung global.

Kamila Andini menjadi sineas pertama dari Asia Tenggara yang disorot dalam Women in Cinema Spotlight.

Kamila Andini Foto: Munady

Kamila Andini soal Penghargaan Women in Cinema

Red Sea Film Foundation merupakan lembaga nirlaba internasional yang berbasis di Jeddah, Arab Saudi, dengan misi mendukung perkembangan sinema dari kawasan Arab, Afrika, dan Asia.

Program Women in Cinema yang mereka gelar setiap tahun di Cannes telah menarik perhatian media global.

Kamila mengatakan penghargaan yang diterimanya merupakan milik seluruh sineas perempuan Indonesia.

"Penghargaan ini bukan hanya milik saya. Ini milik seluruh sineas perempuan Indonesia yang telah berjuang untuk bercerita dengan jujur dan berani,” kata Kamila dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan, Sabtu (16/5).

Kamila berharap kehadirannya dalam program Women in Cinema Spotlight bisa membuka lebih banyak pintu bagi sineas perempuan Indonesia lainnya.

instagram embed

Di Cannes, Kamila juga memperkenalkan film terbarunya, Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java), yang diproduseri oleh Ifa Isfansyah.

Produksi Empat Musim Pertiwi melibatkan tujuh negara yakni Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Singapura dan Saudi Arabia.

Empat Musim Pertiwi yang dibintangi oleh Putri Marino, Arya Saloka, dan Christine Hakim menceritakan tentang perempuan, kehilangan, dan cara manusia bertahan dalam perubahan musim hidupnya.

Kamila telah menghasilkan beberapa film seperti The Seen and Unseen (2017) dan Before, Now & Then (Nana) (2022).

"Dini bukan sekadar sutradara berbakat, ia adalah sineas yang terus bertumbuh dan tidak pernah berhenti mencari. Kehadirannya di program Red Sea Film Foundation di Cannes adalah bukti bahwa sinema Indonesia sudah berada di tempat yang semestinya: di tengah percakapan film dunia,” kata produser Forka Films, Ifa Isfansyah.