Kumparan Logo

Kritik Nominasi FFI, Arie Kriting: Kriteria Apa yang Tidak Dipenuhi Irma Rihi

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemeran film The Big 4 Arie Kriting berpose saat peluncuran perdana film di Metropole XXI, Jakarta, Kamis (15/12/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemeran film The Big 4 Arie Kriting berpose saat peluncuran perdana film di Metropole XXI, Jakarta, Kamis (15/12/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Arie Kriting menyampaikan kegelisahannya terkait nominasi FFI 2026. Arie mengaku heran karena aktris pemeran Mak dalam film Na Willa, Irma Rihi, tak muncul dalam deretan nominasi tersebut.

Padahal, Arie Kriting menilai bahwa Irma Rihi layak buat masuk nominasi. Menurut Arie, ini jadi kali kedua Irma dikesampingkan oleh FFI.

Sebelumnya, Irma tampil apik di film Perempuan Berkelamin Darah. Namun debut mengagumkannya di film arahan Jeremian Nyangoen itu tak membuatnya lolos nominasi FFI.

Para pemeran film Na Willa memberi tanggapan saat konferensi pers di Cikini, Jakarta Pusat, pada Rabu (12/11/2025). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Ketika dihubungi kumparan, Arie mengungkapkan alasannya menyampaikan kegelisahannya di media sosial. Arie mengaku penasaran dengan kriteria penilaian para juri yang membuat Irma tak lolos nominasi.

"Kalau saya sih penasaran saja, cuma ingin tahu saja, kriteria apa yang tidak dipenuhi sama Irma Rihi sampai dua kali dikesampingkan sama FFI," tutur Arie kepada kumparan.

Irma Rihi dari film Women From Rote Island. Foto: Dok. GoodWork Indonesia

Lewat kritikannya Arie berharap FFI dan pihak terkait dapat memberikan penjelasan soal perspektif kedaerahan.

"Kalau saya sebenarnya lebih ingin ada update lagi dari semua yang terkait dengan FFI mengenai perspektif kedaerahan," tuturnya.

Dengan begitu, Arie berharap agar ke depan kriteria nominasi FFI dapat dilihat dari perspektif yang lebih luas. "Sehingga film yang disajikan itu tidak hanya dinilai berdasarkan selera dan pemahaman orang Jakarta saja, tetapi juga memperhatikan pertimbangan lainnya yang hadir dari daerah," tandasnya.