Mel Ahyar Terjemahkan Budaya Dayak Ngaju lewat Kostum Karungut Symphony

Sebuah kostum panggung tidak selalu hanya berfungsi sebagai busana. Lewat desain Karungut Symphony untuk Pagelaran Sabang Merauke 2026, Mel Ahyar mencoba menerjemahkan cerita tentang tradisi dan alam Kalimantan ke dalam bentuk yang lebih kontemporer.
Inspirasi kostum tersebut berangkat dari kehidupan masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan, salah satunya Upak Nyamu, busana tradisional yang dibuat dari kulit kayu.
Namun, Mel tidak serta-merta memindahkan bentuk Upak Nyamu ke atas panggung. Ia mengambil karakter dan siluetnya, kemudian mengolahnya kembali agar sesuai dengan kebutuhan pertunjukan sekaligus tetap memiliki keterkaitan dengan akar budayanya.
Secara visual, Karungut Symphony tampil dengan bentuk yang tegas. Susunan manik-manik dan detail menyerupai bulu di bagian bahu menjadi sejumlah elemen yang langsung menarik perhatian.
Menariknya, material yang digunakan juga dipilih dengan mempertimbangkan bagaimana kostum tersebut akan terlihat ketika berada di atas panggung.
Salah satunya adalah material menyerupai mika yang digunakan untuk menangkap cahaya. Ketika penampil bergerak, permukaan material tersebut akan memantulkan cahaya sehingga kostum tampak lebih hidup.
Dengan demikian, desain busana tidak hanya dipikirkan untuk terlihat menarik ketika penampil berdiri diam. Mel dan tim juga memperhitungkan gerakan, tata cahaya, serta suasana pertunjukan.
Elemen lain yang digunakan adalah manik-manik kayu. Selain memberikan tekstur, material tersebut juga membantu memperkuat karakter kostum ketika dilihat dari jarak jauh.
Bagi Mel, berbagai detail tersebut bukan sekadar ornamen. Setiap elemen dipilih untuk membawa cerita dan menyatu dengan musik serta visual yang hadir dalam Karungut Symphony.
Gunakan Replika Bulu Enggang
Salah satu tantangan terbesar dalam proses pembuatan kostum justru hadir dari elemen burung enggang.
Burung enggang menjadi salah satu referensi penting dalam konsep busana. Namun, karena enggang merupakan satwa yang dilindungi, bulu aslinya tidak dapat digunakan secara sembarangan.
Mel dan tim kemudian mencari material replika yang dapat menghadirkan karakter visual serupa.
Tantangannya bukan hanya menemukan material yang menyerupai bulu enggang. Material tersebut juga harus mampu menyatu dengan keseluruhan karakter busana dan tetap terlihat kuat ketika digunakan dalam pertunjukan berskala besar.
Proses tersebut menunjukkan bahwa menerjemahkan unsur budaya ke dalam fashion tidak hanya berkaitan dengan estetika. Ada pula pertimbangan mengenai material, fungsi, konteks, hingga bagaimana identitas budaya dapat ditampilkan secara bertanggung jawab.
Mel berharap penonton nantinya tidak hanya melihat Karungut Symphony sebagai sebuah kostum panggung.
Ia ingin detail-detail di dalamnya ikut dinikmati, mulai dari pantulan cahaya pada material menyerupai mika, susunan manik-manik kayu, hingga interpretasi bentuk burung enggang.
Ketika dikenakan dalam pertunjukan, kostum tersebut nantinya akan berpadu dengan nyanyian Yuyun, pencahayaan, tata panggung, dan visual art.
Dengan begitu, busana tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari cara Karungut Symphony menyampaikan ceritanya.
Melalui karya tersebut, Mel Ahyar memperlihatkan bagaimana unsur tradisi dapat diterjemahkan ke dalam bahasa desain yang lebih modern. Bentuk dan material boleh mengalami perubahan, tetapi karakter serta cerita yang menjadi sumber inspirasinya tetap menjadi bagian penting dari karya.
