Keluarga Tuntut Dokter yang Tangani Prince Semasa Hidup

Baru-baru ini, kakak dan adik mendiang penyanyi Prince menuntut dokter yang membuat resep obat penghilang rasa sakit pada sang bintang semasa hidup. Dokter bernama Michael Schulenberg itu disebut ikut bertanggung jawab atas kematian pelantun 'Purple Rain' tersebut.
Dilansir Ace Showbiz, dalam gugatan baru yang diajukan ke Pengadilan Distrik Hennepin Minnesota, Amerika Serikat, beberapa anggota keluarga Prince mengklaim Schulenberg gagal mengobati penyanyi bernama asli Prince Rogers Nelson itu semasa hidupnya.
"Dia gagal mengevaluasi, mendiagnosa, mengobati, dan menasihati Prince dengan tepat atas kecanduan opioidnya, dan dia gagal mengambil langkah yang tepat dan masuk akal untuk mencegah akibat yang sangat fatal dari kecanduan itu," bunyi gugatan tersebut.
Sebelumnya, Schulenberg membantah pernyataan penyidik bahwa dirinya memberikan oxycodone kepada Prince di bawah nama Kirk Johnson, asisten Prince yang pada awalnya dikira sebagai teman dekatnya, untuk melindungi privasi sang penyanyi.
Sementara itu, Johnson mengatakan dia tidak sadar Prince memiliki kecanduan opioid sampai dia pingsan di pesawat seminggu sebelum dia meninggal. Sejak itu, terungkap bahwa musisi kelahiran 7 Juni 1958 itu telah mengonsumsi obat penghilang rasa sakit selama bertahun-tahun untuk meredakan penyakit pinggulnya.
Tak lama setelah kabar tersebut beredar, pengacara Schulenberg membantah tuduhan keluarga Prince. Dia berpendapat bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar dan tak ada gunanya.

Tak hanya itu, keluarga penyanyi lagu 'Raspberry Beret' itu juga mengklaim bahwa Schulenberg adalah salah satu orang yang mendiagnosa kecanduan Prince terhadap narkoba beberapa minggu sebelum kepergiannya. Schulenberg juga memegang peranan penting sebagai dokter yang dipercaya mampu menghentikan kecanduan Prince.
Menurut laporan Billboard, gugatan kakak dan adik Prince terhadap Schulenberg mencapai USD 50 ribu atau setara dengan Rp 731 juta. Nilai tersebut didasari atas kepergian Prince untuk selama-lamanya karena overdosis.

Sehari sebelum kematiannya, sosok Prince tertangkap kamera sedang mengunjungi klinik Schulenberg bersama Kirk Johnson. Selama berada di klinik, Prince dikabarkan merasa gelisah dan mempertanyakan apakah dirinya menderita efek samping karena dia telah berhenti mengonsumsi obat penghilang rasa sakit jenis tylenol pada hari itu.
Prince meninggal di kediamannya pada 21 April 2016 di usia 57 tahun. Ia terbukti mengkonsumsi fentanyl, obat yang dampaknya jauh lebih besar daripada morfin, dalam jumlah banyak. Penyelidik mengatakan bahwa ia tidak dibunuh, melainkan kekeliruan Prince yang tidak sadar akan dosis yang dikonsumsinya.
